*109* PERGI YANG SEBENARNYA~

308 5 1
                                        

Happy Reading

***

Berita Azel meninggal sudah diumumkan pihak sekolah, membuat semua murid dan guru langsung kaget atas meninggalnya murid pemalas tapi sangat jenius itu. Pihak sekolah mengumumkan agar pergi berziarah ke makamnya hari ini. Karena jenazahnya akan di kebumikan siang ini.

Semua murid dan teman sekelas Azel pergi ke rumahnya, untuk berbela sungkawa dan mereka juga tidak menyangka kalau umur Azel akan secepat itu. Bu Rika yang merasa begitu kehilangan menangis melihat jenazah Azel dibopong ke liang lahat.

Dia benar-benar kehilangan murid yang sangat dia sayangi, murid pintar namun selalu diremehkan sekolah. Dia benar-benar tidak menyangka Azel akan pergi untuk selamanya. Dia benar-benar syok mendengar berita itu tadi pagi.

Freya yang melihat Azel, hanya menatap sendu. Dia sudah tidak bisa menangis karena tidak akan ada gunanya lagi, Azel sudah tenang di sana. Malahan Azel bakalan sedih melihat dia terus-terusan bersedih.

"Zel! Yang tenang ya di sana, gue sayang banget sama lo. Gue bakal selalu nemuin lo di sini dan cerita apapun ke lo," ujar dalam hati Freya berusah tegar.

Ares dan Reagan yang membantu memasukkan jenazah Azel ke dalam kubur hanya sedih dalam diam. Mereka menggali tanah kembali dan menutupi jenazah Azel yang sudah berada di liang lahat.

Tak lama, acara pemakaman selesai dan semua orang mulai beranjak pergi. Ranti dan Wisnu masih di sana, sembari merapalkan doa agar anaknya tenang di alam sana. Bu Rika yang masih di sana, berjalan mendekat ke orang tua Azel.

"Saya ikut berduka cita atas meninggalnya Azel ya Pak, Bu. Azel anak yang pintar, saya sayang banget sama dia, tapi ternyata Tuhan lebih sayang sama dia. Bapak sama ibuk, harus sabar ya," ujar Bu Rika tersenyum lalu permisi pergi.

Ranti dan Wisnu hanya menggangguk, lalu mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia memanggil Ares yang masih berjongkok di sebelah kanan batu nisan yang bertuliskan Azalae Rosalind di sana.

"Ares! Kita pulang duluan ya, kamu harus bisa ikhlasin Azel. Dia bakalan selalu lihatin kamu di atas sana. Jangan larut dalam kesedihan, nggak baik." Tenang Ranti mengusap bahu Ares sebentar.

"Azel sayang kamu, jadi jangan sedih terus. Nanti dia ikutan sedih lihat kamu." Tambah Wisnu ikut tersenyum.

"Iya Om, Tante." Angguk Ares membalas senyum mereka.

Lalu mereka pergi setelah pamit ke Freya dan Reagan juga. Mereka berjalan mendekati Ares, lalu mengusap bau Ares memberikan kekuatan dan semangat padanya.

"Denger apa kata Om Wisnu sama Tante Ranti tadi, lo harus kuat. Jangan berlarut dalam kesedihan, ikhlasin dia ya." Peringat Freya kembali dengan senyum terukir di wajahnya, walau sulit tapi dia harus bisa.

"Bener, Azel bakalan sedih liat lo. Dia pasti selalu lihatin lo dari atas, jadi lo masih bisa cerita sama dia walau nggak secara langsung." Tambah Reagan menenangkannya.

"Iya, gue bakal usaha ikhlasin dia." Senyum Ares menatap mereka sebentar lalu kembali menatap batu nisan tadi.

"Ya udah, kita balik duluan ya." Pamit Reagan pada Ares yang hanya dia angguki.

Dia hanya terdiam mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Azel dan tanggal lahir serta wafatnya. Bahkan dia belum sempat memberikan kado untuk Azel kemarin, tapi Azel sudah duluan pergi.

"Azel! Selamat ulang tahun ya, kemarin gue udah bikin kejutan di rumah lo bareng yang lain. Tapi, hal tak terduga malah terjadi. Maaf ya, nggak bisa bikin lo bahagia disaat terakhir lo. Gue sayang banget sama lo. Sekarang lo mungkin udah nggak ngerasain sakit lagi ya? Lo pasti juga udah jumpa sama adik kembar lo. Semoga lo bahagia dan tenang di atas sana," ujar Ares tersenyum tegar.

AZALEA [Completed] Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang