Happy Reading ya :)
***
Pembelajaran hari pertama dimulai hari ini, Ares baru saja tiba di kelasnya pagi ini. Sedikit telat karena dia yang kelupaan membawa materi untuk olimpiade nanti dan berakhir balik pulang di pertengahan jalan. Sesampai di kelas, sahabatnya sudah heboh berkumpul di sudut kelas karena sibuk membicarakan jadwal pertandingan basket.
"Oi Dewa Ares, tumben lo telat?" panggil Reagan yang masih sibuk mendengarkan cerita Gavin.
"Kelupaan bawa materi olimpiade tadi." Jawab Ares singkat sembari berjalan menju ke arah sahabatnya.
"Gini kalo yang sibuk." Sela Farrel menggoda Ares.
"Eh Res! Nanti jangan lupa ya kita final sama anak SMA Nasional." Peringat Gavin karena hari ini adalah jadwal mereka.
"Aman-aman, gue nggak bakalan lupa kok." Jawab Ares menggangguk.
"Hati-hati aja ntar sama si Rendi dia suka curang, dia bakalan lakuin apapun demi kemenangan sekolahnya." Sela Nevan karena teringat dengan pertandingan sebelumnya SMA itu dengan sekolah lain.
"Tuh orang emang nggak mau terima kekalahan, makanya curang." Tambah Keenan sedikit kesal.
"Udahlah, nggak penting amat, oiya gue mau ke piket ya. Soalnya jadwal gue hari ini." Pamit Ares pada semua sahabatnya lalu beranjak pergi karena teringat dengan tugasnya.
"Ares! Tunggu ... Gue juga samaan dengan lo." Teriak Reagan karena mereka sama osis dan jadwal mereka sekarang.
"Huuuu ... Pada sibuk kita mah gini-gini aja." Teriak Nevan yang dengan santainya menaikkan kedua kakinya ke meja.
"Kita sibuk juga kok, sibuk mager karena kalo tidak ada rakyat seperti kita. Maka tidak ada yang namanya beban negara." Jawab Gavin dengan santainya pada Nevan.
"Bangga sekali lo jadi beban negara ya?" cemooh Farrel pada Gavin.
"Pastinya, karena itu adalah suatu kebanggaan tersendiri. Kalo kita tidak ada, maka negara ini tidak akan dikatakan macan tertidur." Jawab Gavin dengan otak dangkalnya.
"Astaga, gobloknya kelihatan sekali epribadehh." Tawa Keenan menoyor kepala Gavin.
***
Azalea terbangun pada pukul setengah tujuh lewat lima menit, dia melihat dengan datar jam wekernya lalu berjalan santai ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai dengan semua, dia memakai seragamnya dan tidak lupa pula dengan niat yang tidak ada sama sekali untuk memasukkan satu buku tulis ke dalam tasnya beserta satu pulpen, karena dia tidak mau membawa satu kotak pensil, yang ada bakalan di pinjam dan berakhir tidak dikembalikan.
Satu lagi alasan Azel hanya membawa satu buku, karena buat apa membawa banyak buku? Toh nanti belajar cuma perlu otak. Untuk apa di catat semua materi dari guru kalau tidak dibaca. Mending di simpan di otak saja, tanpa capek-capek menulis. Itulah minset seorang anak tunggal yang bernama Azalea Rosalind ini.
Memang dia selalu simpel dan tidak peduli dengan semuanya, tapi kalau ditanya apapun Azel sudah sama seperti ibu-ibu. Semua yang kita tidak tau dimana letaknya dan bertanya kepada ibu kita, pasti mereka langsung tau, malahan kita sudah mencarinya di sana berkali-kali namun tetap tidak ada. Seperti itulah Azel, apapun yang tidak kita tau dia sudah tau duluan. Cuma tentang pelajaran ya, bukan takdir jodoh kalian. Emang dia peramal, yakali.
"Azel, ayo sarapan dulu. Kamu mama bangunin susah amat, nanti telat lagi sayang. Udah capek mama bolak-balik ke sekolah cuma dapat teguran karena kamu terlambat," ujar Ranti yang sudah pusing menghadapi sikap anak semata wayangnya yang sudah sama dengan laki-laki ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Jugendliteratur⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)