Day 1
Rajendra menatap kamarnya dengan kosong, tadi dia baru bisa tidur pukul tiga dini hari dan jam enam dia sudah bangun lagi. Rajendra memulai harinya dengan suram, baru beberapa jam tidak bertemu Nara sama sekali tubuh dan hatinya sudah mulai memberontak. Dia merindukan dunianya, Nara.
Rajendra menatap handphonenya, melihat last seen Nara bahkan kemarin. Dia mengirimi pesan pada Nara, padahal dia yakin Nara tidak akan membalasnya namun dia tidak bisa membiarkan harinya tanpa mengirimi Nara pesan.
"Nara," gumam Rajendra saat melihat Nara tersenyum dalam bayangannya. Dia sudah tidak tertolong, hanya dengan membayangkan Nara saja dia sudah merasa bahagia dan merasa berdebar. Membuat bibirnya ingin tertarik membentuk senyuman.
Rajendra lalu memutuskan untuk mandi dan segera berangkat ke rumah sakit. Dia berjalan menuju ruangannya dengan tenang dan wajah datar seperti biasa. Rajendra memulai harinya dengan visite ke beberapa bangsal, dilanjutkan dengan membaca status pasien dan kemudian membuka polinya.
Waktu berjalan dengan sangat cepat dan padat, Rajendra ingin terus bekerja karena saat bekerja ingatan dan rindunya pada Nara menemukan distraksinya. Saat istirahat pun dia masih sibuk dan saat pulang, Rajendra memilih untuk tidur di rumah sakit.
"Hai," Ale yang sudah mengenakan pakaian formal biasa memasuki ruangan Rajendra. Ale menyerahkan kertas resep pada Rajendra.
Rajendra melihat itu dan mengucapkan terimakasih, "Makasih." Ucapnya dengan singkat lalu Rajendra kembali sibuk membaca rekam medis pasien-pasiennya.
"Gak pulang?" Tanya Ale yang sekarang sudah mengambil duduk di hadapan Rajendra yang tampak serius, Ale memfokuskan pandangannya pada sebuah figura di meja Rajendra lalu Ale tersenyum. Ada foto Nara di sana, seperti yang sudah Ale duga.
Rajendra menggelengkan kepalanya tanpa mengangkat pandangan.
"Gak kencan sama Nara?"
Saat itulah Rajendra mengangkat kepalanya dan menghela nafas. Dia tampak memandang Ale dengan penuh pertimbangan sebelum mengatakan, "Nara ada acara dengan temannya. Girls time no man."
Ale tergelak mendengar perkataan Rajendra membuat Rajendra mendengus. "Pantes gue lihat lo lemah, letih, dan lesu. Ternyata gak bisa kencan sama Nara?"
Rajendra memilih menyudahi pekerjaannya saat mendengar ada lagi yang membuka pintu ruangannya. Dilihatnya Vero yang juga sudah berpakaian biasa.
"Loh?" Vero kaget menatap Ale dan Rajendra. "Tumben akur," lanjutnya lalu mulai duduk di sofa, merebahkan dirinya yang lelah.
"Mau cepet nikah deh gue. Pengen banget nganterin istri yang hamil buat USG," entah darimana hilalnya Vero mengatakan hal tersebut.
"Wah, lo kan tinggal milih mau yang mana. Pacar lo yang banyak itu pastilah ada yang cocok satu," jawab Ale lalu dia mulai menyebutkan siapa saja nama-nama perempuan yang pernah dekat dengan Vero. "Banyak tuh. Pilih aja satu."
Vero tampak menggelengkan kepalanya, "Gue mau yang bener-bener dari hati, yang cocok gitu. Lo gak pengen apa?" Tanya Vero pada dua temannya.
"Gue sih pengen tapi gak dalam waktu dekat, jangan ditanya kalau itu. Yang perlu lo pertanyakan, apakah Adam mau nikah eh tapi dia bilang kan gak bakal nikah ya," jawab Ale sambil menatap Rajendra.
"Gue nikah sama Nara," jawaban Rajendra membuat Ale dan Vero berpandangan lalu mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Yah, ternyata Nara sudah merubah Rajendra sejauh ini.
"Bener-bener deh, Nara pakai pelet apa ya?" Tanya Vero yang membuat Rajendra melotot namun memilih diam. Rajendra kemudian mendengarkan obrolan sahabatnya dengan tenang, tersenyum tipis saat nama Nara terdengar. Pandangannya juga selalu tertuju pada foto Nara di mejanya. Melewati satu hari tanpa Nara dan ah Rajendra bahkan melupakan makannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
General FictionFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
