Happy Reading :)
***
Azel tengah duduk ditepi rooftop sendirian sembari melihat langit yang sangat cerah siang itu, bel tanda jam istirahat selesai, sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Namun, dia tidak mempedulikan dan memilih untuk bolos kali ini.
Azel hanya diam di sana memikirkan perkataannya pada Ares tadi, apakah dia keterlaluan atau tidak? Namun, ini pilihan terbaik dibandingkan Ares harus selalu bersamanya dan membuatnya akan menjadi celaka nantinya, hanya karena keirian Elina.
Dia ingin melawan kakak tirinya itu, tapi dia masih memiliki kewarasan agar mamanya tidak menjadi tumbal oleh papanya nanti. Dia tidak takut, hanya saja yang akan mendapatkan dampaknya nanti adalah mamanya sendiri. Dia tidak mau melihat mamanya menangis dan bersedih hanya karena dirinya.
"Huh." Hela panjang napas Azel menutup matanya dan mendongakkan kepalanya ke langit.
Andai dengan mudah bisa melenyapkan seseorang, mungkin sudah dia lakukan. Dia sudah sangat geram dengan kehadiran Elina yang selalu saja mengganggunya itu. Dia juga tidak seharusnya seperti itu, karena dia mendapatkan apapun dari papa. Tidak seperti Azel yang sudah kehilangan kasih sayang papanya semenjak dia masih kecil.
"Zel!" Panggil lembut Freya ketika baru sampai di rooftop. Azel hanya diam tanpa menjawab panggilan Freya. Dia yang diacuhkan memilih mendekat dan duduk disamping Azel yang masih menutupkan matanya.
Freya tampak dengan jelas mengerti kalau sahabatnya tengah memiliki masalah yang sungguh berat saat ini. Sangat terlihat kalau wajah Azel sungguh lelah menghadapi masalah yang kembali menerpanya.
Freya tampak begitu sakit melihat sahabatnya bersedih seperti ini, dia tidak ingin sahabatnya bersedih. Apalagi mengingat Azel yang pernah ingin mengakhiri hidup karena masalah itu dulu, hingga mengubah sikap cerianya menjadi dingin seperti ini.
Beberapa tahun lalu ...
"Frey! Aku kemarin habis ke gramed! Huaaa ... bukunya bagus-bagus semua. Pengen beli, tapi aku nggak ada uang. Hiks!" teriak Azel baru sampai di sekolah berlari ke arah Freya yang tengah serius membaca buku.
"Ihhh ... kok nggak ngajak-ngajak sih? Kan aku juga mau ikut." Cemberut Freya mendengar perkataan Azel tadi.
"Ya maap, aku pergi bareng mama sama papa. Seneng banget pas papa ngajak aku kemarin, terus dia nanyain aku mau apa. Terus dia ngusap kepala aku kemarin, huaaa ... kayak mimpi sih Frey." Gembira Azel menceritakan semuanya,
"Wah! Iya? Seneng ya jadi kamu Zel, aku nggak pernah jumpa papi sejak aku lahir." Sendu Freya menundukkan kepalanya. Sehingga Azel yang merasa bersalah menceritakan kebahagiaan dia bersama papanya tadi, langsung kalang kabut.
"Frey! Aku nggak bermaksud, aku ke bawa suasana tadi. Maafin aku ya Frey! Walaupun papi kamu udah nggak ada, papa aku tetap papa kamu juga kok. Jadi, jangan sedih lagi. Anggap aja papa aku, papi kamu juga, okey?" hibur Azel sembari memeluk Freya dengan senyum manisnya.
"Makasih ya Zel, kamu sahabat terbaik aku. Huaaa ...." Teriak Freya dengan air mata yang sudah berlinang memeluk erat Azel.
"Iya Frey, kamu juga sahabat terbaik aku. Oiya, nanti kita ke gramed lagi ya bareng mama sama papa aku. Ntar aku ajak deh sehabis sekolah, sekalian bilang kalau ajak kamu juga." Jawab Azel dengan wajah cerianya.
"Yeeee ... makasih Azel." Teriak lagi Freya.
Jam pulang sekolah tiba, Azel yang masih duduk di bangku SD saat itu, langsung menuju gerbang sekolahnya. Menunggu jemputan papanya, tapi setelah lama menunggu, malah yang datang sopir pribadinya. Membuat senyum ceria di wajah Azel malah langsung lenyap.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Teen Fiction⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)