Senin (21.07), 08 Maret 2021
Makasih buat kemarin yang ngasih saran buat obat batukku. Beberapa aku coba dan ternyata cocok sama kukusan bunga belimbing wuluh + gula batu. Pakai gula biasa juga bisa. Batuknya jadi gak separah sebelumnya.
Makasih juga buat doa dan dukungannya. Berharap aku bisa... dan terus bisa berkarya untuk kalian.
Happy reading!
----------------------------
Allura masih tergelak senang karena anak panah beracunnya melesat tepat sasaran tanpa hambatan. Sementara anak buah Queenza yang sebelumnya membeku kaget segera melesat cepat ke hadapan Queenza, berharap masih memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya. Tapi lagi-lagi mereka dibuat terkejut. Karena yang mereka lihat masih saja luput dari apa yang mereka bayangkan sebelumnya.
Melihat Tristan dan lainnya hanya berdiri terkejut di hadapan Queenza dan bukannya berusaha menolong, tawa Allura berangsur-angsur reda. Keningnya berkerut curiga.
"Sepertinya kau gagal, Allura."
Suara pelan dan tenang itu membuat semua mata menoleh ke arah singgasana di aula. Tampak Thane duduk tenang di sana dengan salah satu siku bertumpu di sandaran lengan sementara kepalan tangannya menyangga sisi kepala. Namun berbeda dengan yang lain, Queenza tetap berdiri di tempat membelakangi singgasana.
Sontak ucapan Thane berhasil membuat wajah Allura memerah malu. Tapi dia belum menerima kekalahan. Sambil merapalkan mantra pelan, tangan kanannya yang mengepal terbuka perlahan menampakkan cahaya merah di atasnya menyerupai bintang. Persis seperti simbol khas penyihir di keningnya.
Namun yang terjadi selanjutnya sungguh tak terduga dan hanya dalam hitungan satu detik. Anak panah yang tadinya masih terlihat menembus tubuh Queenza mendadak menghilang seolah diserap tubuhnya. Lalu tanpa ada yang bisa melihat lajunya, tiga anak panah yang sama keluar dari punggung Queenza dan langsung mengincar jantung Allura.
"Arrgghh!"
Pekik kesakitan Allura terdengar memenuhi seluruh aula. Cahaya merah di tangannya langsung memudar sementara tubuhnya terlempar ke belakang, hampir mencapai undakan menuju singgasana tempat Thane duduk dengan tenang.
"Uhuukkk!"
Darah segar berwarna hitam pekat keluar dari bibir Allura bersamaan dengan batuknya. Itu memang efek mengerikan yang ditimbulkan racun di mata panahnya. Dan hanya dalam hitungan setengah menit, dirinya akan langsung terkapar tak bernyawa.
Sambil menahan perasaan ngeri dan sakit, buru-buru Allura merogoh pil penawar racun dari kantong khusus yang selalu menggantung di pinggangnya bak hiasan. Beruntung dia cukup cepat melakukannya sebelum organ dalamnya menghitam. Jika itu sampai terjadi, terlambat baginya untuk bisa tetap bertahan hidup.
"Hhhh!" terdengar hela napas lelah Thane.
Bersamaan dengan itu, Queenza berbalik menghadap singgasana dan membuktikan bahwa dugaan Thane benar. Manik mata biru dan hijau itu sudah menjelaskan segalanya.
"Sungguh melelahkan melawan kalian berdua," ujar Thane kemudian. "Yang satu berhasil dibunuh, satunya kembali bangkit. Yang masih hidup dibunuh, yang sudah mati bangkit. Begitu terus sampai aku mati frustasi."
Queenza yang semula berwajah datar tanpa ekspresi perlahan menampakkan senyum manisnya. "Perumpamaan Anda sangat lucu, Yang Mulia."
Thane berdecak tapi detik berikutnya senyum sinis mewarnai bibirnya. "Aku masih bertanya-tanya bagaimana Kingsley bisa membagi jiwanya. Itu adalah sihir terlarang yang hanya bisa dilakukan dengan darah dan kekuatan Ratu Penyihir. Tapi jawabannya sama sekali tidak penting. Yang penting..." Kali ini Thane menyeringai senang. "tak peduli bahwa jiwa Kingsley masih ada dan bersemayam dalam dirimu. Asal tubuhnya musnah, tidak ada cara untuk membangkitkannya lagi. Bahkan dengan kematianku. Jadi percuma, Kaisar Immorland saat ini tetaplah aku."
Senyum masih menghiasi bibir Queenza. "Selamat, Yang Mulia. Sayangnya hamba tidak bisa tinggal untuk pesta kemenangan Anda. Kami harus pergi sekarang."
"Ooohh..." Thane berdiri lalu turun dari singgasana mendekati Queenza, membuat orang-orang di belakang Queenza langsung bersikap waspada. "kapan aku mengizinkan kalian pergi?"
Queenza mengedikkan dagu ke arah Allura yang masih setengah berbaring di lantai dengan napas terengah. "Dia yang memberi izin."
"Izinnya sama sekali tidak berlaku jika aku menolak."
Refleks Queenza mengangkat tangan, memberi tanda pada orang-orangnya yang mulai habis kesabaran dan berniat melesat menyerang Thane.
"Apa lagi yang kau inginkan?" sikap pura-pura hormat Queenza akhirnya runtuh. "Kau tahu tidak mungkin bisa membunuhku. Jadi apa gunanya aku di sini?"
"Itu dia masalahnya, Queen sayang." Thane yang kini berdiri tepat di hadapan Queenza menyusurkan punggung tangannya di pipi Queenza. "Dengan kondisimu sekarang, aku harus memastikan kau selalu berada dalam jangkauan pandangku untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan."
Saat gerakan tangan Thane mencapai dagunya, Queenza menangkap pergelangan tangan lelaki itu lalu meremasnya cukup keras. "Aku memang tidak bisa membunuhmu saat ini. Tapi apa kau pikir aku tidak bisa membuatmu cacat, Ayah?"
Seketika raut wajah Thane tampak menegang saat rasa panas serasa membakar pergelangan tangannya hingga ke tulang. "Sama seperti kau yang bisa menghancurkan tubuhku hingga jadi abu, akupun bisa menciptakan cacat permanen di tubuhmu. Mau coba?"
Mendadak tangan Thane yang berada dalam cekalan Queenza mengepal. Dan begitu terbuka, titik hitam dengan pendar cahaya putih di sekitarnya muncul dan langsung menghantam dada Queenza. Sontak cekalannya di pergelangan tangan Thane terlepas sementara tubuhnya terdorong mundur beberapa langkah.
Sementara itu Thane yang sudah berhasil melepaskan diri dan menjauh mendadak terhempas hingga tubuhnya terlempar dan jatuh terduduk di singgasana. Sama seperti Allura, dia terbatuk dengan rasa sakit di dada diiringi darah segar yang mengalir di sudut bibir menandakan organ dalamnya terluka.
Brengsek!
Thane mengumpat dalam hati sementara bibirnya menipis menahan sakit. Ini salah satu kekuatan kegelapan Kingsley yang pernah sesekali dilihatnya semasa Kingsley masih kecil namun sangat sulit memancingnya muncul. Kekuatan kegelapan Kingsley bisa menyerap energi yang menyerangnya lalu mengembalikan dengan intensitas yang berkali-kali lipat lebih kuat ke arah si penyerang.
"Masukkan mereka lagi ke tahanan," geraman lemah Thane bisa didengar semua anak buahnya. Namun keraguan tampak menghiasi wajah mereka. Thane saja bisa sampai seperti itu apalagi mereka?
"Cepat!!"
Kali ini berhasil. Perintah Thane terlaksana sesuai kemauannya meski tampak sedikit ketegangan. Bukan dari Queenza, melainkan dari anak buah Queenza yang berusaha melawan.
-------------------------------
Mulai bosan?
Jangan khawatir. InsyaAllah di bab 44 sudah epilog. Jadi tinggal satu bab lagi. Oh... satu setengah bab karena ini baru setengah. Kalau gak ada perubahan rencana.
Hmm, cukup segini atau masih berani lanjut? Uhukk... ke season 4.
~~>> Aya Emily <<~~
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasyWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
