34. Avocado Coffee Latte

430 57 18
                                        

.

.

.


Roseanne Park



"Baru kemarin aku bilang, aku tidak ingin mengganggu Lisa lagi dengan dunianya. Sekarang malah aku yang tidak sanggup menolak kehadirannya?

Apa aku membuatnya kehilangan ketika aku tidak mencarinya?

Atau Lisa merasa iba padaku setelah mendengar cerita soal orang tuaku?

Aku melihat cafe belum buka juga sampai jam 11. Pasti dia berbohong kalau sudah mengajarkan persiapan kepada anak buahnya. Hanya untuk menemaniku..

Lisa sangat manis, perhatian dan selalu menyediakan apa yang aku butuhkan."


Lisa _ Selamat bekerja my Rosie, jangan lupa dimakan bekal makan siangnya _


"Look, dia bahkan masih sempat memikirkanku disaat repot seperti itu. Dia mengingatkanku makan dua kali.

Lisa.. Bagaimana bisa aku menjauh dan membiarkannya menghilang sendirian?

Tidak mau tahu, aku akan mencari apa penyebab Lisa sering menghilang seperti itu sendiri. Kalau dia tidak mau memberitahunya kepadaku."



"Eleh eleh, baru datang udah ngelamun aja." tegur Ashley yang melihat Rosie memandang kosong ke arah monitor.

"Tidak."

"Hm mikirin Alice kah?"

"Tidak juga. Aku harus belajar hidup sendiri pada akhirnya."

Ashley mengangguk-angguk. Lalu mulai duduk di meja kerjanya yang berhadapan dengan Rosie. Rosie sendiri sudah menghidupkan PC dan akan memulai pekerjaan.

"Aku lihat tadi kamu datang bersama Lisa." kata Ashley penasaran. "Apa dia menemanimu di rumah?"

Rosie menghentikan gerakannya pada keyboard sejenak. Lalu melanjutkannya.

"Iya, kemarin mengantarkan kue pesananku. Kamu juga kan yang menceritakan masalah orang tuaku padanya?" Rosie bertanya balik.

"Habisnya Lisa tidak tahu akan hal sepenting itu. Katanya kalian sudah berteman dekat?" Ashley yang masih penasaran memberondong Rosie dengan pernyataan dan pertanyaan. "Jadi aku beritahu saja, Lisa khawatir banget mukanya."

"Aku sengaja tidak cerita, kalau tidak ditanya. Harusnya kamu tahu itu."

"Fine, tapi.. Aku sudah disini dari jam 9 tadi. Dan aku lihat Lisa dan dirimu di depan tadi bergandengan tangan dan menatapmu begitu mesra. Bisikan di telinga."

Rosie kembali menghentikan gerakan jari jarinya. Menerka-nerka apa kata yang akan dilontarkan selanjutnya. "Apa begitu kebiasaannya di Thailand?"

Rosie menghela nafas panjang sembari memikirkan alasannya.

"Mungkin." jawab Rosie sesantai mungkin. "Aku tidak keberatan."

Ashley mengerutkan kening curiga.

"Kebiasaan yang romantis."

Rosie memilih untuk tidak menanggapi omongan Ashley yang mulai kemana-mana.


"Sial kenapa sih aku harus punya teman kepoan gini sih."

Taste of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang