*105* MENGHILANG~

135 8 0
                                        

Happy Reading

***

Sedangkan Azel dan Ares yang baru tiba di sekolah, berjalan menuju kelas berada. Murid-murid masih sedikit yang datang, membuat Azel bertambah kesal dengan kelakuan Ares ini.

"Lo kenapa sih cepet amat ngejemput gue? Tuh liat murid-murid aja yang lain masih belum datang! Lo kira gue mau jadi satpam sekolah?" kesal Azel menatap Ares yang malah merasa tak acuh.

"Udah diem, nggak usah ngomel nggak jelas. Untung gue jemput." Jawab Ares yang memilih lebih dulu berjalan dihadapan Azel.

"Sialan lo!" decak kesal Azel melipatkan tangannya di dada.

Ares yang mendengar malah tertawa dalam hatinya, ternyata dia berhasil membuat perempuan ini kesal hari ini.

"Oiya, gue nanti ada urusan dari istirahat, mau nganter bunda. Jadi, lo tunggu gue ya di gerbang. Gue nanti siap paling sebelum bel bunyi," ujar Ares pada Azel.

"Gue pulang naik gojek aja deh, atau nebeng Reagan." Jawab Azel yang masih menuruti Ares didepannya.

"Nggak ada, gue jemput. Pokoknya lo tunggu gue." Tegas Ares yang membuat Azel bernapas lelah.

"Serah lo dah! Awas kalo lewat setengah jam, gue pulang duluan." Ancam Azel pada Ares.

"Iya, bawel amat." Jawab Ares yang membuat mood Azel benar-benar hancur pagi ini.

"Lo nyari masalah mulu sama gue deh? Lama-lama gue pisahin pala lo sama badan lo ya!" kesal Azel akhirnya menoyor pelan kepala Ares.

"Sialan! Sakit bego! Lo ye, ini KDRT namanya yak!" heboh Ares menoyor balik kepala Azel.

"KDRT? Lo kira kita udah nikah! Ihhhh ... Lama-lama lo bikin emosi beneran!" manyun Azel yang mengejar Ares setelah menoyor kepalanya.

"Nanti, tamat SMA kita gas nikah!" tawa Ares yang bicara enteng banget.

"Ogah, yang ada darah tinggi gue! Woi! Sini bego!" teriak Azel mengejar Ares yang memilih menuju rooftop.

Azel pun mengejarnya, dia malahan sampai lupa kalau tidak boleh kecapekan. Sesampai di atas, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ares. Memanggilnya perlahan, tapi tidak ada sahutan dan terlihat pun juga tidak ada.

Azel tampak ngos-ngosan, dia tetap berjalan mencari Ares. Namun, tiba-tiba sakit di dada kirinya serta sesak napas seperti tadi pagi, malah kembali timbul. Dia sedikit terhuyung, untung saja ada dinding penyangga tubuhnya. Sehigga dia bisa bersandar sembari memegangi dadanya yang bertambah ngilu.

"Hah ... hah ... hah ...." Deru napas Azel semakin menciut, membuat dia menekan kuat dadanya agar bisa kembali bernapas seperti biasa.

"Si-sial!" umpat Azel karena merasa sangat lemah.

"Azel! Lo kenapa? Kenapa sama dada lo? Sakit?" tanya Ares yang melihatnya tengah kesusahan bernapas.

"Ng-nggak, ng-nggak papa kok." Geleng Azel berusaha agar napasnya kembali biasa saja.

"Astaga! Gue minta maaf, lo lari-lari gara-gara gue ngejar lo tadi. Kita ke rumah sakit ya, nanti lo kenapa-napa." Cemas Ares yang merutuki dirinya karena sangat bodoh.

"Hah ... Ud-udah, gu-gue nggak papa kok ... hah ... hah ...." Jawab Azel masih bersikekeuh dengan keringat sudah membanjiri wajahnya karena menahan sakit.

"Zel! Nanti lo kenapa-napa." Mohon Ares yang sudah semakin cemas.

"Gu-gue mau minum aja." Jawab Azel yang langsung membuat Ares segera berlari menuju kantin.

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang