84. Melawan Trauma

837 147 41
                                        

Serial The JAHat Stories – 84. Melawan Trauma

Penulis : Uniessy

Dipublikasikan : 2020, 24 Maret

-::-

"Tante terima kasih banget-banget lho, kamu udah dateng ya, Silmi," kata Ibu Hanun saat cipika-cipiki dengan Silmi.

"Sama-sama, Tante. Saya juga senang bisa ketemu Tante," ucap Silmi dengan wajah teduhnya. "InsyaaAllah weekend ini saya dan Papi ke sini ya. Semoga Papi fit untuk bisa ke sini."

Ibu Hanun mengangguk. "Iya, aamiin. Tante tunggu ya," ucapnya. "Ini beneran kalian udah mau pulang? Setengah dua belas lho sekarang. Dikit lagi Zuhur. Johnny biar Zuhur bareng Hamzah ke masjid, kamu Zuhur sama Tante sama Hanifa juga. Ya? Nanti makan siang bareng aja."

Silmi membalasnya dengan senyuman. Alasan dia ingin keluar dari rumah Hamzah sebelum Zuhur adalah agar tidak makan siang di sana. Pasti merepotkan kalau harus menjamu tamu untuk makan siang.

"Ngga usah, Tante. Biar nanti pas weekend aja, ngga apa-apa ya?"

"Hm, baiklah kalau gitu," jawab Ibu Hanun akhirnya. "Hati-hati ya. Johnny hati-hati bawa mobilnya. Kalian hati-hati di jalan pokoknya."

Johnny mengangguk dengan wajah cerah. "Siap, Tante."

Mereka lalu berjalan ke pintu depan, lalu Johnny menepuk lengan Hamzah, berpamitan. Silmi memeluk Ibu Hanun sebentar sebelum mengikuti Johnny masuk ke mobil yang terparkir di depan sana.

Mobil Lexus itu melaju diiringi lambaian tangan dari Ibu Hanun dan Hamzah.

"Kondisinya Hanifa lumayan parah ya, Johnny," kata Silmi begitu mereka menyusuri jalan komplek rumah Hamzah untuk tiba di jalan raya.

"Iya apa?"

Silmi mengangguk. "Iya. Sepertinya dia trauma cukup berat. Bisa jadi, dia diminta untuk ngga bicara ke siapa-siapa. Or, it could be that person who attacked them that day... she knows that person. Or, bisa jadi juga dia diserang atau mendapat perlakuan kasar dari pelaku... Saya ngga terlalu paham, tapi kira-kira begitu. Karena Hanifa sampai diam, benar-benar ngga respons omongan orang lain. Tapi dia bisa melakukan rutinitas kayak ibadah, mandi, atau makan. Cuma memang belum bisa bicara aja, atau menolak bicara."

"Gitu ya? Gue ngga paham gitu-gituan sih. Tapi sayang banget aja, kita-kita jadi ngga bisa gerak apa-apa kalau ngga ada keterangan. Ortunya Hamzah juga ngga mau lapor ke polisi karena capek banget ngurus kejadian begini, belom lagi Jafar juga kan lagi sakit. Kata Hamzah sih, mereka udah ngga mau capek-capek lagi harus kasih keterangan lah, apa lah. Jadi, nunggu Hanifa cerita aja. Zaid udah bisa ditanya-tanya juga ngga bisa bilang siapa pelakunya," kata Johnny. "Kok lo tahu masalah psikologi kayak gini dah? Kampus kita kan ngga ada jurusan psikologi?"

Silmi tertawa. "Because I was like her," ucapnya pelan. "Waktu Mami kecelakaan kemudian dikabarkan meninggal, saya menolak bicara sekitar dua bulan. Papi bahkan mendatangkan psikiater ke rumah dan saya tetap menolak bicara."

Johnny mendengarkan dengan rasa iba menelusup dalam dadanya.

"Lo sayang banget ya, Sil, sama Mami lo," kata Johnny. Heran dia, kenapa orang-orang bisa sesayang itu sih ke orangtua mereka?

"How couldn't I?" ucap Silmi. "Mami berjuang demi melahirkan saya ke dunia," kedua mata Silmi melihat ke sisi kiri, ke arah trotoar yang digunakan pemusik jalanan untuk mencari nafkah saat lampu merah menyala seperti sekarang. "Mami harus cuci darah sejak melahirkan saya. Dan bertahan dengan cuci darah itu sampai saya besar. The good news is; Mami meninggal bukan karena penyakitnya. She won the competition, right?"

Johnny mengangguk meski Silmi tak melihat anggukannya.

"Setelah Mami meninggal, saya menolak bicara. Karena saya biasanya banyak bicara dengan Mami," kata Silmi pelan. "Every single day."

Johnny menoleh, mendapati jilbab Silmi di pelupuk matanya. Lalu berpikir, selama ini dia merasa dunia tak adil padanya. Tapi ternyata...

"Terus?" tanya Johnny. "Kapan lo udah mulai mau ngomong lagi?"

"That time, my cousin came to my house," kata Silmi sembari menatap jalanan di depannya. "She came, and always came, talked about anything. And then I realized," tambahnya, "that I have a life. She became my best friend after that. And..."

"And?"

"She passed away."

Hening sejenak.

"I'm so sorry..." kata Johnny.

"No, Johnny, it's not your fault," Silmi melihat Johnny dan melepas senyumnya. "Sepupu saya memang punya cancer sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan itu yang membuat saya sadar, bahwa saya harusnya tidak menyia-nyiakan hidup saya dalam kesedihan yang mendalam. Jika sepupu saya yang mengidap cancer aja bisa menikmati kehidupannya, so why don't I?"

Manggut-manggut, Johnny bingung mau komentar apa.

"Tapi Hanifa beruntung ya, dia punya banyak saudara," kata Silmi lagi.

"Iya, gue juga iri sama keluarganya Hamzah," kata Johnny sembari berdecak pelan. "Rame banget kayak pasar. Adek-adeknya seru banget."

"You don't have brother or sister? Really?" tanya Silmi.

Gelengan kepala Johnny terlihat. "No, I don't. Tapi kata Hamzah, gue boleh bawa pulang adeknya yang mana aja. Hahaha."

Silmi ikut tertawa pelan. "Hamzah itu lucu ya."

"Rusuh dia sih," kata Johnny.

"You three are so funny," lanjut Silmi. "It must be fun to have each other."

Johnny hanya tertawa, tapi tidak bisa tidak setuju atas pendapat Silmi barusan. Mereka bertiga memang sebahagia itu untuk mengenal satu sama lainnya.

"Udah azan, Sil," kata Johnny begitu mendengar azan dari masjid di kejauhan. "Mampir masjid dulu ya? Abis ini makan siang dulu, mau ngga?"

"Boleh," kata Silmi lagi. "Tapi saya tunggu di mobil aja ya? Kebetulan saya lagi ngga shalat."

"Oke."

"Hm, Johnny," kata Silmi pelan. "Could you please do me a favour?"

Johnny menghentikan laju mobilnya ketika lagi-lagi lampu merah menghadang mereka.

"What kind of favour?" tanya Johnny akhirnya.

"Tolong bilang ke Hamzah, untuk ajak Hanifa bicara sesering mungkin," kata Silmi. "Setiap ada kesempatan, ajak bicara. It's good if Hanifa gives any response. Apalagi kalau dia tersenyum, atau bahkan tertawa. It helps her, really," ucapnya dengan raut serius memohon. "Would you?"

[]

The JAHat StoriesCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang