41. Option

1.9K 86 8
                                        

Nara memandang Luna dan Diva yang sedang berdebat, perdebatan yang menurut Nara tidak penting itu membuatnya malas. Niat hati menceritakan apa yang terjadi padanya dan Rajendra, sekarang Nara harus melihat perdebatan antar dua kubu. Luna dengan Chandra dan Diva dengan Rajendra.

"Guys, stop it!" Pinta Nara yang tidak digubris keduanya. Nara menghela nafas, sebenarnya ingin meninggalkan mereka begitu saja tapi kok Nara malas di kost sendiri sedangkan Rajendra pasti sibuk di rumah sakit.

"Lo katanya suka sama Chandra. Kenapa terima aja ajakan dari mas nya itu? Lagian ya Nar, lo punya kesempatan besar di hubungan lo sama Chandra. Gue melihat aura pink di sekitar kalian," ujar Luna dengan menggebu. Untung di stadium tidak ada siapapun jadi Nara tidak akan membekap mulut Luna itu.

Diva tampak menggeleng, "Emang iya tapi lo harus tau kalau perasaan Mas Rajendra tuh tulus banget buat Nara. Cara Mas Rajendra natap Nara itu udah nunjukin," ujarnya memandang Nara.

Nara sebenarnya tidak tahu jadi dengan penasaran dirinya bertanya, "Emang gimana cara Mas Rajen natap gue?" Tanyanya.

Diva tersenyum lalu mengingat bagaimana cara Rajendra memandang Nara dan bagaimana senyuman tanpa sadar Rajendra untuk Nara. "He stares at you lovingly as if his world is only you. Dia natap lo kaya lo orang paling berharga di hidupnya. Dia cemburu waktu lo sama Chandra tapi ya dia juga sadar perasaan lo," jelasnya pada Nara dan Luna.

Luna berdecak tidak percaya, kemarin yang dilihatnya hanyalah raut datar Rajendra yang walaupun harus Luna akui dia adalah laki-laki paling tampan yang pernah Luna temui tapi laki-laki less emotion sungguh mengurangi nilai. "Gue gak percaya. Dia cuma punya ekspresi datar aja. Lagi pula yang paling penting kan perasaan Nara. Lo masih suka sama Chandra kan?" Tanya Luna memusatkan pandangannya pada Nara.

Nara tanpa ragu menjawab, "Of course, I do."

Tapi Diva tidak menyerah, walaupun Nara bilang masih menyukai Chandra tetapi ada satu sudut hati Nara yang tidak terbaca sudah terisi oleh Rajendra.

"Kalau gitu, apa lo gak ada perasaan apapun buat Mas Rajendra?" Tanya Diva.

Jika pertanyaan ini diajukan sebelum hari itu, hari dimana Rajendra mengutarakan perasaannya dan hari setelahnya saat mereka menikmati waktu bersama maka akan Nara jawab dengan lantang bahwa tidak ada rasa apapun. Tapi, apakah perasaannya tidak berubah?

Nara terdiam. "Gue... Gue bingung," jawab Nara dengan tergagap. Kepalanya pening jika harus memikirkan apa sebenarnya dia menyukai Rajendra atau tidak.

Diva tersenyum, sudah dia duga. Diva memberikan isyarat pada Luna untuk diam yang untuknya Luna turuti.

"Jawab pertanyaan gue kalau begitu. Jawab dengan jujur, kita teman kan?"

Nara mengangguk.

"Lo masih suka Chandra?" Pertanyaan pertama.

"Seperti yang gue bilang tadi. Jawabannya masih," Nara menjawab dengan cepat dengan pertanyaan itu.

"Seberapa besar?"

Kini Nara terdiam, seberapa besar? Kenapa menjawab pertanyaan itu membuat Nara bingung? Bukannya jawabannya sudah tentu sangat besar mengingat bagaimana perasaan sakitnya saat Chandra berpacaran dengan Winda. Tapi itu waktu yang lalu, kalau sekarang harus Nara jawab apa?

"Oke, lo gak bisa jawab seberapa besar. Bisa gue asumsikan kalau kadarnya berkurang kan?" Diva tersenyum miring lalu memandang Luna yang mendengus. Nara hanya diam, tidak tahu menjawab apa.

"Gimana perasaan lo waktu dekat Mas Rajendra?"

"Gue nyaman," jawab Nara.

"Lo ngerasa aman?"

Fall In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang