*7* KESIALAN I~

905 80 16
                                        

Hai jumpa lagi :)

Happy Reading 

***

Usainya upacara bendera tadi, Azel dan murid yang terlambat langsung diberikan hukuman oleh salah satu anggota osis dan tentunya bukan Reagan. Jadi, hari ini hidup Azel plus sangat apes. Dia hanya mendesah kesal dengan nasibnya yang kurang beruntung hari ini.

"Baik, untuk perempuan yang terlambat kalian harus sapu halaman sekolah semuanya dan yang laki-laki bersihin semua toilet sekolah dari lantai satu sampai tiga ditambah toilet guru. Paham?" teriak osis itu dengan lantang.

"Paham kak." Jawab serempak semuanya lalu langsung bubar mencari sapu dan pergi ke toilet.

Azel yang mendengar hukumannya semakin terganga karena ini cukup berat dari biasanya. Dia dengan malas mengikuti perkataan osis itu dengan menyapu lapangan voli. Setengah jam berlalu dia hampir selesai mengerjakan hukumannya, memang sangat melelahkan sekali pikir Azel.

"Njir dah, gue di sekolahin ke sini buat belajar dah. Kenapa gue tiba di sekolah malah nyapu kayak tukang kebun?" heran Azel berhenti dan mengomel sendiri dalam hatinya.

"Memang gue dihukum sih, tapi yakali cosplay jadi tukang kebun segala?" kesal Azel dengan keapesaannya pagi ini. Belum lagi dia pulang akan bagaimana kesialan yang akan dia dapatkan.

"Astaghfirullah, nggak salah tadi pagi gue pamit sama mama deh, mana mungkin mama nggak ridhoi gue?" overthinking Azel semakin menjadi.

Cukup lama dia mengomel dalam hati akhirnya tepat di jam sembilan dia menyelesaikan kerjaannya. Dia kembali menghadap osis setelah mereka mengecek kerjanya. Setelah itu dia dibolehkan masuk dan kesialan datang lagi karena yang mengajar pagi itu adalah guru sejarah peminatan yang notabenenya sangat kejam.

"Assalammualikum Bu, permisi," ujar Azel dengan sopannya. Bu Fitri yang mendengar Azel membalikkan tubuhnya melihat Azel dengan tatapan horor.

"Darimana kamu? Jam sembilan baru masuk?" marah ibu itu langsung.

"Kan saya tadi habis dihukum Bu." Jawab Azel karena jelas-jelas Bu Sinta tadi ngomel pas upacara.

"Iya saya tau, kenapa kamu bisa telat?" tanya ibu itu dengan sangarnya.

"Ban saya bocor tadi pagi Bu, terus saya cari bengkel dulu. Makanya jadi telat." Jujur Azel yang sudah kepanasan mendengarkan pertanyaan gurunya ini.

"Banyak alasan, ya sudah masuk sana." Emosi Bu Fitri.

"Hahahaha ... rasain lo Zel, enak nggak tuh dimarahin." Tawa cekikikan Vanya bersama Rania dan hanya diacuhkan Azel.

"Astaghfirullah Bu, kagak makan tadi atau gimana? Marah-marah aja." Kesal Azel dalam hatinya.

Untung saja Bu Fitri tidak memberikan hukamannya juga, biasanya ibu itu akan bertanya soal sejarah dan sekarang untung tidak. Jadi Azel bisa bernapas dengan lega menjatuhkan tubuhnya duduk di bangkunya.

***

Jam istirahat berbunyi, Azel dan temannya satu kelas sedikit terlambat keluar karena panjangnya ceramah Bu Fitri sampai ibu itu kelupaan dengan jam dia yang sudah habis. Malah sudah dikode satu kelas, tapi ibu itu tetap melanjutkan pelajarannya, membuat satu kelas geram sendiri dengan kelakuan satu gurunya ini.

Sesampai di kantin, murid SMA Rajawali sudah berdesak-desakkan karena tengah membeli makanan. Sedangkan Azel baru di pintu kantin yang melihat menatap ngeri kalau akan ikutan seperti itu juga. Biasanya yang memesankan makanan adalah Freya, jadi Azel tidak perlu mengantri.

"Huh, andai lo ada gue nggak bakalan ngantri Frey," ujar Azel lelah lalu membalikkan tubuhnya pergi dari kantin.

***

Ares beserta sahabatnya yang lain tengah sibuk makan saat ini, untung saja mereka cepat ke kantin jadinya tidak perlu mengantri lagi. Sedari tadi Ares tengah mencari Azel, namun sosok itu tidak juga kelihatan olehnya membuat dia pusing sendiri mencarinya.

"Lo ngapain noleh-noleh sih dari tadi gue lihat?" kesal Nevan melihat Ares yang ribut sendiri.

"Nyariin Vanya lo?" tanya Keenan sembari menahan tawa.

"Azel bukan Vanya bego." Marah Ares karena pikiran sahabatnya ini hanya perempuan lebay itu.

"Owh Azel, kirain." Jawab Farrel hanya ber-oh ria.

"Nah tuh orangnya." Tunjuk Reagan pada Azel yang melihat ke dalam kantin.

"Oiya, eh kok dia malah pergi?" tanya Ares heran.

"Dia nggak suka keramaian, makanya milih pergi." Jawab Reagan dengan sikap tidak pedulinya. Maklum kalau lapar semua orang tidak akan diacuhkan olehnya sama dengan Gavin.

"Gue pergi dulu ya." Ares langsung berlari dan sebelum itu tidak lupa membeli beberapa roti dan sebotol air mineral untuk Azel.

Dia langsung berlari menuju kelas Azel dan tidak beruntung sama sekali Ares tidak menemukannya. Dia mendecih kesal karena sekolah seluas ini mana mungkin juga bakalan dia periksa satu-satu.

Ketika dia hendak pergi dari kelas itu dan dia tidak sengaja bertemu salah satu teman sekelas Azel dan dia menanyakannya, mana tau dia lihat kemana Azel, pikir Ares yang masih sedikit pintar.

"Teman sekelas Azel kan?" tanya Ares dengan senyumannya sekalian tebar pesona.

"Iya, kenapa?" tanya balik cewek itu yang tengah menahan senyum melihat kegantengan Ares.

"Lihat dia nggak?" tanya Ares lagi.

"Nggak salah tadi dia jalan ke rooftop." Jawabnya yang membuat Ares terpekik senang dalam hatinya.

"Oke, makasih ya," ucap Ares lalu pergi dari sana menuju rooftop.

Tidak disangka memang Azel tengah berdiri sendirian di rooftop mendongakkan kepalanya menatap langit yang sedikit cerah siang itu. Ares sempat terpaku melihat kecantikan Azel. Memang dia sangat cantik, tapi sikapnya berkebalikan dengan penampilannya.

"Hai!" Sapa Ares tersenyum pada Azel. Sang empu yang disapa menolehkan kepalanya sebentar lalu membalikkan kembali karena jengah dengan kehadiran Ares dimana saja. Dia selalu tau Azel dimana, membuat dia kesal sendiri karena kehadiran cowok jelangkung ini.

"Kalau disapa harus dijawab nggak baik didiemin. Pamali tau." Sambung Ares karena tak kunjung mendengar jawaban dari Azel.

"Apa?" tanya Azel kesal karena diganggu terus-menerus oleh Ares.

"Nah gitu dong. Ini gue beliin lo roti sama air mineral. Nggak baik telat makan, ntar sakit perut lo." Jawab Ares lalu memberikan makanan yang dia beli tadi ke tangan Azel.

Sedangkan Azel mengerinyitkan dahinya heran, kenapa sih cowok ini selalu perhatian ke dia? Lagian mereka tidak kenal, malah sikapnya kayak Reagan. Apalagi sikapnya selalu humble dan ada disaat dia membutuhkan.

"Nggak usah, gue bisa beli sendiri." Jawab ketus Azel kembali menolehkan tubuhnya ke depan.

"Udah ambil aja, gue tau lo laper. Karena rame makanya lo milih pergi ke sini." Paksa Ares kembali lalu mengambil tangan Azel dan memberikan makanan itu.

"Dah ya gue turun dulu, pelan-pelan makannya ya." Pamit Ares dan sebelum itu dia kembali mengusap puncuk kepala Azel dengan lembut dan tak lupa dengan senyum manisnya.

Azel sedikit lama terpaku dan merasa tidak aman dengan jantungnya. Bisa-bisa kalau dia seperti itu terus Azel bakalan masuk rumah sakit karena gagal jantung.

"Njir, tuh cowok siapa sih? Kenal kagak, perhatian melebihi orang yang gue kenal." Kesal Azel lalu mendudukkan dirinya di tepi rooftop itu.

Dia sedikit tersenyum tipis melihat tiga bungkus roti serta sebotol air mineral yang diberikan Ares padanya. Walaupun sederhana, tapi bisa membuat Azel tersadar akan kebaikan cowok jelangkung itu.

*** 

Jangan lupa vote sama komen ya 

Salam dari aku

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang