K&Q S.2 - 38a

100K 14.4K 1.4K
                                        

Senin (21.10), 27 Mei 2019

----------------------------

Kingsley mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali mata merahnya melirik ke arah Queenza yang sedang duduk di tengah taman Kerajaan Ackerley dengan berlinang air mata.

Dia tidak suka melihat Queenza menangis. Namun jiwa gelap sang Raja Kegelapan tidak tahu harus melakukan apa untuk menghibur sang Ratu. Dia bukanlah seorang yang lemah lembut dan bisa melontarkan kata-kata manis.

Hhh!!

"Yang Mulia, Anda tidak akan membiarkan Ratu Queenza terus menangis, kan?" Emily berkata, menggunakan panggilan sopan dan hormat yang biasanya tidak pernah ia gunakan kepada Kingsley. "Jika terus dibiarkan, Ratu akan sakit."

Kingsley berbalik menghadap Emily yang berdiri sekitar dua meter di belakangnya bersama Tristan. "Seharusnya kau yang ke sana dan menghiburnya. Kalian sama-sama perempuan."

"Anda salah, Yang Mulia. Yang dibutuhkan oleh Ratu Queenza saat ini adalah seorang lelaki yang kuat dan bisa ia jadikan sandaran. Hatinya sedang goyah dan terluka. Tapi jika Anda tidak bisa menjadi lelaki yang dibutuhkan Ratu Queenza, hamba pikir Kak Eoghan bisa menggantikan...."

Kingsley langsung melotot mendengar itu. Bahkan meski dirinya diselimuti kekuatan kegelapan dan tidak akan segan membunuh, Emily masih saja berani padanya, hanya menutupi itu dengan kata-kata sopan dan hormat. Bahkan Tristan saja tidak seberani itu. Malah kini menegang waspada mendengar ucapan Emily.

"Baiklah, baiklah. Tidak perlu dilanjutkan," gerutu Kingsley. Lalu tanpa kata dia berbalik menuju tempat Queenza berada.

Tadi pagi pemakaman untuk Bibi Marlene dan Paman Paul sudah dilakukan. Hanya pemakaman sederhana yang dilakukan di hutan belakang Kerajaan Ackerley. Itu sudah terjadi beberapa jam lalu. Kini matahari sudah mulai merangsek ke ufuk barat, siap beristirahat. Namun tangis kesedihan Queenza tak juga reda.

Lagi-lagi dia harus kehilangan keluarga. Di masa lalu dia kehilangan orang tuanya sekaligus dalam sebuah peperangan. Lalu disusul saudari dan calon suaminya di tangan Kingsley.

Di kehidupan yang ini pun tak jauh beda. Queenza harus kehilangan orang tuanya sekaligus. Sekarang Paman dan Bibinya pun turut pergi. Orang tua Queenza di masa ini memang masih memiliki beberapa saudara. Tidak tidak cukup dekat dengan Queenza. Itu membuatnya tetap merasa sendirian, seolah dirinya kini sebatang kara.

Queenza sama sekali tak menahan tangisnya. Suaranya terdengar memilukan dan mulai serak. Matanya pun terasa panas dan bengkak, menandakan sudah cukup lama dirinya menangis.

Sepertinya dia masih belum puas menumpahkan semua kesedihannya. Tiba-tiba aura gelap nan dingin itu terasa melingkupi. Queenza tidak perlu mendongak untuk melihat siapa yang datang. Jelas itu adalah Kingsley.

"Queen, kau sudah selesai?"

Bukannya berhenti, tangis Queenza semakin keras. Dia bergeser membelakangi Kingsley, berharap lelaki itu mengerti bahwa dirinya ingin ditinggal sendirian.

Kingsley menggosok pelipisnya melihat reaksi Queenza. Dia menoleh ke arah Emily dan Tristan lalu melihat Emily membelalakkan mata sambil memberi isyarat memeluk Queenza.

Menghela napas, Kingsley duduk di belakang Queenza di bangku panjang itu. Dia berniat memeluk Queenza. Namun kedua tangannya mengambang di udara sebelum berhasil melaksanakan niatnya.

"Pergi dari sini, Kings!" seru Queenza dingin.

Rahang Kingsley tampak menegang tidak suka mendengar nada dingin Queenza. Tapi dia mengalah dan menjatuhkan kedua tangannya di atas paha.

Kingsley & QueenzaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang