Rajendra membalas pelukan Nara, "Ya mari bahagia bersama Nara. Mas akan tunggu dan kita akan menikah. Bahagia bersama, Mas sangat-sangat mencintai Nara. Bimbing mas ya? Bimbing mas mencintai Nara sebagaimana laki-laki semestinya. I love you so much," kata Rajendra pelan.
Nara mengangguk dengan sangat hikmat, menikmati tubuh Rajendra yang memanas dengan perasaan khawatir sekaligus bahagia. Rajendranya masih sakit ternyata, suhu tubuhnya kian tinggi. "Mas, sudah yuk? Mas istirahat ya?" Nara bertanya dengan nada khawatir yang sangat kentara.
Rajendra enggan melepaskan pelukannya walaupun merasa tubuhnya bukan membaik namun malah makin menjadi, "No, mas kangen Nara." tolaknya mentah-mentah.
Nara hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, membiarkan saja Rajendra berbuat semaunya tetapi sebelum itu, Rajendra harus meminum obatnya. "Minum obat dulu habis itu peluk lagi ya?"
Kali ini Rajendra menurut, meminum obatnya dengan cepat lalu kembali memeluk Nara erat. "Mas kira bakal kehilangan kamu, mas takut sekali." Rajendra merasakan bulu kuduknya merinding dan tubuhnya menjadi gemetaran. Bayangan kehilangan Nara membuatnya takut. Membahas ketakutannya kehilangan Nara sungguh membuatnya mual.
Setelah Rajendra pamit
"Lo beneran ninggalin Nara di sana?" Vero bertanya dengan pandangan tidak habis pikir. Katanya mencintai Nara dan takut kehilangan, tetapi kenapa Rajendra malah meninggalkan Nara dan membiarkannya berduaan dengan Chandra. Sungguh bukankah Rajendra berpikir bisa saja mereka ada sesuatu?
"Gue percaya Nara," jawab Rajendra pelan. Dia masih berdiri di depan mobilnya, hatinya mengatakan agar kembali menemui Naranya. Dia... Takut.
Ale di sebelah Rajendra tampak menepuk bahunya pelan, "Tuh Luna sama Tante Kirana sudah keluar, pasti Ian sama Nara berduaan. Lo yakin gak kesana lagi?" Ale tampak setuju dengan Vero, maka dia pun mengatakan pendapatnya pada Rajendra. "Sana, pulang sama Nara. Gue kasihan lihat lo akhir-akhir ini Dam. Lo gak sehat," katanya jujur.
Rajendra masih diam, tangannya mengepal erat membayangkan Nara dan Chandra bergandengan tangan bersama melangkah ke masa depan. Meninggalkannya dengan segala luka dan bertatih-tatih menjalani hidup. Rajendra tidak yakin dia siap, Rajendra tidak yakin dia mampu. Rajendra tidak mau, Nara miliknya!
"Dam!" Vero dan Ale berteriak saat dilihatnya Rajendra yang berlari ke dalam rumah sakit kembali. Keduanya mengikuti langkah lebar serta tergesa Rajendra. Bisa mereka lihat bagaimana tangan Rajendra yang mengepal.
Rajendra dikejar waktu, dia ingin segera memeluk Naranya. Merasakan kehangatan serta kenyamanan pelukan dari cintanya. Dia merindu sekaligus sekarat, Naranya tidak boleh pergi. Lift serasa lama sekali membawanya ke kamar Chandra, jika diberikan kekuatan maka dia ingin memeliki sayap agar segera sampai pada Naranya.
Ting
Rajendra berlari, tangannya akan terangkat namun terhenti saat mendengarkan percakapan di dalam sana. Vero dan Ale turut menghentikan langkahnya, menatap sang sahabat yang membeku dengan tangan yang terkepal erat dan tubuh gemetaran.
Naranya di dalam sana, mengatakan hal yang membuat hatinya sakit. Dengan teramat.
"Perasaan? Perasaan gue?" Suara Nara tenang, kekehan kecil itu bisa Rajendra bayangkan betapa cantiknya. "Gue mau buat pengakuan. Gue jatuh cinta sama lo. Kapan? Udah lama banget, pertama kali gue ketemu lo adalah waktu lo bantu seorang nenek buat nyebrang jalan dan gue ngerasa jantung gue berdebar-debar kencang. Gue gak percaya love at the first sight, tapi gue rasain ini ke lo," Rajendra mendengarnya dengan hati yang sakit. Jantungnya berdetak kencang dan menyakitkan. Ini sangat menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
Fiksi UmumFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
