Happy Reading
***
Latihan untuk pertandingan Azel tiba, jam telah menunjukkan pukul setengah dua dan dia juga sudah selesai berberes. Setelah mengambil tas yang berisi minuman dan bajunya di sana, dia langsung turun ke bawah.
Sembari mencari keberadaan sang mama yang ternyata tengah sibuk di dapur tengah mencuci piring. Sedangkan papanya, Wisnu dan Elina tengah di ruang tamu dengan si setan carmuk tengah merengek meminta uang lagi kepada Wisnu.
Membuat Ranti mendesah lelah, melihat kelakuan sok manis anak tirinya itu. Dia yang muak memilih menyibukkan diri di dapur daripada mendengar pembohongan itu.
"Ma!" teriak Azel sesampai di tangga terakhir.
"Iya sayang! Mama di dapur." Jawab Ranti berteriak.
"Kok sibuk banget Ma? Tumben jam segini udah di dapur, biasanya mama masak sorean." Heran Azel melihat Ranti tengah membuat sup ayam.
"Mending mama di sini, daripada denger kakak tiri kamu heboh di ruang tamu. Kayak bocah nggak dikasih uang belanja." Jawab Ranti geleng-geleng kepala.
"Pffttt ... Mama kalo ngomong suka bener deh." Tawa Azel seketika.
"Hahaha ... Kan bener apa yang mama bilang." tawa Ranti ikut pula.
"Iya Ma, mama mah nggak pernah salah. Oiya Ma, aku mau berangkat latihan ya Ma. Soalnya aku dipilih buat tanding bulan depan untuk perwakilan sekolah." Jelas Azel pada Ranti.
"Bareng Putri atau sendiri?" tanya Ranti yang memang tau semuanya.
"Dijemput sama Ares Ma, nggak tau tuh tiba-tiba mau nganter. Emang rada aneh dianya." Jawab Azel lelah sendiri.
"Oh, sama calon mantu mama. Ya udah, hati-hati ya. Jangan kemalaman, nggak baik." Angguk Ranti tersenyum manis ketika mendengar nama Ares disebut. Membuat Azel mendesah lelah mendengarnya.
"Iya Ma, assalammualaikum." Salam Azel lalu langsung keluar rumah menemui Ares yang telah menunggunya di depan.
"Waalaikumsalam."
Azel yang telah selesai berpamitan langsung keluar dan pastinya melewati ruang tamu terlebih dahulu. Di mana di sana berada Wisnu beserta Elina yang masih saja merengek karena permintaannya belum dikabuli.
"Nggak sopan amat sih kamu, jalan gitu aja mau pergi tapi nggak pamit sama papa. Iya nggak Pa?" ujar Elina berusaha terlihat sangat baik dengan senyum miringnya.
"Nggak usah ikut campur kamu, biarin aja dia mau ke mana. Selagi nggak mengganggu papa." Jawab Wisnu kembali fokus ke layar ponselnya.
"Bwahahaha ... Rasain nggak diacuhin." Tawa Azel dalam hatinya tanpa mempedulikan Elina yang semakin cemberut.
Setiba Azel diluar, dia langsung menyapa Ares yang tengah duduk di motornya. Pandangan Ares seketika beralih dari ponsel ke Azel, dia langsung mengukir senyum manisnya dan menjawab sapaan Azel.
"Hai! Udah siap?" tanya Ares sembari menyimpan ponselnya.
"Udah, ayok berangkat." Ajak Azel yang mengambil helm dari hadapan Ares.
"Sini, gue pakein." Henti Ares pada tangan Azel dan malah menarik helm tersebut untuk dia kenakan ke Azel.
"Nggak usah, gue bisa sendiri." Geleng Azel karena ya memang dia bisa sendiri. Apalagi cuma masangin helm, dia nggak bakalan kelihatan manja.
"Udah, gue pakein aja. Sini deket dikit." Kekeuh Ares yang membuat Azel pasrah saja, yang ada kalau tidak bakalan debat sampai setengah jam nantinya.
"Oke siap. Ayok berangkat." Senyum Ares setelah memasangkan tali di helm Azel.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Fiksi Remaja⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)