Selasa (10.31), 09 April 2019
-----------------------------
Langkah Kenzie terhenti di tengah hutan menuju kediaman ibunya. Ingatannya melayang ke kejadian tadi siang, saat Queenza—ah, tidak. Queen. Saat Queen nyaris membunuhnya.
Setelah diingat lagi, sepertinya memang jiwa itu yang pertama kali ditemui Kenzie. Jiwa itu jugalah yang memikat Kenzie dengan sikap kasarnya untuk ukuran wanita.
Tapi tadi—Kenzie sungguh tidak menyukai sikap Queen. Dia sangat berharap Queenza muncul dan yakin bahwa Queenza lah yang menyelamatkan dirinya dari Queen. Mungkin karena Kenzie lebih terbiasa dengan Queenza. Atau mungkin juga karena nyawanya nyaris melayang di tangan Queen. Yang jelas jika disuruh memilih, tanpa pikir panjang Kenzie akan memilih Queenza.
Lalu ingatan Kenzie beralih pada Kingsley yang muncul menyelamatkan dirinya dari amukan Queen. Mendadak hati Kenzie sakit. Dia menolak mengakui, tapi tidak sanggup menghapus fakta betapa serasinya Kingsley dan Queenza. Bahkan Queen yang tampak begitu ganas dan sulit dikendalikan, langsung menurut dan ikut pergi bersama Kingsley setelah lelaki itu membujuk dengan kata-kata yang tidak bisa didengar Kenzie.
Rasanya harapan Kenzie untuk bisa mendapatkan Queenza semakin jauh. Ditambah lagi ada Queen yang sepertinya terlanjur membenci dirinya. Semua kenyataan itu membuat hati Kenzie semakin berdenyut sakit.
Mendesah sedih, Kenzie menyandarkan punggung di sebatang pohon. Jemarinya mengusap wajah, tampak begitu lelah. Dia tidak menyangka, cinta pertamanya akan semenyakitkan ini. Membuatnya ingin menyerah dan berjuang lebih keras di waktu yang sama.
"Aku tidak pernah memiliki anak yang lemah."
Suara familiar itu membuat Kenzie segera menegakkan tubuh. Begitu menoleh ke samping dan yang berbicara memang orang yang diduganya, segera Kenzie menjatuhkan diri berlutut dengan sikap hormat.
"Ayah," sapa Kenzie.
"Bangunlah."
Kenzie segera bangkit, berdiri di samping Kevlar yang tampak angkuh dengan dagu terangkat dan kedua tangan terjalin di belakang tubuh.
"Apa ini tentang wanita itu lagi?"
Kenzie tertunduk, tak berani mengatakan apapun.
"Ayah bertanya padamu," Kevlar berkata dengan nada memperingatkan.
"Oh," Kenzie bingung bagaimana harus menjelaskan. Dia tidak cukup dekat dengan sang ayah untuk berbagi hal pribadi. "Yah, begitulah."
"Apa yang terjadi?"
"Aku—aku hanya merasa tidak bisa menjadi pendamping yang sanggup mengimbangi Queenza. Rasanya dia terlalu jauh untuk kugapai. Dan dia memiliki seorang lelaki yang lebih dari segalanya dariku."
Kevlar berbalik menatap Kenzie namun Kenzie menunduk, menghindari pandangan sang ayah untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang nomor satu di Immorland itu.
"Angkat kepalamu dan lihat ayah."
Ragu, Kenzie mengangkat kepalanya lalu matanya beradu dengan mata cokelat madu sang ayah yang serupa matanya sendiri.
"Apa kau mencintai Queenza?"
Kenzie memejamkan mata, takut untuk mengakuinya. Tapi beberapa detik kemudian matanya kembali terbuka penuh tekad. Dia mengangguk dengan mantap. "Ya, Ayah. Aku mencintainya. Sangat mencintainya."
"Kalau begitu sudah waktunya Ayah turun tangan untuk membantu."
Mata Kenzie melebar. "Bagaimana caranya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasyWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
