85. To Be Continued

2.9K 102 18
                                        

Nara masih terdiam di tempatnya, mencoba merogoh ponselnya dengan tubuh Rajendra yang masih tergolek di atasnya. Jujur saja, badan Rajendra itu besar sekali dan saat ini sungguh Nara merasa engap dan susah bernafas. Apalagi panas di tubuh Rajendra yang menguar, membuat Nara kegerahan.

"Mas Rajen, hey!" Nara mengusak rambut Rajendra namun tidak ada respon, Rajendra tenang dalam pingsannya.

Saat sudah mengambil handphonennya, Nara akan menelfon Vero namun sialnya malah Vero bilang harus pergi ke rumah sakit mendadak karena Sectio Caesarea Cito. Baru lima menit yang lalu pesannya terkirim. Lalu Nara mencoba menelfon Chandra. Langsung saja Nara mengatakan kondisinya saat ini.

"Gue... Shit, ini Mas Rajen pingsan dan nimpa gue. Gue gak kuat kalau angkat, tolong tanyain Kak Ale, gue harus gimana?" Nara berkata dengan cepat.

"Oke oke, tenang dulu." Terdengar Chandra memberikan ponselnya pada Ale.

"Hai Nara, coba kamu baringkan Adam dulu di samping kamu. Pelan-pelan aja, jangan lupa lindungin kepala belakangnya ya? Kalian di lantai langsung atau ada karpet?" Ale memberi instruksi dengan tenang.

"Ada karpet bulu, empuk." Jawab Nara.

"Oke good, lakuin instruksi saya ya? Hati-hati."

Nara melempar ponselnya pelan menjauhi tubuh keduanya. Lalu Nara membawa tangannya di kepala belakang Rajendra. Membawa badannya dan Rajendra miring, bukannya sesuatu yang gampang. Sumpah demi apapun Rajendra sangat berat! Kenapa saat melihat di film sangat gampang dan ini susah sekali!

"Ya ampun berat banget Mas Rajen," Nara ingin menangis. Rajendra yang sangat tinggi itu jelas sangat berat. Nara tidak mau lagi membuat masalah. Dia menghembuskan nafasnya sejenak sebelum kembali membawa miring tubuh Rajendra, saat sudah di posisi miring, Nara segera membaringkan tubuh Rajendra dengan hati-hati. Nafasnya terengah-engah hanya karena ini. Nara menyandarkan kepalanya di dada Rajendra, mengambil nafas sejenak untuk kemudian melakukan instruksi lainnya.

"Nara sudah?" Tanya Ale dari sana.

"Udah," jawab Nara.

"Okay, pertama ambil bantal lalu taruh di bawah kaki Adam. Biar posisi kaki Adam lebih tinggi dan jangan beri bantal pada kepala. Setelah itu lepaskan yang sekiranya membuat nafas Adam susah. Mengerti?"

"Okay," Nara segera mengambil bantal dan meletakkannya di bawah kaki Rajendra. Dia ingat pertolongan pertama untuk orang pingsan saat itu PMR dulu, tapi rasa panik sudah menguasainya. Nara lalu melonggarkan sabuk yang membelit pinggang Rajendra dan melepaskan dua kancing kemeja Rajendra.

Nara meneguk ludahnya, tangannya bergetar saat membuka kancing kemeja Rajendra. Membayangkan otot-otot Rajen-Shit, "Please stop mesum," gumam Nara sembari dengan cepat melakukan kegiatannya.

Ternyata Ale mendengarkan gumamannya, "Kenapa Nara?" Tanyanya

Nara terkejut, "Oh nggak. Sudah, setelah ini apa?" Nara mengalihkan topik.

"Coba beri Adam rangsangan, yang lembut saja Nara."

Nara membawa tangannya mengelus pipi Rajendra yang ditumbuhi bulu-bulu bakal jambang dengan lembut, bibirnya membisikkan nama Rajendra beberapa kali dan mengecupi kening Rajendra. "Sayang, Mas Rajen bangun yuk."

Lalu bisa dilihatnya kelopak mata Rajendra yang bergetar ingin terbuka, Nara masih menunggu dengan sabar. Respon Rajendra positif jadi dia bisa sedikit tenang, namun jelas Rajendra perlu penanganan dokter. Tubuh Rajendra benar-benar panas. Dan yang ditunggu-tunggu akhirnya membuka matanya dengan pelan.

"Nara?" Panggil Rajendra serak. Nara tersenyum. "Haus," ujar Rajendra dengan suara parau.

"Kak Ale, Mas Rajen haus. Boleh minum?" Tanya Nara tidak ingin salah dan membuat Rajendra kesakitan.

Fall In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang