110. Ordinary Confession

495 50 25
                                        

Padahal jarak usia mereka tiga tahun, tetapi Jimin enggan memanggil Yoongi dengan embel-embel Kak. Menurut Jimin, Yoongi tidak cocok dipanggil kakak. Yoongi itu tengil, jail, suka mengganggu dan paling penting, wajahnya tidak ada tua-tuanya. Mereka seperti seumuran. Titik.

Dibandingkan dengan adik-adiknya yang lain, Yoongi lebih sering atau justru hanya kepada Jimin ia usil. Padahal adik-adik yang lain juga cukup nakal. Jimin hanya diam membaca buku pun, Yoongi menjailinya. Entah menyembunyikan buku ketika Jimin mengambil air. Mengubah pembatas buku yang menyebabkan Jimin membaca dua kali bagian tersebut. Lebih parahnya, Jimin paling anti dengan melipat buku. Jimin pernah marah besar dan seminggu tidak bicara dengan Yoongi karena ada lipatan besar di bukunya.

Namun, kejahatan yang dilakukan Yoongi sirna ketika anak itu duduk di bangku tahun ketiga SMA. Yoongi lebih diam, tidak usil, dan menurut Jimin bersikap layaknya anak yang usianya lebih tua.

Pernah karena terlalu sepi, giliran Jimin yang mengusili Yoongi. Jimin menyembunyikan buku belajar Yoongi di suatu tempat. Namun, itu tidak berlangsung lama karena Jimin lebih dulu takut dengan tatapan Yoongi. Sejak itu, Jimin tidak lagi berani mengganggu Yoongi.

"Kau duduk di sini?" tanya Jimin suatu hari.

Yoongi yang sedang berlajar matematika menoleh. "Kenapa?"

Itu bangku favorit Jimin. Letaknya persis di depan jendela dengan pemandangan bunga halaman belakang. Jimin sering membaca dan belajar di sana. Lantas, melihat Yoongi duduk di sana adalah pemandangan tidak biasa. Yoongi lebih sering belajar di kamar.

Terlalu takut dengan tatapan Yoongi, Jimin memilih tidak menjawab, lalu mencari kursi lain. Ia duduk dengan jarak tiga kursi menghadap tembok. Ketika menoleh, Jimin tidak menyangka jika Yoongi masih melihatnya.

"Kenapa?" tanya Jimin.

"Jangan menggangguku ketika aku sedang belajar."

Mulut Jimin total jatuh. Lihat siapa sekarang yang tidak ingin diganggu ketika sedang belajar? Yoongi harusnya berkaca, atau kalau perlu akan Jimin bawakan di hadapannya sekarang juga. Ia yang dulu selalu mengganggunya!

*

*

*

Akhirnya, Jimin mengerti alasan kenapa Yoongi lebih kalem. Kalem yang dimaksud adalah tidak mengganggunya lagi. Barangkali Yoongi sudah sadar bahwa saatnya ia menjadi sosok dewasa. Jimin memahami betul bahwa ujian masuk perguruan tinggi merupakan hal paling penting karena sangat menentukan nasib dan karier seseorang. Karena itulah mungkin Yoongi lebih pendiam. Yoongi juga lebih sering pulang malam, menyendiri, dan waktu bermain dengan adik-adik yang lain tidak sesering dahulu.

Pertanyaannya, ke mana Yoongi akan kuliah? Universitas mana yang ia inginkan? Jimin sangat penasaran hingga suatu malam usai satu bulan ujian masuk universitas, Ibu Panti meminta semua anak-anak berkumpul di ruang tengah.

Ibu Panti atau akrab disapa Ibu Ong mengatakan bahwa ia mempunyai berita penting sekaligus membanggakan. Jimin duduk sopan di antara adik-adiknya. Ia terlalu asyik bergurau hingga tidak sadar jika Yoongi duduk di sebelahnya persis.

Setelah menyampaikan beberapa kalimat pembuka, seperti betapa Ibu Ong menyayangi anak-anak panti layaknya anak sendiri sekaligus kebanggaan wanita itu memiliki mereka, akhirnya ia mengatakan inti utama dari acara malam ini.

Semua bertepuk tangan dan bersuka cita atas kelulusan Yoongi yang diterima di Seoul National University (SNU), tanpa terkecuali Jimin. Anak-anak yang lebih muda menghampiri Yoongi untuk memberikan ucapan selamat dan pelukan. Jimin yang duduk di sebelahnya pun tergeser dan memperhatikan itu semua.

ChorusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang