Tidak pernah terbayangkan dalam kehidupan Park Jimin jika ia sedang memancing bersama Min Yoongi, tunangannya. Bahkan, ini bukan acara memancing biasa, tetapi sangat-sangat luar biasa. Oke, Jimin akui itu berlebihan.
Untungnya demam Jimin reda dan ketika pagi tiba, tubuhnya terasa bugar. Ia turun dari lantai dua, kemudian melihat Yoongi yang sibuk di dapur. Penyanyi itu tengah menyiapkan sesuatu.
Hanya pertanyaan tentang kondisi badannya, lalu Jimin menjawab kembali baik. Setelah itu, Yoongi mengatakan akan pergi memancing dan menawarkan Jimin untuk ikut atau tidak. Jimin bahkan tidak perlu menyiapkan apa pun. Ia hanya perlu menyiapkan dirinya sendiri, yakni pergi mandi dan berpakaian yang nyaman.
Semua kebutuhan, mulai dari peralatan memancing, bekal makanan, hingga obat-obatan sudah disiapkan Yoongi. Wow, bukankah pria itu calon suami yang siaga? Jimin dengan pikirannya sendiri merasa geli ketika sedang mengguyur tubuhnya.
"Ke mana dia?" gumam Jimin karena tidak melihat Yoongi. "Jangan-jangan ...."
Jangan-jangan Yoongi mengerjainya. Pria itu sudah berangkat ketika ia sedang siap-siap. Jimin sudah menyiapkan umpatan untuk Yoongi jika itu benar-benar terjadi.
Sayangnya, Jimin harus belajar meregulasi emosinya. Ia tidak boleh asal menuduh jika tidak punya bukti. Faktanya, Yoongi sedang duduk anteng sambil membaca buku.
"Kau sudah siap rupanya," ujar Yoongi begitu melihat Jimin yang menghampirinya. Ia langsung menutup bukunya usai memindahkan pembatas di halaman terakhir yang dibaca. Selanjutnya, memasukkan buku tersebut ke dalam tas.
"Kukira kau meninggalkanku." Jimin mengatakannya dengan nada ketus.
Yoongi tertawa kecil, lalu melontarkan balasan yang menurutnya bisa mencairkan suasana. "Aku bukan kakakmu."
Jimin diam sesaat. Ia tidak menyangka Yoongi akan merespons seperti itu. Suasana yang diharapkan mencair, justru makin membeku.
Yoongi menyadari perubahan mimik itu. Tampaknya ia salah memilih kata. Yoongi tidak bermaksud membahas masa lalu.
"Jimin--"
"Ayo. Kau bilang ingin memancing. Kalau lamban, nanti ikannya pergi jalan-jalan," potong Jimin, lalu berjalan lebih dahulu.
*
*
*
"Huh, untung saja sedang libur semester. Aku tidak bisa membayangkan jika kejadian kemarin berlangsung ketika masih jadwal kuliah. Aku akan mendapat banyak pertanyaan dan atensi."
"Bukankah kau suka mendapat atensi?"
"Atensi karena ulahmu? Tidak terima kasih. Aku lebih suka atensi karena penyebabnya aku, bukan kau."
Sudah tidak terhitung berapa banyak Yoongi tersenyum pagi ini. Biasanya Yoongi memancing dengan penuh keheningan, tetapi tidak ketika Jimin ikut. Anak ini cerewet, bahkan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang Yoongi tidak habis pikir. Misalnya:
"Yoongi, apa umpan cacing bisa kadaluarsa kalau aku lupa menyimpannya di kulkas?"
"Menurutmu, ikan-ikan di danau ini bisa membaca pikiran tidak kalau kita ingin menangkap mereka?"
"Aku penasaran apakah ikan yang nyaris tertangkap akan bercerita dengan ikan-ikan yang lain."
"Seharusnya timah pancing ini aku ganti dengan batu cincin supaya kelihatan lebih mewah."
Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan aneh yang disampaikan Jimin. Yoongi yang mendengarnya bahkan kesulitan untuk menjawab. Park Jimin ternyata anak yang unik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Chorus
FanfictionChorus merupakan kumpulan kisah manis Yoongi dan Jimin di dunia mereka yang disebut YoonMin's World. 🐱🐤 "Hyungie ..." rengek Jimin. "Apa, Sayang?" balas Yoongi. Jimin yang bersandar pada belahan hatinya mendongak, mencoba untuk menarik atensi dari...
