Happy Reading
***
Keesokkan harinya, sepulang sekolah Ares kembali menjenguk Azel. Namun, kali ini bundanya ikut bersamanya. Karena dia yang juga khawatir dengan Azel, walaupun mereka baru bertemu beberapa kali, tapi Intan sudah menganggapnya anak sendiri.
Sesampai mereka di sana, Ares mengetuk pintu ruangan Azel. Ranti yang mendengar, langsung membukakan pintu dan tersenyum ketika melihat Ares ada di sana. Didalam hanya ada Azel beserta Ranti.
"Assalammualaikum." Salam Ares dengan bundanya memasuki ruangan itu.
"Waalaikumsalam." Jawab Azel dan Ranti bersamaan.
"Halo sayang! Gimana keadaan kamu? Udah membaik? Ini tante bawain buah buat kamu." Senyum Intan mengusap kepala Azel dengan sayang.
"Hai Tan! Udah mendingan kok tante, makasih ya tante. Udah ngerepotin pula." Balas Azel tersenyum merasa tidak enak.
"Oiya Ma, ini bunda Ares. Dulu pas aku kabur, aku dibolehin tinggal di apartemen Ares sama Tante Intan. Tante itu mama aku," ujar Azel memperkenalkan mereka.
"Wah, makasih ya. Sudah menolong anakku." Senyum Ranti pada Intan yang tersenyum pula.
"Tidak masalah, aku juga sudah menganggap Azel sebagai anakku sendiri. Iyakan Zel?" senyum Intan lagi ke Azel.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak salah tamatan SMA 1 Wijaya ya?" tanya Ranti merasa familiar.
"Iya, aku di kelas IPA dulu." Angguk Intan mengiyakan.
"Oalah, pantes deh kayak kenal. Kita satu angkatan, tapi aku IPS." Jawab Ranti yang terlihat sudah akrab dengan Intan.
"Oh iya, bukannya kamu yang dulu sempat menghebohkan satu sekolah gara-gara ditembak sama pangeran sekolah bukan?" tanya Intan karena melihat wajahnya mirip sekali.
"Ah, kamu masih inget aja. Kita ngobrol diluar yuk, nggak enak di sini. Sekalian biarin mereka bicara juga." Ajak Ranti menarik Intan yang sudah teralihkan perhatiannya.
"Astaga! Ditinggal lagi. Gue bosen." Manyun Azel bersandar setelah mama dan bunda Ares keluar ruangan.
"Nih bunga yang gue janjiin." Kasih Ares pada Azel, bungan krisan warna putih tapi tetap setangkai.
"Ihhh, siapa yang minta?" tatap Azel menaikkan satu alisnya.
"Udah diem, terima aja." Jawab Ares mengambil tangan Azel dan memberikan padanya.
"Pemaksaan!" cibir Azel, tapi tetap tersenyum sembari mencium bau harum dari bunga itu. Membuat Ares tertawa dengan kegengsian Azel.
"Lo udah makan siang?" tanya Ares melihat nakas dekat ranjang Azel yang masih terisi penuh dengan makanan yang ditutup dengan plastik.
"Nggak ah, males. Nggak ada rasa." Jawab Azel menatap Ares yang duduk didekatnya.
"Makan dulu, lo mau lama-lama di sini?" tatap tajam Ares pada Azel.
"Siapa lo main suruh-suruh aja?" tanya Azel menatap seakan menantang.
"Calon pacar lo eh nggak deh, calon suami lo." Jawab Ares ngelantur. Namun, membuat wajah Azel langsung memerah.
"Ke PD-an lo."
"Udah, makan dulu. Gue suapin, nggak ada tapi-tapian." Tegas Ares mengambil nasi yang tertutup dan mengambil lauknya di sana.
Dia memotong, lalu menyuapkan ke Azel yang tetap diam mengacuhkannya.
"Makan atau gue paksa?" tatap Ares kembali dengan mata tajamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AZALEA [Completed]
Fiksi Remaja⚠️Follow dulu sebelum membaca⚠️ Ini bukan kisah seorang cewek yang berkonflik dengan cowok bad boy, bukan juga kisah cewek yang humble ke semua orang dan berakhir disukai cowok idaman satu sekolah dan bukan juga kisah cewek yang dikejar seorang cowo...
![AZALEA [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/282799761-64-k934262.jpg)