*35* PERLAWANAN PERTAMA ~

297 31 1
                                        

Happy Reading :)

***

Azel terbangun di jam dua kurang dan dia teringat akan pergi bekerja, untung saja dia tidak kebablasan tidurnya, kalau iya pasti kena lagi sama Reagan. Dia beranjak mengganti pakaiannya dan sebelum itu tidak lupa mandi terlebih dahulu karena tubuhnya cukup gerah.

Selesai dengan semuanya, dia turun ke bawah dan dengan tidak ada keberuntungan yang datang padanya. Dia bertemua dengan setan carmuk yang tengah santai di ruang tamu, maklum merasa kayak sultan.

"Setan emang ya dimana-mana, terkadang gue pengen nutup mata batin gue. Tapi gue heran kenapa gue cuma lihat dia aja? Rada ngeri sih, mungkin emang dia lebih kuat dari yang lain. Lah kan emang dia ratu setan, lupa gue." Gumam Azel dalam hati menatap jengah Elina yang bersantai.

"Ma! Aku pamit dulu." Teriak Azel yang berjalan pelan menuju halaman rumahnya.

"Hati-hati sayang."

"Adek gue mau kemana nih? Kerja ya? Aduh, masih kekurangan uang kah?" tanya Elina yang berjalan ke arah Azel yang berhenti dihadapan pintu.

"Cih." Kesal Azel karena diganggu kembali oleh Elina.

"Kasihan amat ya jadi lo, sampe papa nggak peduliin apapun kebutuhan lo, nggak kayak gue yang selalu diperhatiin." Sindir Elina dengan senyum miringnya menatap Azel.

"Mending usaha daripada minta terus kan, mana gunanya buat ngasih pacar. Otak dipake nggak tuh?" sindir balik Azel dengan santainya.

"Tau dari mana lo gue ngasih cowok gue? Suka banget lo kayaknya ngurus hidup gue." Balas balik Elina dengan salah satu alisnya terangkat.

"Introspeksi diri dulu, baru nuduh." Jawab Azel merasa semakin jengah.

"Patutnya lo yang introspeksi diri, udah nggak dianggap di sini masih aja mau bertahan."

"Siapa yang kamu bilang nggak dianggap? Jelas-jelas kamu yang tidak dianggap malah anak saya pula yang kamu tuduh. Mending kamu pulang sana ke rumah mamamu, daripada jadi parasit disini. Mengganggu saja. Eman ya, ibu sama anak nggak jauh beda." Sela Ranti yang mendengar percakapan Elina dengan anaknya itu.

"Kan emang bener Ma, Azel nggak dianggap sama papa. Mama nggak usah belain dia lagi, dia yang jadi benalu di rumah ini bukan aku." Jawab Elina sedikit kesal dengan mama tirinya itu.

"Kamu yang mengganggu di sini, bisa-bisanya kamu datang malah membuat anak saya yang tertindas. Seharusnya kamu yang pergi dari sini, saya juga tidak suka ada kamu disini." Marah Ranti karena sudah muak dengan Elina.

"Mama jangan seenaknya ngomong ya, aku bisa bilangin ke papa gimana mama. Apalagi mama yang terbukti lebih memihak Azel daripada aku." Ancam Elina yang marah juga.

"Kamu ancam saya? Kamu pikir saya akan takut, apapun yang kamu lakukan ke anak saya. Saya nggak bakalan tinggal diam, apalagi kelakuan busuk kayak kamu bakalan terbongkar tidak lama lagi." Balas Ranti dengan mata tajam melihat Elina yang tampak sangat emosi sekali namun dia tahan.

"Oh ya? Mama nggak takut? Beneran nih? Mama ingat ya, aku bakalan pengaruhi papa buat balik lagi sama Mama Farah nggak sama Mama Ranti lagi. Biar mama tau rasa, gimana ditinggalin kayak mama aku." Senyum miring Elina.

"Coba saja, kamu kira suami saya bakalan mau balik sama mamamu yang sudah sama kayak jalang itu? Kalau iya, ngapain suami saya ninggalin mama kamu dan nikah sama saya?" balas Ranti dengan wajah penuh emosi.

"Ma, udah Ma. Nggak usah diacuhin." Henti Azel memegang pundak mamanya itu yang tersulut emosi dengan perkataan si setan carmuk ini.

"Aaarrghhhh ... awas saja semua, bakalan aku katakan sama papa." Teriak Elina yang muak.

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang