Kata orang cinta itu indah. Tapi kalau menurut Nara itu cuma omong kosong. Indah sih, kalau kalian belum merasakan patah. Sebenernya Nara tidak suka jatuh cinta kalau ujung-ujungnya patah hati juga. Karena katanya patah hati bisa buat orang cepet mati, katanya loh ya.
Tapi memang benar kalau ekspektasi tak sesuai dengan realita. Nyatanya Nara juga pernah jatuh cinta, sering malahan. Dan jangan lupa Nara juga sering patah hati, tapi Nara masih hidup tuh. Chandra itu bagaikan mata air di tengah gurun pasir, menyejukkan. Dia datang disaat hatinya benar-benar kosong dan nempatin ruang kosong dalam hati Nara seenak jidatnya. Dan kalian tahu, setelah dia udah berhasil nempatinnya ehh dianya malah pergi selancang itu.
Saat itulah Nara mulai merasa bahwa cinta itu bullshit. Padahal dulu Nara selalu percaya sama teori tentang cinta itu indah.
"Cinta indah apanya, bullshit dah," kata Nara saat sedang hangout bareng Luna dan Diva.
"Lo kan gak ngerasain, Nar." ucap Luna kepada Nara.
"Halah, coba aja lo tahu pahitnya cinta. Gue jamin deh lo juga bakal bilang cinta itu cuma omong kosong," kata Nara sambil menekankan setiap katanya.
"Lo aja jangan gue," katanya sambil memeletkan lidah.
"Iya deh semoga gue aja yang ngrasain, lo pada gak usah," kata Nara.
"Sabar Nara, semua masalah itu pasti ada hikmahnya. Berarti menurut Allah, Chandra itu bukan laki-laki yang baik buat lo. Siapa tau jodoh lo udah nunggu disana," kata Diva menasihati dengan sabar. Menurutnya, rencana Tuhan punya rencana lain dalam kisah cinta sahabatnya. Mau berakhir pada Chandra atau orang lain itu, Diva hanya berharap Nara senantiasa bahagia.
"Ah lo pengertian banget sama gue," kata Nara lalu memeluk Diva haru.
"Gue ikut," kata Luna yang langsung bergabung untuk berpelukan. Akhirnya mereka berpelukan bersama. Sahabat yang baik itu ada disaat suka dan duka. Bukan hanya datang saat butuh saja. Rasanya Nara sangat bahagia memiliki sahabat seperti mereka.
Tanpa sadar mereka sudah menitikkan air mata, "Ih kok malah nangis-nangisan sih, udah gede kok," kata Luna yang pertama kali menguraikan pelukannya.
"Hahaha lucu ya kita," kata Nara yang masih menitikkan air mata, tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap mereka aneh.
***
Di siang yang cerah mendekati amat panas ini Nara harus pergi ke kampus karena ada matkul siang. Ini yang paling ia boseni, udah panas banget harus mikir pelajaran pula. Tapi ya harus gimana lagi, jadi anak akutansi itu harus sabar menghadapi angka-angka yang bikin mumet, kalau kata orang dikampung Nara itu namanya jelimet. Ngitung ini ngitung itu buat kepala lama-lama jadi beruban, kayak rambutnya Pak Rudolf yang udah banyak ubannya. Ngomong-ngomong soal Pak Rudolf, siang ini Nara akan bertemu dengan Pak Rudolf karena ini jadwal mengajar Pak Rudolf.
Saat menyusuri jalan di taman kampus tanpa sengaja Nara bertemu dengan Chandra, untung saja dia sendirian. Biasanya pawangnya ikut ke mana-mana. "Nara!" panggil Chandra saat udah sampai dihadapan Nara.
"Eh Chandra, ada apa? Tumben lo manggil gue," kata Nara untuk menutupi salah tingkahnya. Dihampiri mantan gebetan, siapa yang tidak salah tingkah?
"Emangnya manggil temen sendiri gak boleh?"
"Ya gapapa lah, kan kita temen," balas Nara bermaksud menyindir si Chandra. Sementara si empunya yang disindir hanya manggut-manggut dengan wajah polosnya. Ia tersenyum, "Temenin gue ke kantin yuk, mumpung masih ada waktu." Katanya pada Nara yang Nara jawab dengan anggukan kepala.
Bukannya mau nyari kesempatan di dalam kesempitan ya. Nara sebenarnya juga udah ikhlas kalau Chandra sama Winda. Tapi kalau ada kesempatan buat deket lagi kenapa harus nolak. Stoop! Jangan kalian pikir Nara bakal jadi pelakor. Gak banget coba jadi pelakor, Nara itu cuma memanfaatkan kesempatan yang ada sekalian modus sedikit gapapakan. Kali aja Chandra sadar kalau disini ada orang yang suka sama dia udah lama.
Selagi perjalanan menuju kantin. Nara mengobrol banyak hal dengan Chandra. Dia gak berubah sama sekali, tetep Chandra yang selalu mengisi hari-harinya, tetep Chandra yang selalu bikin mood Nara naik. Bahkan malah Nara yang sekarang kelihatan lumayan canggung dengan dia.
"Lo kenapa sih? Kayaknya ada yang aneh. Lo kayak canggung gitu sama gue," tanyanya dengan menatap Nara dengan pandangan menyelidik yang sumpah demi apapun malah terlihat sangat seksi di mata Nara. Haduh dasar bucin.
"Ah gue biasa aja, lo aja yang ngerasa gitu," kata Nara yang memasang senyum kikuk.
"Jangan berubah ya, Ra. Gue suka Nara yang dulu. Gue ngerasa kalau lo ngejauh dari gue," katanya dengan wajah tanpa dosa membuat Nara ingin sekali mengumpat.
Kalau ditelaah, yang membuat Nara berubah itu ya Chandra sendiri. Sebenernya disini yang salah siapa sih, Nara atau Chandra? Coba kalian diposisi Nara, gimana perasaan kalian.
Kelihatannya kok kayak Nara yang salah kalau jaga jarak dari Chandra. Chandra sudah punya pacar terus juga mau deket sama Nara. Lha terus Nara malah dikira PHO dong. Karena tidak tahu mau menjawab apa, akhirnya Nara hanya bisa tersenyum ke Chandra
Nara punya feeling buruk soal pergi ke kantin bersama dan well feelingnya benar. Sewaktu masuk kantin bersama Chandra, Nara langsung merasa semua mata menatapnya dengan pandangan sinis dan jangan lupa sindiran sindiran halus.
Loh kok Chandra sama Nara sih.
Bukannya Candra sama Winda ya.
Gue mulai mencium bau-bau pelakor nih.
Gak tau diri banget sih Nara, padahal Candra udah sama Winda. Masih aja dideketin.
Masih cantik Winda kemana - mana lah.
Nara kasian ya ditinggal Chandra.
Udah tau Chandra sama Winda eh malah masih nempel mulu
Bukan hanya hinaan yang Nara terima tetapi ia juga mendapat pujian walau hanya sedikit, ingat hanya sedikit ditambahi banget jadi sedikit banget nget nget.
Dan masih banyak lagi. Nara yang biasanya masa bodoh sama omongan orang, sekarang sudah tidak bisa lagi menahan semua itu. Kuping Nara rasanya udah panas, wajahnya merah gak karuan. Tangannya mengepal siap memberi pelajaran sama tukang gosip itu.
Tiba tiba, "Udah gak usah didengerin, mereka gak tau apa-apa," kata Chandra berusaha menenangkan Nara sambil menggenggam erat tangannya. Seketika rasa hangat mengaliri telapak tangannya.
Dan Nara yakin seyakin-yakinnya bukannya tambah tenang malah ia tambah pengin nyemplungin Chandra ke sungai. Hello, mereka itu ngomongin Nara sama Chandra karena dikira ada apa-apa dan ini dia malah megang tangannya. Nara ulang sekali lagi Chandra pegang tangannya. Dan kalian bisa nyimpulin apa kejadian yang selanjutnya? Yap, bukannya berhenti gosip mereka malah semakin gencar buat bikin berita hoax. Poor Nara.
Karena tidak tahan dengan celotehan tidak bermutu para penggosip, Nara lebih milih pergi dari kantin aja. Daripada di sini cuma buat makan hati. Apalagi Chandra juga tidak peka pake banget, untung saja ada Luna yang mengabarinya kalau sebentar lagi ada dosen jadi Nara tidak perlu pusing memikirkan alasan untuk bisa pergi dari sini. Setelah pamit sama Chandra, ia langsung pergi ke kelas. Lalu Nara menceritakan semua kejadian itu sama Luna dan Diva. Mereka hanya bisa menasehati Nara agar lebih sabar karena cobaannya dimulai dari sekarang.
"Sabar aja, lo bakal nemuin jodoh lo nanti," kata Luna menenangkan Nara.
"Bukan masalah jodohnya Luna!" Sentak Nara kesal karena kelambanan Luna dalam berpikir.
"Terus apanya dong?" Jawab Luna polos.
"Gue jadi bahan gosipan se-fakultas!" Jawab Nara datar sementara Luna hanya manggut-manggut saja.
"Yang sabar aja. Kan lo bisa tambah terkenal dong, wah gue punya sahabat yang terkenal. Gue suka gue suka!" Ujar Luna bertepuk tangan. Nara dibuat kesal dengan tingkah Luna maka berakhirlah sekotak tisu di kepala Luna. Ya siapa lagi yang melempar kalau bukan Nara.
"Aduh Nara! Sakit tau nggak?!"
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
General FictionFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
