*46* KENA HUKUM~

224 18 0
                                        

Happy Reading

***

"TIDAK! Kalau kamu semakin menangis saya akan menyuruh anak buah saya memukulinya agar dia semakin mengerti dengan kesalahannya." Ancam Wisnu pada Ranti.

"Jangan Mas, jangan!" geleng Ranti dengan kuat dan tangisan langsung terhenti agar anaknya tidak kenapa-napa.

"Makanya berhenti menangis, karena saya semakin benci melihatmu." Bentak Wisnu lalu mengunci pintu kedua setelah beberapa meter dari ruang bawah tanah tadi.

Ranti hanya diam mengiyakan perkataan suaminya karena dia tidak mau anaknya semakin menderita.

"Pa! Tapi ...," ucap Elina dengan wajah sedih melihat papanya.

"Udah sayang, papa janji besok pagi bakalan papa buka pintunya, biarin adikmu itu menyesali kesalahannya. Okey?" tenang Wisnu menatap dalam Elina.

"Mau papa kurung sampai seminggu juga aku nggak peduli, biar dia mati di sana dan aku bisa hidup tanpa ada benalu seperti dia." Gumam dalam hatinya dengan senang.

"Oke Pa." angguknya diluar yang masih dengan raut wajah sedih.

"Nah sekarang kamu mandi, kita pergi jalan-jalan." Suruh Wisnu dengan senyumnya.

"Kamu Ranti, jangan berusaha membukan pintu atau mencari cara agar bisa mengeluarkan anakmu itu. Kalau saja terjadi dan saya mengetahui dari CCTV atau anak buah saya, saya pastikan anakmua akan saya hukum lebih dari itu." Ancam Ranti yang sudah memikirkan akan mengeluarkan Azel nanti.

"I-iya Mas." Angguk Ranti takut karena kalau sudah seperti ini perkataan suaminya tidak ada yang tidak akan terjadi.

"Bagus," ucap Wisnu lalu meninggalkan Ranti yang terdiam didepan pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah itu.

"Maafkan mama ya sayang," ucap Ranti kembali terisak.

***

Suara bentakan papanya serta tangisan mamanya sudah menjauh, dia kembali menghela napas lelah. Menundukkan kepalanya diantara kedua lututnya, menutup kedua matanya karena perkataan papanya yang terus saja mengitari isi otaknya. Dia harus apa agar perkataannya dipercayai, bahkan apapun yang dia katakan tetap saja tidak dipercaya papanya.

Malahan dia belum mengganti pakaian seragamnya sedari tadi, mana ponselnya tinggal di tas lagi. Sungguh nasib buruk padanya kali ini, kalau ponselnya ada, dia bisa meminta bantuan Reagan ataupun Freya. Tapi ah sudahlah, hanya penyesalan yang dia dapat.

Azel kembali menegakkan kepalanya melihat suasana sekitar, cukup bersih karena sudah dibersihkan sepertinya. Terakhir dia ke sana begitu kotor, bahkan ada tikus dan kecoa di sana membuat dia terganggu, ya walaupun dia tidak takut tapi cukup mengganggu karena kebisingan mereka yang malam-malam sibuk menggibah.

Jam telah menunjukkan waktu magrib, diluar terdengar suara gemuruh yang silih berganti karena akan hujan. Untung saja di sana ada lampu yang temaram sehingga Azel tidak serasa seperti tahanan penjara.

Azel meregangkan tubuhnya karena merasa pegal duduk saja dibelakang pintu tadi, dia memilih berjalan dan sedikit malas dengan tubuhnya yang lengket karena belum sempat mandi sedari tadi, tapi malah sudah dikurung seperti ini.

Ini bukan kali pertama baginya dikurung di sini, karena dia sudah sering kali dikurung seperti ini. Jadi dia tidak merasakan takut lagi, hanya saja dia tidak akan tahan dengan dinginnya di sini. Apalagi tadi terdengar akan hujan, akan mati kedinginan dia nantinya.

"Lah ngapain gue takut? Syukur gue bisa mati dah, eh tapi nggak sakit kan yak? Kalo sakit mending hidup deh, nggak lucu juga ntar," ujar Azel sembari bolak-balik di ruangan itu.

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang