Happy Reading
Maaf bab sebelumnya salah post, jadi ini lanjutan yang bab sebelumnya ya 🙂🙏
***
"Wahahahaha ... Gue selalu berharap kalau umur gue segera habis Res, apa yang lo lihat nggak seperti yang gue rasakan sebenarnya." Jawab Azel akhirnya sehingga membuat Ares langsung membalikkan tubuhnya menghadap Azel, melihat serius perempuan ini.
"Maksud lo?" tanya Ares yang kaget dengan perkataan Azel tersebut.
"Gue udah dari dulu nyoba buat mati Res, tapi selalu gagal. Sempat waktu itu gue kecelakaan dan bikin gue koma. Namun, karena Reagan bantuin cari pendonor darah buat gue. Akhirnya gue selamat, andai dia nggak ketemu sama pendonor buat gue. Kita nggak bakalan pernah jumpa. Hahaha ... Lo pikir gue kuat ya Res? Capek gue sumpah, berusaha buat nggak kenapa-napa dengan wajah gue yang dingin. Namun, didalam memendam berjuta kesedihan dan rasa ingin berteriak ke seluruh dunia." Jelas Azel yang masih dengan wajah tersenyum senang.
Ares yang melihat langsung terenyah menatap semua yang sebenarnya terjadi pada Azel. Dia memang tau kalau masalah Azel sangat berat karena papanya dan kakak tirinya. Namun, dia tidak tau kalau apa yang dirasakan Azel sampai seperti ini.
"Lo ken ...."
"Gue udah bingung Res, nyari cara agar gue bisa kembali semangat jalanin hidup. Nggak ada suatu alasan yang buat gue bisa semangat menjalani kehidupan ini lagi. Setelah apa yang menjadi kebahagiaan gue direnggut untuk selamanya. Apalagi ketika gue disalahkan atas kematian adek gue waktu itu dan ditambah dengan kehadiran Elina yang buat gue semakin capek." Potong Azel dengan wajah datar kali ini sembari melihat ke kolam air terjun.
"Semua ini gue lakuin hanya karena mama, Freya dan Reagan. Andai mereka nggak ada buat semangatin dan temenin gue. Mungkin dari lama gue udah milih buat mati. Walaupun gue tau bunuh diri adalah dosa besar. Gue capek Res, sungguh. Gue nggak mendramatisir keadaan kok, hanya saja itu yang gue rasain sampai sekarang ini." tambah Azel setelah itu kembali tersenyum cerah.
Ares yang mendengar semua perkataan Azel semakin terdiam. Dia terpaku atas apa yang dirasakan Azel. Ternyata emang benar, orang yang terlihat pendiam apalagi seorang pelawak adalah orang yang memiliki masalah yang paling besar.
"Hehehe ... Maaf udah curhat. Nggak usah lo acuhin, anggap aja tadi gue bercanda. Dah ah, gue mau ke sana dulu." Kekeh Azel sebentar menatap Ares yang terdiam menatap Azel.
Sreetttt!!!
Sebelum Azel sempat berdiri, Ares lebih dulu menggapai pergelangan tangan Azel. Sehingga dia kembali duduk dan menatap Ares karena kaget.
"Kenapa?" tanya Azel dengan wajah datarnya.
"Sebenarnya masalah lo sama papa lo sejak kapan sih? Kenapa lo sampai berusaha berkali-kali buat akhirin hidup lo gini?" tanya Ares dengan mata menatap intens Azel yang masih terdiam.
Azel berusaha mencari topik lain, karena dia tidak mau menghancurkan hari yang indah ini dengan ceritanya yang terlalu menyakitkan untuk Azel.
"Res! Air terjunnya makin cantik deh, ke sana yuk," ujar Azel mengalihkan pembicaraan sembari melihat keindahan air terjun itu.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Zel. Gue mau lo jujur sama gue. Jangan takut, gue bakalan denger kok." Tatap semakin serius Ares pada Azel.
"Tap ..."
"Tapi apa? Gue bakalan ngejauihin lo setelah ini? Atau tidak peduli sama lo lagi karena kisah hidup lo?" tanya Ares beruntun membuat Azel mau tidak mau menceritakan semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Teen Fiction⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)