Jimin datang ke hunian itu ibarat kertas putih. Sementara Yoongi bukanlah bolpoin dengan warna hitam saja, melainkan warna-warni. Ialah yang mencoret kertas putih itu dengan banyak warna. Coretan abstrak yang tidak sekedar di tubuh, melainkan hati Jimin pula. Jimin yang berusia 20 tahun, jatuh hati langsung kepada Yoongi sebagai pertamanya.
Rasa takut tidak diterima sempat mengerubungi pikiran Jimin ketika kali pertama berjumpa dengan Yoongi. Ia sadar betul dirinya berbeda dengan orang-orang seusianya. Bukan berarti Jimin bodoh atau semacamnya. Kemampuan kognitif Jimin berjalan baik, begitu pula dengan empatinya. Jimin hanya perlu dibimbing secara halus. Ia tidak akan dianggap aneh oleh orang-orang yang memiliki kesabaran dan hati yang tulus.
"Jimin, ini adalah Yoongi. Kau bilang ingin punya teman, kan?" kata pria berpenampilan jas hitam dengan dasi biru langit.
Sejak itu, Jimin tidak lagi tinggal di rumah yang ditempati sendiri selama bertahun-tahun. Jimin pindah ke rumah baru bersama seorang teman baru, Min Yoongi. Dalam hunian anyar itu, Jimin mendapatkan pembelajaran dan pengalaman yang belum pernah ia temukan, termasuk ciuman yang diajari oleh Yoongi.
"Kau ... unik. Dan cantik." Itu adalah pujian pertama yang dilontarkan Yoongi usai mengajari Jimin berciuman. Bibir berisi itu terlihat berkilauan dan tampak ranum. Jimin benar-benar definisi kerta putih menurut Yoongi.
Sementara itu, alih-alih aneh, Yoongi justru menyebutnya unik. Dari satu kata itulah muncul gelenyar aneh yang dirasakan Jimin di dada kirinya. Tidak hanya itu, Jimin juga merasakan panas di pipi dan makin panas ketika Yoongi memberikan kecupan di sana–kanan dan kiri.
"Yoongi, besok kita ciuman lagi?" tanya Jimin ketika sudah rebah di ranjang.
"Jadwal belajarnya satu minggu sekali." Yoongi yang duduk di pinggir ranjang tengah memberikan usapan lembut di pucuk kepala Jimin.
"Ah iya. Aku lupa he-he-he." Jimin tertawa canggung. Bisa-bisanya ia menanyakan hal seperti itu.
"Lagi pula, kau pembelajar yang baik."
Yoongi tidak bohong akan ucapannya. Satu minggu perkenalan dan pengenalan mengenai apa yang harus dipelajari, Jimin beradaptasi dengan baik meski masih malu-malu. Selain itu, bibir Jimin adalah sesuatu hal baru yang belum pernah Yoongi rasakan. Yoongi sudah sering berciuman, tetapi saling beradu bibir dengan seseorang yang belum pernah, sensasinya sungguh berbeda. Satu kata yang menggambarkan berciuman dengan Jimin adalah candu.
"Kita masih punya banyak waktu."
"Hem." Jimin bersuara sambil mengangguk. Jangan lupa wajah menggemaskan dengan senyum yang membentuk mata segarisnya.
"Tetapi aku sendiri ingin merasakan lagi."
Jimin tertawa, tetapi bukan jenis tawa mengejek. Melainkan tawa yang heran dengan pikiran Yoongi yang cepat berubah. Kepala pria itu menunduk, makin dekat dengan wajahnya hingga hidung bersentuhan. Selanjutnya, Jimin kembali merasakan sebuah ciuman.
*
*
*
"Kalian tidak akan bisa kabur dari rumah ini."
Tahu-tahu Hoseok sudah berdiri di samping Yoongi. Pandangan mereka sama-sama menyaksikan Jimin yang tengah berkebun. Benih bunga matahari yang sempat disemai Jimin di tray sudah tumbuh beberapa sentimeter dan siap dipindahkan ke gulud.
"Bahkan tidak ada yang bisa dirahasiakan di rumah ini," sahut Yoongi, lalu memutar tubuhnya ke samping kanan. "Apa semalam kalian menyaksikan keliaran kami?"
Hoseok menyungging senyum. Barusan adalah pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab. Sama seperti Yoongi, pria bermarga Jung ini juga memutar tubuhnya. Maka demikian, Yoongi dan Hoseok saling berhadapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chorus
FanfictionChorus merupakan kumpulan kisah manis Yoongi dan Jimin di dunia mereka yang disebut YoonMin's World. 🐱🐤 "Hyungie ..." rengek Jimin. "Apa, Sayang?" balas Yoongi. Jimin yang bersandar pada belahan hatinya mendongak, mencoba untuk menarik atensi dari...
