Happy reading 💜
••••
Keributan yang semula terjadi di tempat itu Perlahan berubah. Sekumpulan pasukan yang dipimpin Reza telah dikepung anggota Phoenix juga pengawal Arkananta.
Agha yang memimpin pasukan bantuan berlari khawatir ke arah para sahabatnya.
"Maafin gue." Lirih pemuda itu.
Inti Phoenix mendengus kompak. Agha tetap Agha. Seseorang yang tampak dingin tak tersentuh dari luar namun sangat pengertian dan berhati hangat dari dalam. Pemuda itu berwajah kaku. Panik dan takut melihat darah yang merembes dari luka mereka.
"Kecil ini mah." Ucap Raldo. Anna yang tengah menekan luka pemuda itu lantas mendongak. Kemudian melirik Agha dengan tampang meringis. Luka Raldo dalam. Wajah pemuda itu juga pucat. Hanya tinggal menunggu waktu sampai pemuda itu kehilangan kesadaran.
Tak jauh berbeda dengan yang lainnya. Mereka harus mendapatkan perawatan segera. Agha mengumpat. Meneriaki tim medis untuk secepatnya bertindak.
"Haidar! Lo mau kemana woi!" Teriak Aron. Haidar dengan bahu penuh darah bukannya menerima pertolongan medis malah berjalan ke arah tuannya. Rafa menghentikan Aron. Mengisyaratkan untuk tak ikut campur. Sadewa pun kelihatan menggeleng.
Enzi berdiri tegap di tengah-tengah pengawal Arkananta yang mengelilingi. Meski musuh telah diamankan, keselamatan Raja adalah prioritas.
Kondisinya berbeda dengan Reza yang telah kehilangan kesadaran di pangkuan Zanita. Mereka di kelilingi anggota Phoenix. Menanti perintah. Apa yang harus mereka lakukan. Mengingat, perbuatan Reza tak akan diberi ampunan.
"Tuan." Haidar menunduk hormat.
"Maaf." Bola mata Haidar melebar. Enzi meliriknya dengan wajah tanpa ekspresi. Pandangan kosong. Jiwa yang seolah pergi.
Haidar sontak melirik ke arah mansion. Bangunan di lantai lima. Di detik berikutnya kembali menunduk hormat. Mengabaikan rasa nyeri yang menerpa.
Enzi meminta maaf. Hal yang pertama kali ia lakukan. Haidar mulai mengikuti Enzi saat pemuda itu mendapat gelar calon Raja. Umur mereka yang sama membuat ia ingin akrab. Namun semakin mengenal Enzi, Haidar tahu ada ketimpangan besar di antara mereka. Terlepas dari itu, Haidar selalu mengagumi sosok Enzi.
Begitupun Zaky. Ayahnya.
Karena itu, Haidar tak akan pernah menyesali apalagi menyalahkan.
Karena Zaky tak pernah mengajarkan itu padanya.
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya, tuan?"
"Serahin sama Kenzo. Lo dan yang lainnya fokus penyembuhan."
Haidar tak mampu membantah. Ia kembali ke arah inti Phoenix yang sejak tadi memperhatikan. Mereka segera menerima penanganan. Sedangkan Kenzo yang menggantikannya sudah mulai menjalankan tugas.
Enzi menguatkan diri. Perlahan mengambil langkah. Mendekat sang gadis yang sejak tadi menangis putus asa.
"Queen."
"I'm sorry."
Zanita mendongak. Pandangan mereka bertemu. Ada sakit yang tak mampu dijabarkan. Air mata tak mampu sekedar menjelaskan.
Mengabaikan kewaspadaan pengawal di sekitarnya, Enzi membungkuk. Memegang tangan Zanita yang penuh darah.
"Aku akan lakukan apapun yang kamu mau. Asal jangan pergi." Enzi tak peduli jika suaranya terdengar memohon. Karena dirinya memang begitu. Zanita terlalu berharga. Enzi tak akan bisa melepaskannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enzi : [The King Of Phoenix] ✓
RandomNamanya Enzi Kaivan Arkananta. Pemimpin dengan aura tak terbantah yang penuh pesona. Enzi punya segalanya. Harta, kekuasaan, kedudukan. Namun semua hal itu tak serta merta membuat hidupnya bahagia. Sejak awal kata bahagia tak ada dalam kamus hidupny...
![Enzi : [The King Of Phoenix] ✓](https://img.wattpad.com/cover/274508899-64-k99859.jpg)