Pemandangan pertama yang dilihat Yoongi ketika membuka mata adalah raut wajah Jimin yang tampak lega. Yoongi heran akan raut kelegaan ditampilkan Jimin, hingga ia menyadari sesuatu. Perlahan tangan Yoongi mengambil satu-satunya benda yang memberikan beban pada dahinya, yakni sebuah handuk kecil yang agak basah
"Jimin?" Yoongi terkejut dengan suaranya sendiri yang terdengar serak. Mendadak ia juga merasa haus.
"Kenapa tidak bilang jika kau sakit, Bodoh?" Tahu-tahu Jimin memeluk Yoongi. Suaranya sarat akan kecemasan.
Yoongi bahkan tidak sadar jika ia sakit. Berarti yang tadi hanya mimpi? Tokoh jahat yang merupakan dirinya itu hanya mimpi efek demam? Yoongi lebih dari sekadar lega. Ia tidak bisa membayangkan jika perlakuannya kepada Jimin sama persis di mimpi buruknya.
Seiring kehangatan dari pelukan Jimin, rentetan mimpi itu kembali terputar dalam kesadaran Yoongi. Bagaimana ia membohongi Jimin, menduakan, bahkan memanfaatkan kepolosan pemuda itu.
Satu-satunya kebohongan yang ada di mimpi Yoongi hanyalah perannya yang jahat terhadap Jimin. Yoongi tulus melayani keluarga Park. Yoongi tulus menyayangi Jimin. Bahkan Yoongi sangat-sangat mencintainya. Ia tidak akan mungkin bermain di belakang Jimin.
"Maaf sudah membuatmu khawatir," lirih Yoongi yang ternyata masih tak bertenaga.
Jimin pun bangun. Ia tatap Yoongi sambil mengusap dahi hingga pipi kekasihnya. Setidaknya demam Yoongi sudah turun.
"Ayo bangun dahulu. Kau harus ganti baju," titah Jimin. Ia cekatan mengambil keperluan yang sudah disiapkan selama Yoongi tidak sadarkan diri.
Yoongi hanya menurut ke depannya, mulai dari ganti baju dibantu Jimin hingga makan pun disuapi. Pokoknya Yoongi menurut sambil mendengar omelan Jimin yang sangat-sangat khawatir ketika menemukan Yoongi sudah tergeletak di lantai.
"Segala berargumen buat tidur di kamar berbeda. Seharusnya kau menurut denganku, Yoongi, kita tidur satu kamar. Bagaimana jika aku tidak berkunjung ke kamarmu? Kau mungkin semalaman akan tidur di lantai. Kau membahayakan nyamamu. Apa susahnya menurut sih? Kita juga sering tidur satu kamar."
Omelan Jimin adalah obat sesungguhnya. Yoongi yakin ia sudah sembuh. Meski ada rasa bersalah, tetapi Yoongi senang mendengar omelan Jimin.
"Kalau kita tidur sekamar, kita tidak akan tidur aw--"
"Orang sakit dilarang mesum," potong Jimin usai mencubit perut Yoongi.
"Dilarang mencubit orang sakit." Yoongi pura-pura memasang wajah kesakitan.
Jimin cemberut, tetapi tetap lanjut menyuapi Yoongi. Sejujurnya Yoongi sangat paham bahwa intonasi maupun cubitan Jimin adalah bentuk kekhawatirannya. Ini bukan kali pertama Yoongi pingsan di lantai. Jimin sudah dua kali menemukannya pingsan. Ketika dokter memeriksanya, ia mengatakan bahwa Yoongi kelelahan.
***
Jimin benar-benar merawat Yoongi dengan telaten. Setidaknya keadaan pelayan pribadi sekaligus kekasihnya kini lebih baik. Jimin mengelap tubuh Yoongi dengan air hangat. Sekadar gosok gigi pun ia melarang Yoongi turun dari ranjang. Sebagai gantinya, Jimin membawakan nampan sebagai wadah air untuk Yoongi gosok gigi.
"Kau yakin sudah merasa enak?" tanya Jimin kesekian kalian.
"Kau minta aku mengelilingi lapangan di depan sebanyak 10 kali pun aku sanggup."
Jimin berdecak sebal. Ia tahu Yoongi mampu, tetapi kesombongan kekasihnya ini membuatnya kesal. Dibandingkan lari mengelilingi lapangan, bukankah ada cara yang lebih efektif untuk membuktikan apakah Yoongi benar-benar sudah sembuh atau belum?
KAMU SEDANG MEMBACA
Chorus
FanfictionChorus merupakan kumpulan kisah manis Yoongi dan Jimin di dunia mereka yang disebut YoonMin's World. 🐱🐤 "Hyungie ..." rengek Jimin. "Apa, Sayang?" balas Yoongi. Jimin yang bersandar pada belahan hatinya mendongak, mencoba untuk menarik atensi dari...
