Kamis (21.36), 4 April 2019
----------------------
Queenza meringkuk dalam kegelapan yang terasa kian mencekiknya. Takut dan kesepian mendominasi hatinya, membuat Queenza merasa semakin terpuruk.
Entah sudah berapa lama dirinya terkurung dalam kegelapan ini. Sempat beberapa kali muncul cahaya putih yang Queenza tahu adalah jalan keluarnya. Tapi begitu mendekat, cahaya itu menghilang dan membuatnya kembali terjebak di sini.
Tidak, ini bukan sebuah ruangan. Ini seperti tanah lapang yang luas tak berujung. Dan sama sekali tidak ada cahaya. Semuanya gelap. Hitam pekat.
Air mata Queenza menetes. Haruskah dia menyerah? Membiarkan kegelapan menelannya hingga dirinya tak tersisa lagi? Apakah dengan begitu rasa sesak yang menghimpit dadanya akan menghilang dan dia tidak akan merasa sendiri lagi?
Ya, sepertinya memang begitu. Sebaiknya dia memejamkan mata saja dan tak lagi berusaha keluar dari kegelapan ini.
Tapi sebelum Queenza sempat melakukannya, suara lembut yang familiar membelai pendengarannya.
"Sekarang giliran Queenza."
Queenza tersentak kaget. Dia mendongak dari posisi meringkuknya menatap cahaya yang muncul di depan sana.
"Kingsley," bisiknya pelan.
Buru-buru Queenza berdiri dan berlari ke arah cahaya. Tapi cahaya itu perlahan memudar dan akhirnya menghilang, membuat Queenza lagi-lagi berdiri di tengah kegelapan.
Queenza mendesah sedih. Air matanya menitik tapi dia buru-buru menghapusnya. Pandangannya mengarah ke sekeliling, berharap ada setitik cahaya lagi. Namun tak ada apapun. Dia sendirian.
Tanpa bisa dicegah, air matanya kembali menitik. Kali ini Queenza menunduk dan membiarkan air matanya mengalir. Dadanya sesak. Haruskah dia berakhir seperti ini?
"Queen... zaaa...."
Queenza tersentak kaget. Seseorang mengucapkan namanya dengan susah payah, seolah dia tengah berjuang di antara rasa sakit. Dia mendongak lalu menatap sekeliling, mencari sumber suara.
"Siapa itu?"
Qurenza bertanya pada kegelapan, berharap mendapat jawaban. Saat tak ada sahutan, dia kembali hilang harapan. Tapi mendadak dia seperti tersadar.
Tidak! Aku tidak bisa menunggu jalan keluar. Aku yang harus mencarinya sendiri, menembus kegelapan ini.
Dengan tekad baru yang muncul di hatinya, Queenza melangkah. Langkahnya semakin lama semakin cepat hingga akhirnya berlari, meski dia tidak tahu harus menuju ke mana. Di pikirannya hanya fokus pada jalan keluar hingga entah bagaimana dia mulai diselimuti kabut hitam dalam larinya.
***
Wajah Kenzie memucat dengan kedua tangan masih memegang lehernya. Tatapannya mengarah pada mata hijau Queen meski pandangannya tak lagi fokus.
Sebenarnya Kenzie sanggup melepaskan diri. Tapi itu berarti dia harus melukai wanita di hadapannya, wanita yang berhasil mencuri hatinya. Tak peduli meski Kenzie nyaris mati seperti sekarang. Dia tidak akan pernah sanggup menyakiti Queenza.
"Queen... zaaa...."
Kenzie berusaha memanggil Queenza di antara rasa sakitnya. Wanita yang mengaku bernama Queen di hadapannya berkata bahwa mereka berbagi tubuh. Itu artinya Queenza ada di dalam sana.
Panggilan Kenzie malah semakin menyulut emosi Queen. "Dia sudah mati," geram Queen. "Kenapa semua orang hanya menginginkannya?"
Kekuatan Queen yang melilit leher Kenzie semakin kuat. Tampaknya ini memang akan menjadi akhir bagi Kenzie. Tapi tiba-tiba Queen merasakan sakit yang menyengat dadanya, membuat cahaya hijau di matanya memudar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasyWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
