.
.
.
Pagi itu pukul 9 pagi seseorang datang ke Serendipity. Seseorang yang membawa kunci dan langsung masuk ke dalam.
“Sedang apa kalian berdua?”
Suara itu tentu membuat Daniel yang sedang membuat adonan pie gelagapan. Karena dirinya tidak sendirian di dalam sana.
“LISA?! Kapan datang??”
Daniel malah balik bertanya kepada Lisa yang ternyata memutuskan untuk mengecek Serendipity. Alisnya mengerut ketika melihat Jess yang biasanya tidak ada disana sebelum cafe buka.
“Berduaan? Di dapur? Yang benar saja Daniel.”
Lisa mengomelinya, karena jelas sekali mereka nampak sangat akrab berdua. Di dalam cafe yang tertutup.
“Ehm aku mengajarinya melakukan persiapan, j-jadi nanti misal aku atau kamu tidak ada, dia bisa sendiri. Begitu Lisa.” jelas Daniel terburu-buru. “Lagian kamu kesini kok gak bilang-bilang?”
“Untuk apa bilang? Biar ada penyambutan gitu?”
Sementara berdua ngobrol, Jess hanya diam saja tapi lanjut mengerjakan hal yang tertunda tadi. Daniel segera melepas apron dan menghampiri Lisa.
“Sedang libur kah?” Daniel pun mengajak Lisa ke depan pantry. “Mau kopi? Teh?”
“Air putih saja deh.”
Lisa meletakkan tasnya di kursi sebelah,
“Aku.. Sebenarnya kesini untuk mengecek saja, cafe.. Dan Rosie.”
Daniel menyeringai saja menanggapi.
“Rosie? Kenapa?” Daniel malah bertanya balik.
“Dia… sepertinya sudah melupakan aku.” kata Lisa sambil menundukkan pandangan. Daniel kemudian menyodorkan secangkir espresso. “Kan aku minta air putih tadi.”
“Sudah diminum aja.” Dia pun membuat untuk dirinya sendiri.
Daniel pun tidak memberikan tanggapan dulu, sampai Lisa menyelesaikan curhatannya.
“Jadi sebenarnya Rosie pernah cerita sesuatu ke kamu gak sih?” Lisa mengatakan itu sambil sesekali melirik Jess di dapur, kiranya semua ucapannya tidak terdengar.
“Tidak ada. Dia kesini paling hanya membahas pekerjaannya saja ke aku.”
Lisa nampak kecewa, tapi dia sendiri tidak ingin Rosie terlalu sedih ditinggal olehnya. Ada dilema di hatinya saat ini. Makin menjalani terapi dan memikirkan kesembuhannya, dia jadi lebih melankolis dari biasanya.
“Kenapa Lisa? Bukannya bagus kalau Rosie sudah tidak menggalauimu terus?”
“Ya sih.. Tapi, sikapnya yang seperti itu, padahal baru 3 bulan. Agak tiba-tiba saja buatku.”
“Kamu mau menemuinya?” tanya Daniel yang penasaran,
“Tidak tahu, aku takut membuatnya galau lagi? Apa aku terlalu percaya diri kalau dibilang begitu?” Lisa malah nanya balik.
“Gak juga sih. Sepertinya.. I-ini hanya se penglihatanku saja ya.”
Kalimat yang mencurigakan di telinga Lisa. Membuatnya tidak sabar menanti apa yang sebenarnya ingin dikatakan Daniel.
“Apa? Katakan saja.”
“Melihat Rosie yang hanya menceritakan pekerjaannya saja, dan tidak pernah bertanya tentang dirimu.” Kalimat terhenti sejenak, karena Lisa dan wajah seriusnya terus memperhatikan Daniel bicara. “Kurasa dia sudah move on.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Taste of Love
FanfictionKetika Lisa si tukang masak yang dingin dan anti sosial. Bertemu dengan Rose si tukang makan yang ekstrovert dan tidak bisa diam. Dimulai dari pelanggan, menjadi partner kerja, lalu teman dekat. Kehidupan yang kelam dan rahasia gelap berdiam di dal...
