Happy Reading
***
"Gimana? Apa ada luka lain di tubuhnya?" tanya Ares berdiri menatap Bi Nuri.
"Nggak Den, cuma luka di lutut, siku, sudut bibir, hidung, kening sama kepala belakangnya Den. Yang paling parah memang lutut sama kepala belakangnya Den. Tapi udah bibi bersihin, belum diobati sesuai perintah Aden." Jelas Bi Nuri menunduk.
"Baik, makasih ya Bi udah bantuin aku. Bibi boleh kembali tidur dan maaf udah ganggu bibi ya." Jawab Ares lalu segera berjalan dengan cepat menuju kamarnya berada.
Setiba didalam kamar itu, dia melihat Azel yang masih belum sadar, sesekali perempuan itu mengerinyit seakan tengah menahan sakit. Ares mendekat lalu menggenggam pelan tangan kanan Azel, memberikan kehangatan agar perempuan itu bisa tenang.
Dia kemudian kembali bangkit mengambil kotak P3K yang berada tak jauh darinya, dia mengambil kapas dan mengoleskan alkohol untuk membersihkan kembali semua luka Azel. Dia dengan hati-hati melakukannya, takut perempuan itu kesakitan. Selesai membersihkan dia memberikan obat merah dan plester di kedua sikunya, sedangkan di kening dan lututnya diberikan perban karena lukanya cukup besar di sana.
Ares membangunkan Azel agar dia duduk, karena pembantunya tadi bilang kalau kepala belakangnya cukup terluka parah. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan perempuan ini dan seharusnya dia dibawa ke rumah sakit. Namun, ketika melihat wajah ketakutan dan sedih Azel, makanya Ares terpaksa membawanya ke sini dan mengobati lukanya sebisa dia.
Setelah selesai mengobati semua luka Azel, dia kembali menidurkan Azel dan menyelimuti perempuan itu. Dia membelai puncuk kepala Azel, menatap sendu wajah penuh beban yang sangat memancarkan kelelahan di sana. Dia begitu menyesal telah mengikuti egonya selama ini, bahkan sampai membuat Azel terluka seperti ini karena tidak mengacuhkannya. Cukup lama dia terpaku memperhatikan wajah Azel, akhirnya dia ikutan tertidur dengan kepala menelungkup disamping tangan Azel.
***
Cahaya matahari mulai memasuki jendela kamar Ares, tapi keduanya masih lelap tertidur. Namun, Azel malah berteriak mengigau dalam mimpinya dengan air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ares yang mendengar teriakan Azel menjadi terganggu dan langsung berdiri berusaha membangunkan perempuan itu.
"Zel! Hei! Bangun, lo kenapa? ZEL!" guncang pelan Ares pada pundak Azel.
"TIDAK! Jangan bunuh aku Pa hiks ... Aku mohon ... JANGAN BUNUH AKU ... TOLONG ...." Teriak Azel semakin menggema dan akhirnya tersadar, serta langsung terduduk di ranjang Ares.
Azel yang baru sadar melihat sekitar dan Ares yang khawatir padanya, dia masih menangis dan malahan semakin terdengar isakan itu. Dia bergetar sangat hebat, dengan wajah yang sulit dijelaskan karena begitu takut dan cemas dengan mimpi yang terasa nyata tadi. Dia kembali memeluk Ares dengan kuat, dia menggigil ketakutan dan detak jantungnya berpacu sangat kencang yang terasa oleh Ares.
Ares begitu sedih melihat Azel sampai terbawa mimpi seperti ini, dia mengeratkan pelukannya agar perempuan ini tenang. Sesekali mengusap lembut punggung Azel, dia membiarkan Azel melepaskan semua beban yang selama ini dia tahan. Biarkan perempuan ini bisa melepaskan semuanya, agar dia bisa kembali tenang.
"Lo aman, lo aman sama gue. Okey?" tenang Ares menatap Azel dengan berjongkok dihadapannya.
"Hiks ... Ares ... Gue nggak mau di bunuh, gue takut. Hiks ... Bantuin gue Res." Isak Azel semakin menjadi.
"Gue takut, gue nggak mau pulang. Ares! Gue mohon." Tambah Azel.
Ares melepaskan pelukan itu, menatap dalam Azel dengan kesenduan yang begitu menusuk hatinya. Sedangkan yang ditatap terus-menerus mengalirkan air mata karena sangat takut dan seakan sangat terancam.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Roman pour Adolescents⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)