"Stop sayang." Nara menatap Rajendra dengan pandangan memelas, tangannya masih memeluk satu box ice cream dengan pandangan tidak rela.
"Baru dikit Mas Rajen," Nara menolak dengan menjauhi tempat Rajendra duduk. Namun tentu Rajendra tidak membiarkannya.
"Come, bawa kemari biar mas masukin kulkas. Kamu sudah hampir 10 menit makan ice cream itu sayang," Rajendra merebut dengan lembut ice cream dipelukan Nara membuat istrinya itu mencebik kesal.
Nara mengerucutkan bibirnya sebal, menatap Rajendra dengan pandangan bermusuhan. "10 menit itu sambil ngobrol sama nonton film bukan full makan ice cream Mas Rajen!" Nara kesal, dia sebal setengah mati pada Ranjendra. Akhir-akhir ini Rajendra seratus kali lebih menyebalkan. Pokoknya Nara sebal.
Rajendra menggeleng tegas, "Tetap saja jangan. Nanti kamu batuk," ujarnya sambil berjalan memasukkan ice cream ke dalam kulkas. Saat Rajendra kembali, dia melihat Nara yang memandangi dengan aura bermusuhan yang kental namun matanya tampak berkaca-kaca.
"Wife," panggil Rajendra pelan, mendekat dan memeluk istrinya. Nara tidak memberontak pun tidak membalas pelukannya.
"Kenapa ya mas akhir-akhir ini nyebelin banget. Mau ini itu gak dibolehin, makan diatur banget dan pokoknya nyebelin. Mas udah gak cinta sama aku? Udah bosen sama aku yang gendutan ha?" Nara meninju pelan punggung Rajendra.
Rajendra menghela napasnya, "Bukan maksud mas seperti itu sayang, mas cuma gak mau ada apa-apa sama kamu. Masa mas biarin tengah malam minta seblak level 5, makan ice cream sebox besar sama makanan berminyak-minyak aneka warna itu? Mas gak mau kamu sakit," terang Rajendra lembut, tangannya bergerak mengelus punggung istrinya.
Nara masih tampak tidak terima malah rasa kesalnya bertambah karena mengingat banyak permintaannya yang tidak dikabulkan oleh Rajendra. "Bohong, aku sedih banget sumpah pengen nangis. Mas udah gak cinta aku lagi," Nara bingung, sekarang dia ingin menangis. Apakah terlalu kesal bisa membuat ingin menangis? Sepertinya memang iya.
"Siapa yang bilang gitu hm?"
"Ya buktinya mas udah berubah gak kaya dulu. Pokoknya aku curiga!" Kini malah tangisnya sudah pecah, kian paniklah Rajendra.
"Sayang hei dengar—" Rajendra memegang kedua pipi Nara yang masih sesenggukan. Menatapinya dengan lembut, "Cinta mas setiap harinya ke kamu tidak pernah berkurang, malah selalu bertambah. Apa kamu gak merasakannya?"
Ya, Nara memang merasakannya dari dalam hatinya yang paling dalam. Namun sayang sekarang bukan hatinya yang paling dalam lah yang berperan. Dia sedang mendengarkan hatinya yang paling luar.
"Kalau mas bener cinta sama aku. Sekarang beliin mie jebew!" Nara melepaskan pelukan Rajendra dengan tiba-tiba. Memberikan Rajendra tatapan tajam, itu artinya Rajendra harus menuruti keinginan Nara saat ini.
Rajendra mengerutkan keningnya. Mie jebew? Apa itu dan apakah malam-malam masih ada? Tapi mendengar kata mie tentu saja Rajendra langsung menolak. "No, jangan mie ya. Kemarin kan sudah, mau yang lain?" Tawarnya dengan nada membujuk.
Nara menyusut air matanya dengan kesal, sialannya air matanya malah turun karena tidak dituruti namun Nara akan berkompromi. "Kalau gitu aku mau Gacoan aja. Level 8." Katanya kemudian namun bisa tertebak reaksi Rajendra.
"Yang lain ya? Tidak ingat saat mas kasih izin dulu? Kamu diare sepuluh kali dalam sehari sayang. Yang lain saja tapi jangan mie, jangan ice cream dan jangan yang pedas," jelas Rajendra. Mengingat Nara yang bolak-balik mengeluh sakit perut tentu tidak ingin Rajendra ulangi lagi kebodohannya itu.
"Gitu aja terus. Gak boleh, gak boleh dan gak boleh!" Nara berdiri lalu berjalan cepat menuju kamar meninggalkan Rajendra.
Rajendra dengan cepat menyusul untuk menemukan Nara yang sudah berguling di dalam selimut memunggunginya. Dengan hati-hati, dipeluknya sang pujaan hati yang tengah merajuk. Apakah Nara sedang PMS?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
Genel KurguFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
