Serial The JAHat Stories - 83. Definisi Bahagia
Penulis : Uniessy
Dipublikasikan : 2020, 23 Maret
-::-
Bergaya di depan kantor pos, Hamzah dan Alif tampaknya tak terganggu dengan terik matahari yang menyinari kawasan Titik Nol Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Hanifa dengan senang hati membantu kakak lelakinya ini berfoto ria seperti orang-orang lain di sekitar mereka.
"Gini, Lif..."
Hamzah jongkok lalu bergaya keren tanpa melihat kamera. Tak mau kalah, karena ini kan di depan Hanifa, Alif berjongkok dan meregangkan kaki. Kepalanya sedikit mendongak.
"Satu, dua," ucap Hanifa dengan fokus pada layar ponsel Hamzah, "tiga. Oke..."
Hanifa memerhatikan layar ponsel, kemudian menyerahkan ponsel tersebut kepada Hamzah untuk dicek hasil fotonya. Alif mendekat dan sungguh sangat berharap dia bisa foto berdua Hanifa. Tapi ngga berani, huhu. Takut dimarahin Hamzah. Tapi lebih dari itu, dia takut ditolak Hanifa.
"Han!" panggilan satu suara membuat ketiganya menoleh.
Ada Johnny yang duduk di jok pengayuh becak, kepalanya dilindungi oleh topi lebar yang dia baru beli beberapa saat mengayuh becak di dekat masjid tadi. Zahra dan Zeyara yang dikursi penumpang bergegas turun dan menghampiri Hamzah.
"Mau naek becak ngga?" tanya Johnny pada Hanifa. Johnny melipir sebentar tanpa turun, karena ngga boleh parkir sembarangan.
Alif melirik Hanifa dengan was-was. Kalau Hanifa mau, dia akan dengan semangat untuk ikut duduk di kursi penumpang juga!
Hanifa menggeleng. "Ngga, Mas. Panas... Kasihan Mas Johnny bajunya udah lepek tuh..."
Tapi Johnny tertawa. "Ngga apa-apa, sekalian ini mumpung nyewa. Hayoklaaah."
"Udahan, John. Mau makan siang neh," ucap Hamzah kemudian.
Johnny tertawa. "Ya udah, gue balikin becaknya dulu yak!" katanya.
Hamzah mengangguk. Alif bernapas lega. Ngeri banget dia kalau Hanifa dialusin Johnny pas dibonceng becak. Huft.
"Seru banget tauk, Uuun!" kata Zahra, heboh. "Kita dibawa Mas Johnny keliling-keliling dong!"
"Iya, Un, dijajanin es krim juga!" kata Zeyara, tak kalah bahagia.
"Mana?" tanya Hamzah. "Mana es krimnya?"
"Ya udah abislah, Mas!" jawab Zahra. "Panas gini, lumer..."
"Ck, biasaan ya," Hamzah menyentil kening si kecil Zahra. Membuat Zahra mengaduh pelan.
Johnny tiba tak berapa lama. Kaosnya masih basah oleh keringat. Totebag berisi air minum terbawa oleh tangan kirinya. Tinggal sebotol, karena yang sebotol sudah habis selama perjalanan tadi. Capek juga narik becak.
"Eh, katanya mau makan? Yok lah," ajaknya pada yang lain.
"Ya ampun, mandi keringet lu, Jooohn?" tanya Alif sambil geleng-geleng kepala.
"Tetep ganteng, elah," balas Johnny, rautnya bahagia.
Definisi bahagia Johnny adalah having fun kayak tadi itu.
"Santuy, kaga bau ini!" Johnny mencium lengannya bergantian. Dia lalu melirik Hanifa yang mengeluarkan sesuatu dari kresek yang sejak tadi dibawa.
"Ini, buat Mas Johnny," Hanifa memberikan sandal warna hitam merah pada Johnny, "ini buat Zahra," ucapnya begitu mengeluarkan sandal pink ukuran Zahra. Terakhir, dia menyurungkan sandal hijau ungu pada Zeyara. "Ini buat Mas Zey..."
KAMU SEDANG MEMBACA
The JAHat Stories
HumorKisah Trio JAHat; Johnny Alif Hamzah always together... yang TANPA FAEDAH. Minat nyimak? Buang waktu ae lau! Ngga ada faedahnya, tjuy!
