EP. 23 Almost Final

1.6K 69 1
                                        

Nara memandangi anaknya dengan pandangan berbinar dan penuh rasa syukur lalu pandangannya beralih pada Rajendra yang masih pada lelapnya. Entahlah, saat terbangun bukannya ada Rajendra yang menyambutnya malah berita Rajendra pingsan yang dia dengar. Ia ingat bagaimana Vero dan Ale menyelamati atas kelahiran anak pertama mereka sembari mengejek Rajendra.

"Kayak gak pernah ngelihat SC aja. Padahal dia dulu jadi koas primadona." Kata Vero sembari menggelengkan kepalanya.

Nara menghela napasnya, terimakasih untuk kemajuan teknologi apalagi di bidang kesehatan. Sungguh dia sudah merasa sangat bersemangat sekarang tetapi rasanya harus tertunda karena Rajendra betah memejamkan mata.

"Udah?"

Melihat Kirana yang menghampirinya sembari tersenyum membuat Nara pun tersenyum lebar sembari mengangguk. Tadi dia telah diajari inisiasi menyusui dini. Awalnya dia masih sulit dan kaku, tetapi melihat anaknya yang terlihat bersemangat membuat Nara tersenyum juga.

"Mama mau gendong?" Tanya Nara kemudian.

Kirana menggeleng, "Mama taruh di bednya ya? Kayanya Adam kalau gak dibangun gak bakal bangun," gurau Kirana membuat Nara tertawa. "Biar cepet tau nama baby nya," Kirana mengambil bayi Nara dengan pelan, meletakkannya di bed kecil khusus bayi di samping ranjang Nara.

"Makasi ma," kata Nara dengan senyuman.

Kirana lalu membantu Nara untuk menghampiri Rajendra dan meninggalkan mereka berdua. Nara kemudian tersenyum, tangannya mengelus alis Rajendra yang rapi dengan lembut. "Bangun, sayang." Bisiknya lembut di telinga Rajendra.

Ajaibnya, mata Rajendra tampak mengerjap pelan dan kemudian terbuka perlahan pula. Rajendra mengalihkan pandangannya pada Nara yang tersenyum melihatnya. Netranya menatap Nara haru lalu dengan cepat memeluk sang istri.

"Kamu hidup?"

Nara mendengus kemudian mencubit perut Rajendra pelan, "Kamu mau aku nggak hidup?" Tanyanya kesal.

"Tadi..." Rajendra terdiam tidak melanjutkan ucapannya namun memeluk Nara semakin erat.

Nara menghela napasnya, "Mama bilang kalau mas khawatir banget sama aku terus tiba-tiba pingsan waktu Kak Vero keluar. Kenapa?" Nara mengelus pundak Rajendra pelan.

Rajendra menggelengkan kepalanya, "Mas... Gak tahu," jawabnya terbata.

Nara mengerti, laki-laki kuat bisa menjadi lemah juga ya jika menyangkut wanitanya? Nara mengerti. Maka dari itu, Nara dengan cepat memberikan kecupan bertubi ke pelipis suaminya.

"Mau lihat anak kita?" Tanya Nara setelah mereka terdiam dalam waktu yang lama.

Rajendra terdiam sejenak lalu mengangguk pelan. Melepaskan pelukannya dari Nara, berganti memeluk pinggang Nara yang membawanya pada box bayi dimana anak pertamanya ditidurkan.

Seorang bayi berjenis kelamin laki-laki yang masih merah itu terpejam dengan tenang seolah tidak terganggu dengan keadaan sekitarnya. Dari bibir, hidung, sampai alis itu. "Kenapa mirip mas sekali?" Tanya Rajendra pelan.

Nara tertawa, "Apalagi kalau matanya kebuka. Seratus persen mirip Mas Rajen dan kayaknya sifatnya juga mirip mas deh," Nara membawa bayinya dalam gendongan. "Tenang," lanjutnya.

"Mau gendong?"

Rajendra menerima bayinya dengan lembut penuh kehati-hatian. Buah cintanya, bukti cintanya dengan Nara sudah lahir dengan selamat. "Hai Nara!" Sapa Rajendra membuat Nara mendelik tidak terima.

"Yang bener aja dong Mas Rajen! Perjanjiannya kan gak begitu." Dengan bibir mencebik Nara menatap Rajendra yang tersenyum kecil.

"Eros," ujar Rajendra pelan membuat cebikan di bibir Nara menghilang. "Eros Kalnandra Nararya Adam," lanjut Rajendra memberitahu nama panjang anaknya.

Fall In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang