Kamis (21.30), 28 Maret 2019
---------------------------
Queenza bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Kenyataan bahwa dirinyalah yang menikamkan belati di dada Kingsley dan membuat lelaki itu tidur panjang, terus mengganggu hingga terbawa ke alam mimpi.
"Ngghhh...."
Queenza mengerang saat kelebat-kelebat memori saling tumpang tindih dalam mimpinya. Tubuhnya sampai basah karena keringat akibat serbuan kenangan yang muncul tak beraturan.
"Queen, sudah lama kita tidak bertemu."
Tampak wajah yang familiar namun kini lebih bersih terawat. Dia juga lebih jangkung, berisi, dan gagah. Penampilannya tak lagi seperti buronan kumal. Dia mengenakan pakaian mewah dan tampak angkuh bak penguasa.
Lalu memori itu berubah. Kini wajah itu tak menampilkan senyum cerah. Melainkan raut kecewa dan kesedihan yang dalam.
"Bisakah kau meninggalkannya?"
"Aku tidak bisa." Terdengar suara tanpa seorangpun yang tampak.
"Apa kau tidak memiliki sedikitpun rasa suka padaku?"
"Kita hanya berteman."
Pemilik mata biru itu tak berkata lagi. Dia mundur menjauh lalu berbalik pergi, meninggalkan rasa hampa yang menusuk dada.
Kenangan yang lain muncul. Masih dengan si mata biru yang menjadi satu-satunya orang dalam mimpi itu.
"Kenapa kau melakukannya?" Lagi-lagi suara tanpa wujud. Hanya si mata biru yang terlihat.
Si mata biru menyeringai sinis. "Melakukan apa?"
"Jangan pura-pura bodoh! Semua orang membicarakanmu. Mereka mulai meragukanmu sebagai seorang kaisar."
"Aku tidak peduli apa kata orang."
"Kalau begitu setidaknya pedulikan wanita yang kau jadikan permaisuri di istanamu. Dia juga menjadi bahan gunjingan."
"Tahu apa kau tentangnya? Dia bahagia hidup bersamaku. Menjadi wanita nomor satu di Immorland."
"Ini bukan hanya tentang kekayaan dan kekuasaan. Tapi juga tentang harga diri. Kau menjadikan seorang wanita sebagai permaisuri tanpa menikahinya!"
Lalu si pemilik mata biru memalingkan wajah. "Itu bukan urusanmu."
"Kau seorang kaisar. Seharusnya kau memberikan contoh yang baik pada rakyatmu. Lagipula apa susahnya membawanya ke telaga suci lalu menikah? Semua orang akan sangat bahagia, terutama permaisurimu."
"Hanya satu orang yang akan kunikahi," suara si pemilik mata biru berubah lemah. "Dan kau tahu siapa orangnya."
Kenangan berubah kembali. Kali ini berkelebat semakin cepat. Masih dengan si mata biru sebagai fokus utama. Ada canda, tawa, dan bunga. Banyak sekali bunga.
Tampak si mata biru mencium punggung tangan seseorang yang tidak terlihat wajahnya. Dia terlihat begitu bahagia. Senyumnya merekah.
Berikutnya tampak ekspresi kesakitan dan kaget si mata biru saat belati tajam tertancap di dadanya. Lalu semuanya gelap. Seluruh memori, mimpi, dan kenangan itu menghilang tak berbekas seperti tulisan di atas pasir yang tersapu air.
***
Kingsley bangun tidur lebih pagi dari biasa. Mendadak dia ingin membuatkan sarapan untuk Queenza. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan meski di kehidupan yang lalu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasíaWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
