Happy Reading
***
Operasi tengah berjalan, dengan Azel masih ditangani dokter. Semua orang diluar, terdiam dengan doa selalu mereka panjatkan. Mereka harap operasi berjalan lancar, apalagi donor darah yang biasanya diperlukan sekarang tidak. Karena darah tengah ada stok, membuat mereka tidak pusing lagi mencarinya.
"Freya! Reagan! Kalian pulanglah, kalian sekolahkan hari ini? Tante nggak mau kalian bolos menunggui Azel seperti ini." Suruh Ranti tanpa melihat keduanya, karena dia terfokus melihat lantai di bawahnya.
"Tidak Tan, kita tetap di sini sebelum Azel dikatakan telah melewati masa kritisnya dan operasinya sukses." Geleng cepat Freya menolak perkataan Ranti.
"Bener Tan, kita akan di sini menunggu Azel selesai di operasi. Kita nggak mau ketinggalan informasi apapun. Untuk masalah sekolah, aku udah hubungin temen aku buat surat izin." Tambah Reagan tegas yang hanya diangguki Ranti dalam diam.
Mereka kembali terdiam, menunggu operasi Azel selesai. Bahkan sudah lebih satu jam, tapi operasinya tidak selesai juga. Membuat mereka semakin khawatir dan mencemaskan Azel. Ketika mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing, pintu ruang operasi terbuka, tapi tidak dengan lampunya yang masih bewarna merah.
Perawat dari dalam, keluar dengan tergesa. Mencari suatu barang entah alat yang disuruh oleh dokter. Tak lama mereka kembali lagi dan begitu seterusnya, keadaan didalam terlihat panik. Membuat Ranti menghentikan perawat yang keluar lagi, untuk memastikan kondisi anaknya.
"Kenapa anak saya?" tanya Ranti langsung.
"Jantung anak ibuk melemah dan berhenti sebentar, tapi dokter tengah mengusahakannya." Jawab Perawat itu kembali berlalu dan berlari menuju tujuannya.
Ranti langsung melorot, terduduk di lantai ubin nan dingin. Dengan air mata kembali mengalir deras membasahi pipinya. Dia tidak mau kehilangan anaknya saat ini, dia bakalan mengutuki dirinya karena ini salahnya. Dia benar-benar tidak terima.
"Tan! Tante jangan nyerah dulu, Azel lagi berjuang. Dia pasti bakalan selamat, kita harus doakan dia." Tenang Freya memeluk kuat Ranti.
"Bener Tan, Azel nggak selemah itu." Usap Reagan pada bahu Ranti.
Tak lama, dokter kembali keluar dengan wajah sulit diartikan. Dia membuka masker beserta sarung tangan yang dia pasang tadi. Dengan tubuh masih melemah, Ranti langsung berdiri menghadap dokter tersebut.
"Bagimana sama anak saya Dok? Operasinya lancar kan?" tanya Ranti berharap sesuai keinginannya.
"Maaf Buk, tadi Azel sempat kritis dan kami berusaha mengejutkan jantungnya yang melemah. Namun, Tuhan berkehendak lain, Azel sudah tiada. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya, karena kami tidak bisa menyelamatkan anak ibuk. Kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi inilah keputusan Tuhan." Jelas dokter itu dengan wajah sedih sembari menatap Ranti yang benar-benar syok.
"TIDAK! TIDAK! Anak saya tidak mungkin meninggal! Azel! Hiks ... Ini semua salah saya, hiks ...." Teriak histeris Ranti yang terduduk lalu tidak lama pingsan karena benar-benar tidak siap menerima semua ini.
"Astaghfirullah, tante!" teriak Freya yang kaget dengan Ranti.
"Suster! Cepat bawa ibuk ini ke UGD!" teriak dokter tadi dengan Freya mengikutinya.
"Dok! Apa benar Azel tidak bisa diselamatkan?" tanya Reagan masih tidak terima, dengan air mata yang sudah dia tahan karena tidak sanggup mendengar itu semua.
"Maaf Mas! Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi memang Azel tidak bisa kami selamatkan. Luka yang mengenai dinding jantungnya memang sangat-sangat fatal. Membuat saraf di jantungnya terganggu dan banyak juga yang pecah, kami sudah berusaha menghentikan luka dalam tersebut, tapi tidak berhasil." Jelas dokter itu dengan wajah sendu.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Fiksi Remaja⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)