Nara menatap depannya dengan pandangan kosong, tidak mau dipikirkan tapi ternyata efeknya masih dahsyat juga. Cinta, cinta, cinta. Kalau tau percintaan sebegini ruwetnya, Nara ingin menjadi Nara yang dulu. Jomblo tanpa ada kisah percintaan dan tanpa pusing-pusing.
Dia sudah memilih Rajendra, sejak saat kejadian Rajendra masuk rumah sakit itu Nara sudah memutuskan untuk selalu memilih Rajendra. Tadi malam dia benar memilih Rajendra. Dia tegas menolak Chandra, namun ternyata dia tidak bisa tegas pada hatinya sendiri.
"Gue... gue suka lo. Gue cinta lo. Love you Nara."
Dan Nara membeku di tempatnya.
"Gue jatuh cinta sama lo sejak dulu. Tapi gue bodoh ya Nar? Gue tau lo dan perasaan lo sama. Cinta gue berbalas, tapi kenapa gue bisa sebodoh dan sepengecut itu?" Chandra tersenyum kecut memandang Nara.
Nara menghela nafasnya, menguatkan hati untuk kemudian berbalik. Menatap Chandra yang menatapnya putus asa, tatapan yang baru pertama kali Nara lihat. "Lo emang bodoh," jawab Nara pelan namun Chandra mendengarnya.
Chandra tersenyum sumir, "Ya, I know. Dan sekarang gue sangat bodoh dan jahat." Chandra maju, mendekati Nara. Nara tertahan di tempatnya. "Gimana bisa gue nyatain perasaan ke perempuan pacar kakak gue sendiri? Perempuan yang buat Kak Adam jadi hidup?" Chandra menatap Nara dengan lekat.
Nara diam, tidak tau menjawab apa. Dia sudah pernah membayangkan dan berlatih mandiri jika menghadapi situasi yang seperti ini. Tapi... Kenyataan memang selalu lebih complicated. Latihannya hanya menemukan kegagalan karena dia hanya bisa terdiam kali ini. Bodoh, rasanya Nara ingin mengumpati dirinya.
"Nar, look at me please." Mohon Chandra karena Nara mengalihkan pandangannya. "Please." Mohonnya sekali lagi.
Nara menghela nafasnya dan mulai menatap Chandra sesuai permintaannya walaupun Nara takut saat ini. Chandra memandang Nara dengan lekat dengan pandangan menilai lalu Chandra tersenyum lebar membuat Nara mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Thank you." Katanya pelan, Nara benar-benar tidak mengerti apa maksud Chandra. Apalagi melihat Chandra yang tersenyum, tidak sesuram tadi.
"Jangan menghindar. Gimanapun kita temenan udah lama, okey?" Pinta Chandra yang tiba-tiba saja sudah berubah menjadi Chandra seperti biasa. Chandra yang manis dengan senyum penuh keramahan.
"Hm, tapi gak bisa kaya dulu. Gue juga harus jaga perasaan Mas Rajen. Dan lo-" Nara menunjuk Chandra yang masih saja tersenyum. "Berhenti mancing-mancing gak jelas."
"Gue suka mancing Nar," kilah Chandra dengan menyebalkan.
"You know what I mean Chandra. Gue... gue sayang Mas Rajen dan selamanya akan begitu," jawab Nara dengan tegas memandang Chandra yang masih dan masih bertahan dengan senyumannya.
"Gue tahu lo sayang Kak Adam. Ah, makasih Nara," kata Chandra lagi.
Nara mendengus kesal, "Makasih terus. Makasih buat apa deh?" Tanyanya dengan kesal. Daritadi setelah memandang matanya, Chandra selalu berterimakasih padahal Nara tidak melakukan apapun. Tapi tunggu! Jangan bilang?!
Nara membelalakkan matanya memandang Chandra. Nara menggeleng pelan apalagi saat Chandra tertawa dan mengusap rambutnya.
"Makasih karena masih nyimpan nama gue di hati lo yah walaupun kayanya udah kegeser sedikit," jawaban Chandra membuat Nara ingin menangis. Kenapa Chandra mengatakan itu? Suatu hal yang bahkan Nara ragu dan saat ini sudah dikatakan Chandra dengan tegas. Benarkah sekentara itu? Perasaannya pada Chandra masih sebesar itu sampai terlihat?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
Ficção GeralFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
