*98* PENYESALAN~

260 8 0
                                        

Happy Reading

***

Ares yang bergegas menuju rumah sakit tadi, akhirnya dia tiba di jam 6 di rumah sakit yang dimaksud. Perjalanan dari rumahnya lumayan jauh, karena letak rumah sakit sudah di hampir di tepi kota. Makanya Ares agak telat datangnya, dia langsung bergegas menuju UGD yang dimaksud perawat ketika dia bertanya di resepsionis tadi.

Sesampai di sana, dia langsung mencari di mana ayahnya. Ternyata ayahnya masih belum sadarkan diri, membuat dia semakin cemas dengan apa yang terjadi. Dia menatap sendu sang ayah, walau rasa sakit yang dibuatnya masih terasa. Namun, Ares mengesampingkan itu semua, karena dia ingin fokus dengan kesehatan ayahnya.

Ketika dia masih terdiam menatap Arkan dengan doa masih dia rapalkan dalam hati, dokter yang menangani sang ayah datang. Sembari membawa catatan setelah dia memeriksa tadi.

"Dengan keluarga Pak Arkan?" tanya dokter itu kepada Ares yang langsung berdiri tegap menatap dokter didepannya.

"Iya Dok, saya anaknya." Angguk Ares menatap serius dokter itu.

"Begini, penyakit Pak Arkan memang sudah kronis. Akan sulit untuk mengobatinya, karena penyakit komplikasi yang dia derita. Walaupun memang dia harus berobat, dia tetap harus dirawat di sini. Namun, pengobatannya akan dimulai dengan diabetes beliau terlebih dahulu. Karena kalau diutamakan jantung beliau, obat itu tidak akan mempan." Jelas dokter itu sembari menatap Ares dan sesekali menatap catatan di tangannya.

"Lakukan yang terbaik Dok, saya akan menerimanya. Pokoknya ayah saya harus sembuh, bagaimanapun yang terjadi." Tegas Ares menerima perkataan dokter.

"Baik, Pak Arkan akan kami pindahkan ke ruang rawat sepuluh menit lagi." Angguk dokter itu mengiyakan.

Ares mengangguk pula, menatap kembali Arkan yang masih tertidur belum sadarkan diri. Wajahnya sudah menua, dengan garis di bawah matanya dan garis-garis di dahinya. Rambutnya juga memiliki sedikit uban dengan wajahnya yang tidak setegas dulu.

Ares kembali merapalkan doa, sembari memegang tangan kanan Arkan. Berharap ayahnya cepat membukakan mata dan dia akan sangat senang sekali.

"Yah! Bangun ya, Ares masih pengen lihat senyum ayah," ucap Ares mencium punggung tangan Ares.

"Ares mohon!" tambahnya lagi.

Seakan Arkan mendengar perkataan Ares, tak lama dia mengerjapkan matanya berusaha menyamakan sinar lampu di atasnya. Dia menatap Ares, sedikit kaget dengan keberadaan sang anak. Dia tersenyum tipis, bahkan tidak terlihat oleh Ares karena dia tengah menahan sakit pada jantungnya.

"Kamu ke sini Nak?" tanya Arkan berusaha bangun, tapi dilarang oleh Ares agar dia tetap tidur di brankar itu.

"Iya, aku di sini." Angguk Ares lirih.

"Saya sangat bersyukur kamu mau menjenguk saya ke sini, itu berarti kamu sudah memaafkan saya bukan?" senyum Arkan yang kali ini terlihat menatap Ares dengan lembut.

Ares mengangguk mantap, menatap sendu sang ayah yang sudah tidak berdaya. Namun, Arkan kembali mencari-cari sesuatu, seakan ada yang hilang atau belum dia temui.

"Ada apa?" tanya Ares melihat ke belakangnya.

"Bunda kamu tidak ke sini?" tanya Arkan dengan wajah kembali sedih.

"Bunda saya ...."

"Saya di sini!" ucap Intan berjalan masuk dengan wajah datarnya, walau jantungnya sudah berdegup sangat kencang, tapi untung dia sudah meminum obatnya tadi. Maka dari itu, tidak akan masalah berjumpa dengan mantan suaminya ini. Walau perasaan tidak sanggup masih menguasai.

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang