EP. 13 Titik Jenuh

1.6K 71 4
                                        

Nara terdiam di bangku taman, menatapi banyak anak kecil yang berlarian dengan temannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Nara terdiam di bangku taman, menatapi banyak anak kecil yang berlarian dengan temannya. Dia tersenyum, tapi kembali merenggut mengingat mengapa dia bisa sampai di sini.

Sudah bertahun berlalu hubungannya dengan Rajendra, sudah banyak semester dilaluinya dalam perkuliahan. Pertemuan mereka masih sesering dulu, Rajendra masih dengan effort besarnya, Rajendra masih mencintainya seperti dulu bahkan menurut Nara kian bertambah. Tapi Nara?

Jujur saja dia sedang di fase bosan, Rajendra terlalu manis. Memang hubungan jika banyak bertengkar akan jadi hambar begitupun hubungan minim pertengkaran, hambar juga.

"Lo ngapain deh?"

Nara menoleh pada Chandra, yang entah kenapa tiba-tiba ingin sekali Nara hubungi. Entahlah, kini dia sedang tidak ingin berhubungan dengan Rajendra dulu. Walaupun dia tahu, sekarang handphonennya sudah ramai dengan pesan dan telepon Rajendra namun Nara ingin diam sejenak.

"Temenin," kata Nara. Dia tau, dia seperti bermain api tapi Nara bisa apalagi saat merasa jenuh seperti ini?

Chandra menaikkan sebelah alisnya heran, "Tumben? Kak Adam masih sering cemburu, malas ah!" Walaupun menolak, namun Chandra tetap mendudukkan dirinya di sebelah Nara.

Mereka lalu diam, menatap objek yang sama. Nara menghela napasnya, "Kayanya gue bosen sama Mas Rajen deh," katanya dengan pelan namun Chandra yang mendengarnya dengan jelas.

Kontan mata Chandra melotot tidak percaya mendengar perkataan Nara. "Wah, gak mau gue Nar," Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berdiri dari duduknya. "Ayo pulang aja terus tidur!" Tanpa basa-basi Chandra menarik tangan Nara.

Nara menurut saja, diam saat Chandra memakaian helmnya pada kepala Nara dan memaksanya duduk di boncengan belakang. Duh, kenapa duduk diboncengan Chandra terasa menyenangkan ya? Lebih menyenangkan daripada duduk di mobil Ra-STOP!

Nara menggelengkan kepalanya sambil menggetok keningnya dengan tangan. Tidak bisa dibiarkan pikiran-pikiran itu, sial!

Perjalanan hanya membutuhkan waktu sebentar karena mereka turun di rumah Kirana. Chandra segera menjauh dan berbisik, "Gue gak ikut-ikut ya, jangan macam-macam lo Nar," peringatnya.

Nara mengangguk saja, ya memang mau bagaimana lagi?

Saat Nara akan membuka pintu rumah dengan Chandra di belakangnya, Nara dikejutkan dengan kehadiran Rajendra yang membukakan pintu. Rajendra berpakaian seperti tadi pagi, tampak tampan seperti biasanya namun lagi, Nara benar-benar flat.

Rajendra memeluk Nara, mengusapi rambutnya. "Mas telepon gak dijawab, kirim pesan gak dibalas juga. Nara kemana aja?" Tanyanya.

Nara menjawab singkat, "Handphoneku lowbat. Maaf," katanya.

Rajendra mengangguk walaupun tahu ada yang salah, bukan hanya hari ini namun sudah beberapa hari belakang Nara tampak enggan di sekitarnya. Rajendra memberi kode agar Chandra masuk ke dalam yang segera Chandra turuti. Nara melirik Chandra, sungguh matanya refleks saja.

Fall In LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang