115. Drive Like Crazy || Freedom

397 28 8
                                        

Tidak ada yang menjawab benar di pertanyaan sebelumnya ha-ha-ha. Totalnya ada 33.

Tidak apa-apa. Aku tetap baik, jadi bikin ekstranya. Selamat membaca!

🔞

🔞

🔞

Dua jam yang lalu, Jimin merengek ingin ikut belanja ke swalayan, tetapi Yoongi menolak dengan alasan laki-laki itu tengah masa penyembuhan. Jimin sempat demam, tetapi panasnya sudah turun. Selama tiga hari aktivitasnya lebih banyak di ranjang untuk tidur. Maka dari itu, ketika tubuhnya sedikit lebih bugar, ia ingin ikut keluar karena bosan.

"Janji setelah sembuh, kita jalan-jalan."

"Please. Jimin mau ikut, Yoongi. Jimin bosan."

Seolah tidak takut tertular, satu kecupan justru mendarat di bibir gendut itu. Yoongi tetap pada pendiriannya, yakni belanja kebutuhan bulanan sendiri. Karena permintaannya ditolak, Jimin dengan wajah cemberut masuk ke kamar tanpa membalas mengatakan apa pun. Namun, pintu itu kembali terbuka untuk membawa Jimin pada langkah cepat menuju Yoongi.

Yoongi, kalau Jimin memberi kecupan, Yoongi juga harus mengecup balik. Supaya kita seimbang.

Yoongi teringat dengan penuturan Jimin di masa lalu. Itu sebabnya lelaki mungil itu kembali padanya untuk membalas kecupan, lalu masuk ke kamar lagi. Benar-benar menggemaskan.

Sayangnya, Yoongi menyesal kenapa tidak membiarkan Jimin ikut saja. Selama perjalanan pulang, ia semringah karena membeli sebuket bunga lili putih nan cantik seperti Jimin. Anak itu pasti suka. Yoongi sudah membayangkan wajahnya akan banyak mendapat kecupan dan juga ciuman dari Jimin.

Namun, ketika kakinya sudah melangkah masuk ke ruang tengah, dengan tangan kanan-kiri sibuk mengangkat kantung, pemandangan yang dilihat Yoongi adalah momen bercanda Jimin dan Hoseok. Mereka berdua duduk di teras samping rumah dengan sepasang gelas cantik. Ia yakin Jimin membuatkan minuman teh untuk Hoseok.

Entah guyonan apa yang dilontarkan Hoseok, Yoongi bisa melihat betapa riangnya Jimin hingga ia hampir jatuh dari kursi karena kehilangan keseimbangan. Beruntung Hoseok sigap menahannya. Mereka berdua tertawa bersama menyisakan Yoongi yang memperhatikan dengan gurat tidak suka.

"Eh? Yoongi sudah kembali, Kak." Mata Jimin dan Yoongi saling bertubrukan. Lambaikan dengan senyum lebar Jimin lempar untuk Yoongi. Mau tidak mau, Yoongi harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Ia membalas lambaian dan senyuman itu. Hati Yoongi sedikit menghangat ketika Jimin beranjak dari duduk untuk menghampirinya.

"Yoongi sudah pulang ternyata. Kenapa tidak menyusul kami?" tanya Jimin.

"Aku baru saja sampai dan ingin menyusul kalian, tetapi kau sudah ke sini."

Jimin mengangguk mengiyakan. Matanya melirik ke benda yang dibawa Yoongi. Jimin terkesima, tetapi belum sempat mengajukan pertanyaan, Yoongi lebih dahulu memotong.

"Ini buket untuk Jungkook," dusta Yoongi.

"Jungkook?"

"Ya, untuk Jungkook. Aku dapat kabar jika Jungkook juga sedang sakit. Kebetulan di jalan tadi aku melihat penjual bunga, lalu membelinya."

"Yoongi akan menjenguk Jungkook sambil membawakan Jungkook bunga?" pertanyaan Jimin mendapat jawaban iya dari Yoongi.

Langit cerah di wajah Jimin mendadak tertutup awan. Ada rasa canggung, terutama Yoongi yang telah berbohong. Ia bahkan putar balik hanya demi kembali ke toko bunga karena teringat Jimin.

"Kau ingin ikut menjenguk Jungkook?"

"Aku–"

"Jimin ada urusan denganku, Yoongi. Kami akan menjenguk bersama nanti," interupsi Hoseok.

ChorusTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang