Jadwal keberangkatan seseorang sudah bocor di mana-mana. Kerumunan orang memadati area bandara, mulai dari wartawan, penggemar, hingga orang lain yang ikut-ikutan saja. Mungkin bahasa gaulnya sekarang adalah fomo. Mereka semua sudah siap mengabadikan dengan gawai maupun kamera profesional.
Akhirnya, sosok yang dinanti pun tiba. Pintu mobil terbuka dan tidak menunggu lama, Park Jimin menghebohkan semua yang ada di sana. Semua orang memanggil namanya.
Dikira bakal mengenakan pakaian serba tertutup, Jimin justru tampil dengan busana mengundang mata. Ia mengenakan pakaian yang terlihat simpel, tetapi tidak dengan harga dan aksesoris yang dipakai. Kemeja putih kebesaran dengan tiga kancing teratas ditanggalkan, kacamata bak dosen kekinian, tas selempang mahal, serta yang paling mencolok adalah rambut pirangnya.
Jimin merupakan model sekaligus aktor yang tengah naik daun, tetapi justru hiatus di tengah-tengah kepopulerannya. Ia tampil perdana di depan publik usai satu tahun vakum. Orang-orang terkejut ketika mendengar informasi resmi, bahwa Jimin akan menghadiri peragaan busana bergengsi, yakni Paris Fashion Week. Maka dari itu, banyak di antara mereka yang meliput keberangkatan Jimin dari Bandara Incheon.
Kembali ke suasana saat ini, Jimin tersenyum manis dan merespons singkat beberapa komentar wartawan. Bahkan, tak sedikit yang memuji Jimin yang tampak seksi dengan dada putih susu yang terekspos banyak. Tidak heran situasi agak ricuh hingga membuat pengawal harus ekstra berjaga.
“You’re so sexy, you’re so sexy, Jimin!” Jimin tersipu malu mendengar pujian itu. Ia sempat menoleh ke belakang ketika namanya dipanggil begitu lantang.
Rata-rata penerbangan Korea ke Paris memakan waktu sekitar 17 jam-an. Beruntungnya ketika tiba di sana, Jimin tidak membutuhkan waktu lama untuk dapat istirahat. Begitu sampai di bandara, ia langsung diantar ke hotel.
“Selamat istirahat juga, Kim Hyung.” Jimin pamit kepada manajernya usai diantar ke kamar.
Maka, di sinilah Jimin, sebuah kamar hotel mewah dengan pemandangan Menara Eiffel. Ia memiliki waktu 10 jam yang bisa digunakan untuk istirahat. Pilihan pertama saat ini adalah mandi guna menyegarkan tubuhnya.
Tiga puluh menit berlalu, Jimin menikmati minuman anggurnya usai mandi. Ia tidak langsung mengenakan pakaian tidur, melainkan masih memakai jubah mandi. Rambut pirangnya acak-acakan setelah keramas dan belum kering total. Jimin ingin menikmati malam pertamanya di Paris dahulu. Selain itu, ia juga ingin ….
“Seksi sekali hari ini. Itukah alasanmu melarangku memberi tanda di sana?”
Pinggang rampingnya yang semula kosong, kini sudah terisi sepasang tangan yang uratnya tampak. Jimin mengulas senyum, lalu bersandar di dada bidang kesukaannya. Apa yang disampaikan seseorang tadi memang benar. Jimin ingin tampil memukau, memesona, cantik, tampan, dan hal-hal indah lainnya. Maka, ia meminta kekasihnya untuk tidak memberikan sentuhan mahakarya di tubuh bagian atasnya. Tentu tidak berlaku di area pusar ke bawah hingga paha. Ada banyak noda cinta di sana yang masih membekas. Jimin memberikan pengecualian kepada reporter Min alias pujaan hatinya.
“Gijanim, kau terlambat datang untuk janji mandi bersama, eoh?” Bukannya menjawab pertanyaan, Jimin justru membahas hal lain yang intim.
“Masih belum puas sebelum keberangkatanmu?”
“Eiii … kita hanya mandi bersama, Min Gijanim, bukan eunghhh–”
Jimin mendesah tiba-tiba. Beruntung pegangan gelas di tangannya kuat. Ia menoleh ke samping untuk protes, tetapi langsung dihadiahi kecupan. Jimin berdecak pura-pura sebal.
“Untuk aktor yang usai vakum, kau luar biasa, Sayang. Sangat seksi.”
“Kau terus memujiku seksi sejak di bandara tadi, Gijanim. Padahal Gijanim sudah melihat semuanya.” Jimin terkekeh.
Yoongi tersenyum tipis. Jimin selalu mengalihkan pembicaraan supaya merembet ke arah sana. Sebagai reporter yang punya jiwa kepekaan, Yoongi tahu apa yang diinginkan Jimin. Meski bukan kali pertama menghadiri acara besar ini, tetap saja Jimin merasa gugup, dan Yoongi tahu cara supaya kekasihnya merasa rileks.
“Pegang gelasnya dengan kuat atau benda itu akan melukai kita.”
Dengan demikian, Yoongi reporter dari Pistach memulai kelihaian tangannya. Ia melepas tali jubah, lalu menyibaknya. Terpampanglah kejantanan Jimin yang sudah bangun, tetapi belum sempurna.
“Min Gijanim, eunghhh ….” Jimin melenguh ketika jari-jari itu mulai memijat penisnya.
“Apa malam ini aku bisa memberi tanda di dadamu, Jimin?”
Jimin mengangguk. “Ya, asal jangan sampai leher.”
“Itu lebih dari cukup. Kemarin-kemarin aku harus menahan diri karena hanya bisa menghisap putingmu.”
“Uuhhh, Gijanim ….”
“Gelasnya, Sayang.”
Pijatan Yoongi di milik Jimin makin terampil sebab cairan licin mempermudah aksinya. Jimin kian kacau dan pegangan di gagang gelas diperkuat ketika tempo jari-jari Yoongi yang mengocok kejantanannya berubah cepat.
“Yoonhh … a–aku ….” Jimin seolah telah menemukan perasaannya untuk segera keluar.
“Minumanmu tinggal sedikit, mau aku tambah, hem?”
Otak Jimin berpikir cepat untuk menangkap maksud Yoongi. Lantas, ketika putih itu hendak datang, Yoongi membantu gelas itu supaya mendekat ke penis kekasihnya. Ia tahu Jimin akan gagal mengarahkan gelas untuk menampung maninya ketika pelepasan seperti saat ini. Cairan putih kental itu akhirnya menetes ke dalam gelas. Yoongi menuntun supaya kepala penis Jimin tepat di tengah gelas.
Larutan yang dengan massa jenis yang berbeda itu tampak kontras. Yoongi memastikan Jimin sudah mengeluarkan semuanya. Sesekali ia mengurut seolah sedang memerah. Jimin tentu saja lemas.
Sambil menahan Jimin, kaki-kaki Yoongi mundur ke belakang. Mereka pun duduk dengan Jimin masih bersandar di dada Yoongi.
“Kau harus menghabiskan minumanmu, Jimin.”
Jimin bergidik ngeri. Ia memang lelah, tetapi masih kuat untuk sekadar menyaksikan bagaimana anggur dan mani itu larut menjadi satu.
Yoongi mengarahkan bibir gelas ke mulut Jimin. Tanpa mengelak, aktor itu langsung meneguk setengah anggurnya, kemudian sisanya dihabiskan oleh Yoongi.
“Anak pintar,” pujinya
“Min Gajangnim.”
“Hem?”
“Baru pelepasan sekali, entah kenapa aku sangat lelah.” Keluhan Jimin sangat wajar, sebab ia belum istirahat cukup usai penerbangan yang lama.
“Kalau begitu kita istirahat saja–”
“Tetapi masih ingin penismu.”
Tawa Yoongi meledak. Tidak tahu diri sekali model Park ini. Kendati demikian, Yoongi juga tidak munafik, bahwa ia juga ingin. Setidaknya satu kali masuk memanjakan penis miliknya dan anal Jimin.
“Mau di kamar saja? Aku akan bergerak untukmu.”
“Aku mau!”
Nyatanya, Yoongi dan Jimin tidak cukup sekali. Kenyataan yang lain, Jimin ikut bergerak dengan posisi di atas layaknya bermain jungkat-jungkit. Ia mengendarai Yoongi dengan cakap.
*
*
*
END
🔥
🔥
🔥
Singkat saja untuk memperingati kemunculan Jimin dan kabar membanggakan dari Yoongi 🥹
Terima kasih sudah singgah ke Chorus
KAMU SEDANG MEMBACA
Chorus
FanfictionChorus merupakan kumpulan kisah manis Yoongi dan Jimin di dunia mereka yang disebut YoonMin's World. 🐱🐤 "Hyungie ..." rengek Jimin. "Apa, Sayang?" balas Yoongi. Jimin yang bersandar pada belahan hatinya mendongak, mencoba untuk menarik atensi dari...
