86. Siap!

987 155 183
                                    

Serial The JAHat Stories – 86. Siap!

Penulis : Uniessy

Dipublikasikan : 2020, 7 April

Note : Infoin typo yaaa

-::-

Berlari kecil, Johnny menghampiri pintu kaca dan lekas mendorong pintu tersebut agar dia segera berada di dalam. Terik mentari di jam empat sore ini masih lumayan banget, dan karena barusan itu Johnny sampai di bangunan ini dengan menumpang taksi online, maka dia turun di tepi jalan sana. Ini dia baru dari kampus, dan hari ini ngga bawa mobil, katanya sih capek.

"Eh, ada orang cantik lagi jaga toko," kata Johnny begitu dilihatnya Ulya sedang memeriksa catatan di layar komputer dengan kacamata bertengger di hidungnya.

"Eh, ada orang ngga jelas, hehe..." balas Ulya sekenanya.

"Ck, jangan gitu, Ul," kata Johnny dengan kerlingan mata yang bikin Ulya berjengit. "Awas, entar jatuh cinta. Hahaha."

"Iwis intir jitih cinti, hihihi," balas Ulya, sebodo amat. Tapi Johnny masih tertawa. Santuy banget kan dia tuh.

"Ada Hamzah ngga di atas?" tanya Johnny.

"Ngga tahu. Lihat aja."

"Ah, males, mau di sini dulu. Ngadem. Hehe..." kata Johnny. "Masa lo ngga tahu Hamzah di atas apa ngga?"

Ulya melirik Johnny dengan lirikan judes yang dia punya. "Mas? Aku nih ya, kerja loh di sini. Kerjaanku nyervis yang mau beli baju, terus bersihin rak-rak, ngerapiin susunan baju, ngecek stok," katanya. "Bukan mantengin Mas Hamzah dateng apa ngga."

Johnny lagi-lagi tertawa. "Napa sih? Galak amat. Lagi dapet yak?" tanyanya. Tangannya meraup dua bungkus permen dari toples yang ada di dekat meja transaksi. "Eh, lo kalau marah-marah gitu, cakep sih ya, tapi urutannya nomor dua. Mau tahu ngga nomor satunya siapa?"

Ulya melirik lagi, lebih keki. Ya keki lah! Dia ini baru cek stok, trus stoknya ngga ada lima baju gamis harga sejutaan. Pusing dia! Makanya lagi hitung ulang, berharap tadi dia salah hitung.

"Tanya dong, siapa? Gitu." Johnny masih usaha.

Ulya menarik napas, mikirnya kalau dicuekin yang ada temennya Hamzah ini bakalan gangguin dia terus. "Siapa? Hah?"

"Nomor satunya ya kamu, pas lagi senyum," ucap Johnny kemudian terbahak. "Hahaha! MUKANYA MERAH HAHAHA!"

Ulya mendengus, lantas membenarkan posisi kacamatanya sembari pandangan kembali ke layar. Kesal bukan main dia. Ya jelas dia merah malu-malu dibilang begitu. Dia kan cewek. Dasar JAHat ya ini cowok!

"Mas, please, ya," kata Ulya tanpa menoleh, "aku lagi sibuk. Kalau mau tahu ada Mas Hamzah atau ngga, ya ke atas aja. Aku dari tadi ngga ke atas. Lagi ngga shalat jadinya ngapain ke atas."

Johnny mencibir, lalu manggut-manggut. "Pantesan galak, lagi dapet ternyata."

Ulya sebodo amat lah. Dalam hati beneran berharap Johnny buru-buru enyah dari sana. Belum nemu neh yang lima tadi!

"Gue telepon aja hapenya," kata Johnny kemudian. Dia merogoh saku kemejanya, lalu saku celananya, kemudian memeriksa tas slempang yang melintang di depan dadanya... "LAH? MANA DAH?"

Ulya cuma geleng kepala samar. Sekuat tenaga menahan diri untuk bertanya kenapa. Takutnya nanti kalau ditanya nyari apaan, Mas? Dijawabnya: Nyari kepastian dari kamu. Kan males!

"Apa ketinggalan ya?" ucap Johnny, lebih kepada dirinya sendiri. "Eh, eh, Ul, tolong telepon hape gue dong."

"Hah?" Ulya akhirnya menoleh. "Opo toh?"

The JAHat StoriesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang