Sabtu (21.51), 04 Juli 2020
Malam minggu ditemenin sama yang bikin baper, hahaha...
Happy reading!
-----------------------
Queenza masih berdiri membeku, menunggu hal buruk terjadi padanya. Jantungnya bergemuruh hingga terasa menyakitkan. Jemarinya mengepal sementara dalam hati menghitung sampai sepuluh, bersiap menghadapi apapun yang akan muncul lalu menyerangnya.
Beberapa detik berlalu, bahkan sampai hitungan Queenza mencapai dua puluh, tidak ada apapun yang terjadi. Mendadak semuanya tenang. Suara yang seolah keluar dari langit itu menghilang. Selain siang dan malam yang berdampingan dengan aneh di sana, tak ada hal lain yang terjadi.
Queenza masih membeku namun sudah berhenti menghitung sepenuhnya. Sejenak dia melirik sekeliling lalu memutuskan kembali melangkah dengan tenang hendak mengejar Kingsley. Tapi lagi-lagi dirinya tertahan. Dinding kaca tak terlihat itu masih mengurungnya. Apa Kingsley yang melakukan ini?
Seluruh tubuh Queenza merinding. Lengannya menyilang di depan dada untuk menghalau udara. Padahal sama sekali tidak dingin. Malah terasa hangat seperti di hutan. Ini hanya bentuk rasa takutnya terhadap keanehan sekitar.
"Quuueenn...zaaaa..."
Napas Queenza tersentak dan refleks dia memejamkan mata rapat. Lagi-lagi suara yang bagai nyanyian itu terdengar memanggil namanya dari arah laut hitam di belakangnya. Ketakutam Queenza meningkat. Dia jadi merasa seperti manusia lemah yang harus berada dalam situasi horor.
"Queeennnnzaaaa... kemarilah..."
Rasanya Queenza ingin menangis. Dia tidak pernah dilanda rasa takut setajam ini.
"Tolong," bisik Queenza masih dengan mata terpejam. "Apapun kau tolong pergi. Biarkan aku sendiri." Lalu serta merta suara itu menghilang. Hanya tersisa desir angin hangat yang membelai tubuhnya.
Sejenak Queenza masih menunggu. Belum berani percaya bahwa makhluk apapun itu sudah pergi. Tapi detik-detik yang panjang berlalu, akhirnya Queenza memberanikan diri membuka mata lalu perlahan menoleh ke belakangnya.
Tidak ada apapun. Laut itu masih sama hitam seperti sebelumnya dengan riak pelan yang menyerupai ombak. Tapi selain itu tak ada yang terjadi. Suara-suara aneh itu sudah menghilang sepenuhnya.
"Kenapa masih belum mandi?"
Queenza luar biasa terkejut hingga jantungnya serasa hendak lepas. Dia berbalik dengan tiba-tiba lalu tangannya refleks menyentuh dada begitu melihat Kingsley.
"Aku membuatmu kaget, ya? Maaf." Kingsley tersenyum antara geli dan merasa bersalah. Lalu seolah bisa mengurangi rasa bersalahnya, dia mengangkat kedua tangan dan menunjukkan enam butir apel merah di tangannya. "Aku menemukan apel."
Tatapan Queenza beralih dari apel itu lalu menatap mata biru Kingsley. Dia tak mengatakan apapun. Selain efek dari rasa kagetnya tadi, Queenza merasa perlu bersikap waspada setelah sekilas tadi melihat mata Kingsley berkilat merah.
Apa dia berada dalam pengaruh Thane atau kekuatan kegelapannya yang muncul?
"Kau marah padaku, ya?" Kali ini raut wajah Kingsley tampak benar-benar menyesal. "Aku hanya ingin kau istirahat, Queen, sungguh. Setelah yang kau lakukan sejak aku sakit, kupikir kau pantas mendapat beberapa jam untuk memanjakan diri. Yah, walau hanya dari danau di tempat tak jelas seperti ini."
Queenza masih menatap lama mata biru di hadapannya. Kali ini dia merasa familiar. Yakin lelaki di hadapannya memang Kingsley yang sama.
"Aku marah karena kau mengurungku di sini," refleks Queenza melontarkan alasan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kingsley & Queenza
FantasiaWARNING : Cerita ini memiliki efek ketagihan. Sekali baca gak akan bisa berhenti sampai berharap gak pernah tamat. Gak percaya, buktiin aja. ------------------------ Manis. Darahnya sungguh lezat. Itu adalah hal pertama yang dipikirkan Kingsley begi...
