109. No Titlle || 4

477 56 11
                                        

Fakta yang baru saja Jimin ketahui adalah bahwa tindakan Yoongi yang menyeretnya ke panggung, lalu mengaku mereka tunangan, bukanlah sebuah impulsif. Ketika mengetahui jadwal konsernya di Daegu dibatalkan, Yoongi sudah mengatur rencana jika ia akan membalas Jimin dengan cara setimpal.

Yoongi akan membalas perbuatan Jimin dengan sebuah perasaan bahwa ia mulai tertarik dengan mahasiswa itu. Yoongi akan memastikan pertunangan mereka berakhir dengan berjalan beriringan di altar. Itu adalah satu-satunya cara menghukum Jimin dalam sebuah ikatan lebih sakral, yakni pernikahan.

"Aku akan mengumumkan hubungan ini, setelah itu atur cuti untukku. Setelah pengakuanku, media akan heboh dan mencari profil Jimin. Siapkan keperluan kami di penginapan. Sudah lama aku ingin ke sana. Pasti sangat seru menyaksikan kekesalannya yang harus tinggal denganku hahaha."

"Jangan terlalu bersikap dingin. Jika suka, katakan suka. Kau suka sekali membuat anak orang kesal."

"Aku ingin anak itu menyadarinya sendiri. Sampai saat ini, anak itu selalu menganggap sebagai peran pengganti kakaknya."

"Rencana awalmu memang begitu, kan?"

"Aku tidak tahu jika akan ada momen seperti ini."

"Konyol sekali. Kau justru menyukai anak itu."

"Teruslah mengejekku, Manajer Jung."

Itulah isi pesan tangkapan layar yang dikirim Mr. Jung kepada Jimin. Sebuah pesan yang memengaruhi Jimin bertindak lebih dahulu, yakni mencium Min Yoongi. Kendati begitu, Jimin ingin mendengar pengakuan secara langsung, yaitu kenyataan bahwa Yoongi menyukainya.

*

*

*

Sekitar dua menit usai kenikmatan dari pelepasan, Jimin perlahan membuka mata. Ia melihat Yoongi menaunginya dengan tatapan, entahlah Jimin bingung mendeskripsikannya. Apakah itu tatapan seseorang yang terpesona?

Karena tidak tahan dengan situasi yang begitu canggung, Jimin membawa Yoongi dalam pelukan. Ia menarik tubuh pria itu sehingga jatuh menimpanya. Jimin tidak masalah dengan keban yang ia terima. ia hanya ingin selamat dari rasa canggung, pipi merah, dan degup kencang yang enggan berkurang.

"Memalukan sekali," aku Jimin yang memandang rimbunan daun.

Yoongi tidak menanggapi, tetapi ia mencari posisi nyamannya. Hidungnya mengendus aroma di area perpotongan leher Jimin. Sungguh situasi yang sangat nyaman. Yoongi tidak menyangka akan ada di momen seperti ini bersama Jimin. Mereka berciuman, lalu pelukan seperti saat ini.

"Kau bisa melepasku." Yoongi cukup tahu diri untuk tidak menyiksa Jimin dengan menimpanya lebih lama.

"Kau akan meledekku–"

"Pelepasan itu normal. Kau tidak perlu malu." potong Yoongi.

"Ck. Kau langsung membahasnya." Rengekan Jimin justru mengundang tawa Yoongi.

"Hahaha ... Sekarang lepaskan aku, oke? Kalau kau masih ingin memelukku, setidaknya kita harus memperbaiki posisi agar nyaman."

Jimin mendengus. Ada perasaan tidak rela, tetapi akhirnya, Jimin melepaskan Yoongi. Penyanyi itu bangun, lalu duduk bersila. Yoongi melihat celana Jimin di area itu basah. Warna celana yang terang membuat bekasnya terlihat begitu jelas. Selain basah, bagian itu juga sedikit menggembung. Apa Jimin masih ingin pelepasan?

"Jangan berpikir macam-macam." Tuduhan Jimin mendasar karena mimik wajah Yoongi yang terus melihat miliknya. Tangan kecil itu menutupi areanya yang masih sensitif.

ChorusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang