112. No Tittle || End

519 40 9
                                        

Hampir empat ribu kata.
Jangan lupa tulis komentar di bagian yang kalian suka.
Kalau bisa di setiap paragraf, sih, ya ha-ha-ha ....
Selamat membaca semuanya ....

*

*

*

Mereka berciuman–lagi. Entah sudah menghabiskan menit ke berapa bibir Yoongi dan Jimin saling mencicipi. Tidak ada lagi rasa canggung ketika Jimin duduk di pangkuan Yoongi sambil merangkul leher tunangannya. Jimin menikmati, begitu pula Yoongi. Mungkin kalau ingin meminta waktu berhenti, mereka akan mengajukan saat-saat seperti ini. Ciuman, ciuman, dan ciuman.

"Mau makan siang apa nanti?" Yoongi bertanya ketika ciuman itu terjeda. Mereka butuh napas dan hal tersebut dimanfaatkan Yoongi untuk bertanya.

"Nasi goreng kimchi." Jimin menjawab apa adanya. Ia tidak masalah apa menu makan siang hari ini. Ia hanya sedang ingin bermanja-manja dengan Yoongi.

Pasca penyatuan, bisa dikatakan tingkah Jimin sedikit berubah. Bicaranya tidak seketus sebelumnya. Ia jadi lebih suka berdekatan dengan Yoongi. Lebih banyak aktivitas sentuhan. Sebentar-sebentar mengecup, entah bibir atau pipi Yoongi.

Ngomong-ngomong, mereka tidak lagi di vila, melainkan rumah Yoongi. Beruntung tidak ada wartawan atau paparazi ketika mereka pulang ke sana. Yoongi dan Jimin masuk dengan aman, meskipun tetap harus menyamar pula. Pemberitaan mereka memang belum terlalu mereda. Nama Yoongi dan Jimin masih menjadi pemberitaan yang panas. Apalagi ada satu utas di media sosial yang menyatakan bahwa Jimin adalah anak terpandang di negara tersebut.

"Nasi goreng kimchi? Aku bisa memasak untukmu."

Jimin menggeleng. Ia menyarankan, "Pesan antar saja."

Yoongi tertawa sebentar. Jimin sungguh tidak ingin ditinggal. Padahal biasanya ia tidak seperti ini. Bukannya tidak suka, Yoongi sangat-sangat menyukai Jimin mode manja seperti sekarang. Hanya saja hal-hal seperti ini masih baru untuknya. Hah ... rasanya Yoongi ingin bermalas-malasan begini terus.

"Kau tidak mau bikin rumahku berantakan lagi?" tanya Yoongi tiba-tiba.

Jimin bangun dari ceruk leher yang hangat itu. Ia memandang Yoongi, lalu ingatan bagaimana tingkahnya yang dahulu muncul satu per satu. Jimin yang menonton film di ruang tamu dengan berondong, bungkus makanan, dan kaleng berserakan memenuhi tempat itu. Baju-baju Yoongi yang rapi dan wangi dari penatu pernah Jimin acak hingga berserakan di lantai. Ada pula inisiatif Jimin yang membuat kue, tetapi menyerah dan membiarkan dapur berantakan: pecahan telur, tepung di meja dan lantai, peralatan kotor yang menumpuk, dan masih banyak lagi.

Senyum merasa bersalah terpatri di wajah Jimin. Ia menangkup kedua pipi Yoongi, lalu mengatakan, "Jimin yang sekarang tidak akan bertingkah seperti itu lagi."

Satu kecupan mendarat di bibir Yoongi sebagai permintaan maaf. Yoongi merasa dadanya penuh dengan tingkah gemas sosok yang duduk di pangkuannya sekarang. Setelah itu, Jimin kembali ke singgasananya, yakni ceruk leher favoritnya. Ia menghirup aroma di sana, lalu memberikan ciuman kupu-kupu. Sebuah ide mendadak terlintas di kepala Jimin.

"Eunghh ...." Yoongi tahu-tahu melenguh ketika sang tunangan mengisap leher bagian kanan dengan kuat-kuat. "Jangan menggodaku, Sayang."

"Yoongi, ayo kita ke kamar!" seru Jimin.

*

*

*

ChorusCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang