Rabu (21.18), 19 Desember 2018
------------------------
"Argh!" Kingsley dikejutkan dengan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang punggungnya hingga dia jatuh berlutut dengan satu kaki. Punggungnya terasa sangat panas, seperti ada bara api yang membakar jaringan kulitnya.
"Sial! Apalagi yang menimpa Queenza sekarang?"
Ada rasa khawatir di hati Kingsley, tapi juga kesal. Seumur hidup dia tidak pernah merasa tidak berdaya seperti sekarang. Bahkan dulu dirinya nyaris tidak pernah terluka.
Ngiiikk...ngiiikk!
Kingsley menoleh ke arah Mochi. Sambil meringis menahan sakit dia berkata, "Aku harus kembali. Ada sesuatu yang menimpa Queenza. Kau tetaplah di sini, awasi para guardian itu."
Mochi hanya mengangguk sambil menatap Kingsley dengan mata besarnya. Setelah itu Kingsley berbalik, memejamkan mata membayangkan Queenza. Berharap dirinya sudah ada di dekat gadis itu saat membuka mata. Tapi beberapa saat kemudian, tidak ada yang terjadi. Kingsley mendapati dirinya masih di sana, hutan timur dimensi atas yang ternyata sekarang lebih dikenal dengan sebutan Immorland. Bahkan Mochi masih ada di belakangnya.
"Aku tidak bisa mencapai Queenza, Mochi. Sepertinya karena kami berada di dimensi yang berbeda." Kingsley menipiskan bibir, menahan rasa sakit. "Aku harus pergi sekarang," ujarnya kemudian lalu menghilang untuk mencapai batas dimensi yang sudah ditandainya.
***
CRRASSHHH!
Tristan kembali meringis. Kali ini punggungnya yang terluka akibat kelopak-kelopak bunga Queenza yang berputar di sekelilingnya.
Menghela napas, dia mencoba tenang. Lalu sepasang sayap dengan bulu-bulu layaknya bulu angsa berwarna kelabu muncul di punggungnya. Sayap itu terentang semakin lebar, tak peduli kelopak bunga melukainya.
Tristan terengah. Luka-luka di tubuhnya berdenyut, dan anehnya, proses penyembuhannya sangat lama. Dia berjuang menjaga kesadarannya untuk menyelamatkan diri.
Lalu mendadak, sepasang sayap di punggung Tristan bergerak, mengepak-ngepak layaknya burung besar. Awalnya pelan. Semakin lama semakin keras yang akhirnya mengibas kelopak-kelopak bunga Queenza dari sekelilingnya.
Kelopak-kelopak bunga itu kembali menyatu membentuk sosok Queenza. Dia sedikit terhuyung karena kerasnya kibasan sayap milik sang guardian.
"Hm, lumayan." Ada nada mengejek dalam suara Queenza. Tapi ia akui, nephilim di depannya lumayan kuat. "Ini sedikit membosankan." Sang ratu dryad melipat kedua lengan di depan dada. "Bagaimana kalau aku memberimu kesempatan melarikan diri dan aku akan mengejarmu? Kau jadi punya kesempatan untuk meminta bantuan dan aku akan bersenang-senang."
Sedikit perasaan takut menyelinap di hati Tristan. Tapi hinaan terang-terangan yang ditunjukkan Queenza membuatnya murka. "Sebelumnya aku memang sempat berpikir untuk melarikan diri. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku tidak akan lari dari pertarungan ini."
Sudut bibir Ratu Queenza terangkat membentuk senyum sinis. "Dalam keadaan sehatpun kau tidak bisa melawanku. Apalagi dalam keadaan terluka parah seperti sekarang. Tapi aku tidak akan menolak jika kau berniat menghantarkan nyawa."
Tangan kanan Tristan yang memegang pedang mengepal kuat seiring amarahnya yang memuncak. Lalu perlahan, pedang itu dialiri warna merah seperti bara, yang membuat mata pedangnya bersinar.
Ratu Queenza masih berdiri tenang. Tapi dalam hati dia mulai waspada. Kekuatan itu, menjadikan apapun yang dipegangnya memiliki kemampuan membunuh, adalah kekuatan langka yang hanya dimiliki orang-orang tertentu dari kaum nephilim. Sang ratu ingat seorang nephilim yang mengabdi pada Kingsley dan menjadi salah satu panglimanya. Dia juga memiliki kekuatan semacam itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasíaWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
