Jumat (21.00), 01 Agustus 2025
Bismillah, gak hiatus lagi !
-----------------------
Chenna duduk di sudut sofa dengan tatapan kesal ke arah dinding kaca besar pembatas antara ruang santai dan halaman samping. Di luar juga ada sofa yang menghadap pemandangan taman bunga yang dirawat sendiri oleh mamanya. Biasanya pemandangan ke arah sana terasa menyegarkan dan menenangkan hati. Namun keindahan itu terganggu oleh sosok yang sedang berbaring di sofa panjang dan tampak sangat fokus ke layar ponsel.
"Hmm!"
Tatapan Chenna yang semakin tajam dengan enggan beralih pada sang mama yang baru saja berdehem memperingatkan. Mamanya yang duduk di sofa yang sama menggelengkan kepala sebagai tanda agar sang putri tidak mencoba mencari keributan lagi.
Chenna mengerucutkan bibir tanda tak suka. "Ponselku selalu panas karena dibuat hotspot terus," gerutunya. "Kapan sih wifinya terpasang?"
Belum juga sang mama menanggapi, Jervis masuk ke ruang santai dengan langkah buru-buru dan gelisah. Begitu duduk di sofa tunggal, tatapannya mengarah ke dinding kaca. Tampak jelas sangat ragu hendak ke sana atau tidak dan akhirnya hanya menghela napas panjang tanda frustasi.
"Kenapa?" sang istri bertanya lembut, berusaha menenangkan.
"Kaum kita semakin banyak yang datang dengan keluhan sama. Mereka khawatir dan gelisah karena gerbang dimensi tertutup. Semua pintu rahasia juga." Jervis mengusap rambutnya dengan frustasi.
"Cih, kenapa papa yang harus khawatir?" Chenna mengedikkan dagu ke arah dinding kaca. "Kaisarnya tenang-tenang saja malah asyik sendiri. Berarti Immorland baik-baik saja, kan?"
Jervis lagi-lagi hanya bisa menghela napas mendengar cemooh putrinya. Dia memejamkan mata sambil menyandarkan punggung, berusaha mengingat apa ada penduduk Immorland kuat di dunia manusia sekarang. Setahu Jervis penduduk Immorland yang menetap di dunia manusia hanya dari kaum menengah seperti dirinya. Kaum atas tidak suka berbaur dengan manusia karena menganggap manusia lemah. Sementara kaum bawah juga jarang mendapat izin untuk menetap karena sering membuat masalah. Ditambah lagi sejak seratus tahun terakhir penduduk Immorland yang boleh menetap di dunia manusia sangat dibatasi. Mungkin hanya ratusan orang di seluruh dunia dan Jervis tidak mengenal semuanya.
"Siapa itu? Auranya aneh sekali." Chenna menegakkan tubuh dengan tatapan mengarah ke dinding kaca dengan penasaran.
Sontak papa dan mamanya juga turut menoleh ke arah yang sama.
Jervis terbelalak melihat sosok lelaki berbadan kekar yang saat ini berlutut dengan satu kaki di dekat sofa tempat Kingsley berada. Dia langsung mengenali sosok itu dari auranya yang terasa agak menyesakkan. Seperti asap yang menguar di udara.
Banshee.
Buru-buru Jervis berdiri dan bergegas keluar menghampiri Kingsley yang tidak beranjak dari posisi semula. Masih berbaring di sofa panjang dengan tatapan fokus ke arah ponsel. Tampaknya dia sedang menonton film atau semacamnya. Sementara tamunya sedang melaporkan sesuatu.
"...sebagian lagi tidak mau dan curiga. Tampaknya mereka ini orang-orang yang melanggar aturan dengan menikahi manusia." Si lelaki kaum banshee itu menjelaskan.
Jervis mengerutkan kening sambil menatap bergantian antara Kingsley dan lelaki banshee itu. Sejauh yang dirinya tahu, banshee tidak pernah menyukai penduduk Immorland. Mereka selalu merasa dibuang karena tidak pernah diizinkan datang ke Immorland.
Penduduk Immorland sendiri termasuk kaum guardian sebagai penjaga seluruh penduduk Immorland punya alasan sendiri dengan larangan menerima banshee. Kaum banshee bisa hidup di antara dunia manusia dan dunia roh. Seperti memiliki dunia sendiri. Penduduk Immorland tidak mau banshee menciptkan dunianya sendiri di tanah Immorland yang suci. Tentunya mereka jadi bebas tanpa perlu mengikuti segala aturan di Immorland.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasyWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
