"Oke, tiati ya dan makasih lo udah bantu gue selama beberapa minggu ini." Balas Azel tersenyum dengan Ares.
"Tan, aku pamit ya." Pamit Ares menyalimi Ranti yang tersenyum cerah pada Ares.
"Makasih ya Nak, kamu udah bantuin Azel. Tante berutang sama kamu," ucap Ranti mengusap puncuk kepala Ares penuh sayang.
"Udah tugas aku bantu Azel yang kesusahan Tan, lagian malam itu pas dihadapan aku, aku jumpa Azel makanya aku bantuin. Syukur dia nggak papa, cuma luka ringan. Oiya, tante sama Azel kalau digituin lagi, bilang sama aku ya." Jawab Ares merasa tidak enak sampai diperlakukan seperti ini.
"Makasih sekali lagi ya." Senyum Ranti sangat berterima kasih.
"Iya Ta, aku pergi dulu. Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam. Zel! Pagi gue jemput, jangan sampe telat bangun. Oke?" ingat Ares mengusap puncak kepala Azel dengan senyum manisnya.
"Nggak usah, gue mau bawa motor aja." Geleng Azel menolak karena merasa tidak enak merepotkan Ares lagi. Lagian dia juga kangen dengan Bubanya, makanya dia begitu senang sudah balik.
"Nggak ada penolakan, lagian kaki lo baru pulih beberapa hari ini. Jadi, buat sementara waktu biar gue jemput aja." Nasehat Ares yang kemudian hanya diangguki Azel. Karena memang kakinya masih rada ngilu akibat terkilir minggu lalu sebab ulah Vanya.
"Kaki kamu kenapa emangnya?" tanya Ranti melihat kaki Azel.
"Cuma terkilir Ma pas olahraga. Udah nggak papa kok, ngilu dikit aja lagi." jawab Azel dengan senyum penuh arti, agar Ranti tidak khawatir padanya.
"Kirain kenapa. Ya udah, Ares jangan makan dulu ke sini besok pagi. Sarapan di sini aja, sekalian tanda ucapan terima kasih tante juga," ujar Ranti tersenyum pada Ares.
"Aduh, nggak enak aku Tan. Jadi, ngerepotin aku jadinya." Senyum tidak enak Ares.
"Nggak papa, lo emang nggak mau coba masakan mama gue?" tanya Azel menatap Ares.
"Iya juga ya, masakan anak tante aja enak banget. Apalagi tante, pasti lebih enak." Puji Ares yang membuat Azel langsung membelalakkan kedua matanya.
"Wah! Jadi, Azel udah pernah masakin kamu ya? Kapan?" kepo Ranti sekalian menggoda Azel.
"Ihhhh ... Mama nggak usah denegrin dia. Udah sono lo pulang, ke buru magrib nanti. Bye Ares." Dorong Azel pada punggung Ares berusaha tersenyum terpaksa. Namun, yang sebenarnya dia ingin teriak ke Ares. Bisa-bisanya malah bilang kayak gitu.
"Hahahaha ... Aku balik ya Tan." Teriak Ares tertawa melihat Azel yang malu.
"Ciee ... Anak mama udah pandai pacaran ya?" goda Ranti menatap Azel yang sudah berusaha biasa saja.
"Ihhh ... Nggak kok Ma!" geleng Azel tetap berwajah datar.
"Inget ya sayang! Jangan terlalu dalam menaruh rasa sayang dan cinta ke seseorang. Bukannya mama nggak ngebolehin kamu deket atau gimana sama Ares. Namun, apapun yang berlebihan tidak baik, oke?" peringat Ranti mengusap penuh sayang pipi Azel. Azel yang mendengar menatap dalam mata mamanya.
Memang benar kata mamanya, apapun yang berlebih bakalan sangat menyakitkan nantinya.
"Oke Ma." Angguk Azel tersenyum tipis.
"Mama takut kamu disakiti dengan yang namanya laki-laki Nak. Kamu sangat berharga bagi mama, jadi jangan mudah didekati sama laki-laki." Tambah Ranti.
"Iya Ma, aku paham kok. Ini aja aku bisa deket sama Ares karena dia ngerti aku kok Ma. Lagian sekarang rasa percaya aku sama dia, belum sepenuhnya." Jawab Azel menggangguk mengiyakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Teen Fiction⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)