Nara menatap Rajendra yang memejamkan matanya dengan tenang. Tidak pernah ada di bayangan Nara dia akan di posisi ini. Berada diantara dua saudara yang saling merebutkannya, bukannya Nara terlalu percaya diri atau apa. Tapi dia sekarang merasa seperti Belly di The Summer I Turned Pretty.
Dia suka sekali membuat skenario percintaan sebelum tidur, hal seperti ini pernah ada dibayangannya tapi ternyata rasanya sangat memusingkan. Baru satu hari Chandra mengikrarkan akan bersaing dengan Rajendra sesama lelaki namun Nara sudah pusing tujuh keliling.
Chandra itu, Nara sudah mengenalnya cukup lama. Dia tau dan sangat tahu jika Chandra pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan. Dia akan terus mengejar sampai dapat. Dan Nara tidak akan membiarkan itu. Janjinya pada Rajendra adalah valid, dia harus menepati dan menjaga kebenaran dari janji yang dia katakan.
Jika dipikir-pikir, Chandra agak sedikit red flag. Jika dia memang menyukainya, kenapa malah berpacaran dengan Winda? Oke, Nara membenarkan jika Chandra itu pengecut karena tidak berani mengatakan perasaannya tapi apa perlu sampai berpacaran dengan Winda? Bukannya kalau tidak berani ya tidak usahlah mencari cewek lain. Nara baru sadar, selama berpacaran dengan Winda pun Chandra masih tetap Chandra yang rutin mengunjunginya. Perkataan Winda yang mengatakan jika Chandra hanya menyukainya bahkan saat berpacaran dengan Winda pun sudah sangat mencurigakan.
Jika dia menjadi Winda, dia akan sakit hati. Jelas saja, jika pacarmu menyukai orang lain dengan sangat terang-terangan begitu siapa yang tidak sakit hati? Ah, kenapa membahas percintaan Winda dan Chandra mengingatkannya pada dia dan Rajendra. Dia jelas masih menyukai Chandra saat pertama kali Rajendra menyatakan perasaannya. Jadi, intinya Nara dan Chandra itu sama. Sama-sama red flag?
HELL NAH! Nara menggelengkan kepalanya pelan, mengusir segala pemikiran-pemikirannya. Rajendra yang menyadari pergerakan Nara pun membuka matanya pelan, "Kenapa Naraa?" Tanyanya.
"Gak papa, cuma kepikiran sedikit kebodohanku." Jawab Nara dengan jujur.
Rajendra tampak mengerutkan keningnya. "Kebodohan apa? Bodoh karena sudah janji sama Mas?" Tanya Rajendra yang semakin memelan di setiap katanya.
Nara membelalak lalu memukul bahu Rajendra pelan, "Kenapa bilang gitu sih? Itu kepinteran aku tau," Nara mengerucutkan bibirnya. Lebih baik menghadapi Rajendra yang dingin dan cuek daripada menghadapi Rajendra yang overthinking begini.
"Mas takut kamu menyesal. Tapi walaupun kamu menyesal, Mas gak akan biarkan kamu ninggalin Mas, Naraa."
Kata-kata itu lagi, Sebegitu takutnya Rajendra kehilangannya? Nara tau, mungkin untuk beberapa hari kedepan atau bahkan sampai berlanjut, dia akan sering mendengar perkataan itu.
"Iyaa sayang," jawab Nara begitu saja dan wajah Rajendra sudah kembali tenang. "Aku sudah janji sama Mas Rajen. Ingkar janji itu dosa kan?" Nara menatapi Rajendra dengan lekat.
Rajendra mengangguk.
"Aku gak mau dapat dosa, dosaku udah banyak." Nara meringis sewaktu mengatakan itu membuat Rajendra tersenyum tipis. "Selain itu, aku sayang banyak-banyak sama Mas Rajen tersayang. Itu udah jadi akar yang kuat kenapa aku harus stay sama Mas Rajen."
Rajendra kini tersenyum semakin lebar. Tidak masalah jika rasa Nara untuknya masih di tahap sayang. Rajendra yakin, jika dia terus memberikan seluruh cintanya pada Nara. Maka Nara akan mencintainya dengan perlahan dan akan semakin kuat. Pepatah yang mengatakan sedikit-sedikit lama lama jadi bukit akan Rajendra terapkan.
Dia sangat yakin, perasaan tulusnya yang besar pada Nara akan terbalas. Rajendra tidak berharap Nara mencintainya sebesar dia mencintai Nara, bahkan Rajendra sendiri pun tidak tahu sebesar apa cintanya pada Nara. Yang dia tau, cintanya bahkan melebihi setiap pembuluh darah di tubuhnya. Nara, sudah memenuhi seluruh tubuh dan jiwanya. Melakat kuat di hatinya. Dia tidak mengharapkan cinta Nara akan sama sepertinya, namun dia hanya berharap Nara mencintainya dengan tulus sehingga tidak akan dan tidak ada pikiran untuk meninggalkannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
Fiksi UmumFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
