Suasana yang tadi menyenangkan, tiba-tiba berubah canggung saat Rajendra berdiri dan berjalan dengan cepat ke kamar. Panggilan Tante Kirana tidak menghentikan langkah Rajendra. Nara menatapi punggung Rajendra yang menjauh dengan pandangan sedih. Nara mengepalkan tangannya, sekarang pilihan ada di tangannya. Dia harus berpikir cepat.
Nara tau, jika Rajendra bersamanya maka Rajendra akan merasa sakit. Dan jika dia memutuskan meninggalkan Rajendra? Tidak, dia tidak boleh. Bahkan tujuh hari terakhir dijalani Rajendra dengan berat. Menatapi Rajendra selalu mengirim getar kesedihan ke dalam hatinya. Dan jujur saja, tujuh hari terakhir pikirannya hanya tercurah pada Rajendra. Bukannya Nara bilang akan bersikap baik pada Rajendra? Nara ingat perkataan Dokter Vero sebelum meninggalkannya berdua dengan Rajendra.
"Don't leave him." Ujar Dokter Vero singkat sambil menatapi Nara dengan serius. Nara saat itu hanya terdiam dan mengangguk. Lalu ada Dokter Ale yang berpapasan dengannya saat akan pergi CFD dan lagi-lagi dengan tujuan yang sama.
"Hey Nara. Selalu disamping Rajendra oke?" Nara saat itu juga mengangguk mengiyakan sembari tersenyum.
Dan tadi dia punya pikiran meninggalkan Rajendra? Sialan pikiran busuk! Seharusnya sekarang Nara jujur tentang hubungannya kepada Tante Kirana dan Chandra lalu datang memeluk, menenangkan Rajendra. Ya, dia harus seperti itu.
Dia pernah menginginkan ada seseorang yang mencintainya dengan sangat. Dia pernah menginginkan ada seseorang yang menyanyanginya dengan segenap hati. Lalu saat itu datang, kenapa dia malah menjadi bodoh?
Nara selalu mengutuk pada wanita yang tidak tegas, tidak punya pendirian, dan jahat. Tapi kenapa semua itu ada di dirinya sekarang? Jika benar dia merealisasikan pikirannya, bukannya Nara jadi sangat jahat? Menjadi wanita-wanita yang tidak disukainya.
"Nara," panggil Tante Kirana setelah keheningan yang mencekam. "Kamu pulang diantar Chandra ya?" Tanya Tante Kirana pada Nara.
Nara menggeleng dan tersenyum. Ya, dia sudah memiliki keputusan. Menjadi salah satu wanita jahat tidak pernah ada di bayangannya. Dan dia sadar, cintanya memang belum sebesar Rajendra dan mungkin tidak akan pernah sama besar menyadari betapa kuat perasaan Rajendra. Yang Nara tahu, dia menyayangi Rajendra dengan segenap hatinya dan tidak suka saat Rajendra sedih, apalagi karena dia.
"Tante Kirana sama Chandra, ada yang mau Nara omongin. Semuanya kalau mau dengar juga gak papa, ah sepertinya malah lebih baik didengar semuanya," Nara memandang sekelilingnya dengan senyuman, lalu senyumannya bertambah lebar saat menatap Pak Hirman yang tadi menunduk saja saat para pekerja membicarakan tentangnya dengan Chandra. Pak Hirman jelas tahu.
"Bicara apa Nara sayang?" Tanya Kirana sambil tersenyum lembut dan hangat.
"Kenapa lo kelihat santai sekaligus serius gitu? Wah pasti ini bom," Chandra tertawa pelan. Nara tidak menjawab karena pandangan Nara menatap lekat pada Kirana.
Nara menghela nafas sebentar lalu berkata dengan tegas, "Nara sama Mas Rajen punya komitmen-" Nara mengawali katanya, dia mendengar kesiapan dari berbagai arah begitupula pada Chandra namun Nara tetap tenang menatap Kirana yang tersenyum lembut. "Komitmen untuk saling mencintai, Mas Rajen cinta Nara dan Nara sebaliknya. Maaf Tante karena baru berani ngomong, Nara mau minta izin buat bahagiain Mas Rajen, boleh?"
"Nar, lo?" Chandra menggelengkan kepalanya namun Nara bahkan tidak menatap Chandra sedetik pun.
Kirana tersenyum lembut sembari mengelus tangan Nara. "Bahagiain Adam ya? Tante amati akhir-akhir ini memang Adam kelihatan bahagia, jadi karena Nara?" Tanya Kirana.
Nara mengangguk, "Iya, tapi Nara juga sering buat Mas Rajen sedih karena aku nakal. Maaf ya tante," adu Nara. Dia memang jahat kadang kali pada Rajendra, dia sadar namun terlalu tidak becus untuk tidak mengulanginya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall In Love
General FictionFall in love Love And become a lovers Pernahkah kalian mendengar kalimat ini? Love enters a man through his eyes, woman through her ears, kutipan oleh Polish Proverb. Lalu, pernahkah kalian jatuh cinta? Jika iya, apa yang pertama kali membuatmu jatu...
