Saat aisyah dan azzam memasukki gerbang pesantren banyak pasang mata yang melihat mereka berdua dengan tatapan penasaran, lebih tepatnya tatapan itu mengarah kepada aisyah. Apa lagi kalo bukan penampilannya yang awut-awutan, di tambah dengan mata sembab juga wajah pucat.
Sepanjang perjalanan pasti saja ada yang menegur, dari salam hingga sapaan. Hingga saat mereka berdua sampai di depan rumah pak kiayi.
"Assalammu'alaikum " ujar azzam, yang membuat si empunya buru-buru keluar
"Waalaikumsallam, azzam alhamdulillah kamu sudah kembali nak. Lalu dimana aisyah ? " ujar umi hawatir
"Itu umi " ujar azzam sembari membalikkan badannya tapi tiba-tiba
Bruuk.
-------------------------------
Aisyah pov
Akhirnya sampai juga " batin aisyah saat sudah memasukki gerbang pesantren
Gue masih heran dan bertanya-tanya siapa lelaki yang ada di hadapan gue sekarang, kenapa gue merasa pernah bertemu sebelumnya dengan dia. Tapi dimana, dan siapa " segala pertanyaan itu muncul di kepala gue hingga saat ada seorang santri yang mengucapkan salam membuyarkan lamunan gue.
Gue baru sadar, kalo sedari tadi itu gue di perhatiin mulu, dan juga gue heran setiap kali ada santri yang lewat pasti menyalami lelaki yang ada di hadapan gue ini.
Saking asiknya berkecamuk dengan pikiran gue, tanpa sadar ternyata gue udah ada di depan rumah pak kiayi.
Dan sialnya gue udah lemes banget, rasa pusing yang menjalar di kepala gue mulai menjadi, bahkan untuk sekedar melangkahkan kaki gue pun rasanya sulit dan lemes. Itulah yang gue rasain sekarang hingga
Gelap gue pun pingsan dan gk tau apa yang terjadi
---------------------------------
Shazzam pov
Saya memang sudah merasa ada yang tidak beres dengan aisyah.
Sempat beberapa kali saya lihat dia memijit pelipisnya di tambah raut wajahnya yang sangat pucat menambah ke khwatiran saya.
Hingga saat sudah sampai di depan pintu rumah abi, dan umi menanyakannya. Sayapun langsung berbalik untuk memberitahu umi
Tapi, dia terlihat sangat lemas dan bruk tiba-tiba dia pingsan. Buru-buru saya, umi, nayla dan abi langsung menghampirinya
Dan umi pun menyuruh saya untuk menggendongnya ke kamar nayla.
Saat saya sudah merebahkan tubuhnya ke atas ranjang nayla saya lihat lagi wajahnya yang pucat pasi itu. Sebenarnya ada apa dengannya " kalimat itulah yang menjadi pertanyaan saya
Tapi saat saya ingin melangkah pergi, saya merasa ada yang mencekal tangan saya dan saat saya lihat ternyata itu tangan aisyah. Dan dia bergumam
"Kak ari, jangan pergi " dengan keadaan masih memejamkan matanya
Saya semakin yakin jika dialah gadia cilik itu.
Sayapun berusaha melepaskan tangannya dan bicara
"Tenang ais, saya disini " dan langsung terlepaslah cekalan tangannya itu
Lalu saya langsung melangkah keluar karna takut menimbulkan fitnah.
---------------------–---
Author pov
Saat azzam sudah keluar dari kamar nayla dia langsung di panggil oleh uminya untuk bicara
"Zam, kemari nak " ujar umi
"Ada apa umi? " kata azzam
"Kamu menemukan dia dimana nak, kenapa lama sekali umi jadi khawatir " ujar umi cemas
"Azzam menemukan dia di luar pesantren umi, tepatnya di atas jembatan di belokkan depan umi " jelas azzam
"Masya allah, dia kenapa bisa ada disitu nak ? " tanya umi lagi
"Azzam juga tidak tau umi " ujar azzam
"Yasudah, lebih baik sekarang kita berdoa saja, agar nak aisyah tidak apa apa " tegas abi
"Assalammu'alaikum umi, abi. Ini mbak nisa nya " ujar nayla yang baru datang karna langsung menjemput dokter yang ada di peaantren ini
"Yasudah, kamu antarkan saja ke kamar kamu, agar nak aisyah bisa cepat di periksa " titah abi
"Baik abi. Mari mbak " ujar nayla dan langsung membawa dokter itu untuk memeriksa aisyah.
Beberapa menit berlalu, kini dokter nisa pun sudah selesai memeriksa aisyah.
Saat dia baru saja keluar kamar tiba-tiba saja azzam langsung menghampirinya dan membrondongi dengan pertanyaan.
"Gimana mbak, dia gak papa kan? Kenapa dia pingsan mbak ? Sebenarnya apa yang terjadi? " ujar azzam dengan nada cemas
Sedangkan umi dan nayla saling berpandangan dan tersenyum penuh arti saat melihat azzam sepanik itu.
"Kalian tidak perlu cemas, dia hanya kelelahan saja. Juga asam lambungnya yang kambuh lagi, dan dehidrasi ringan. Saya sarankan agar dia banyak istirahat, dan jangan sampai dia telat makan lagi." Ujar mbak nisa menjelaskan
"Alhamdulillah " ujar mereka serempak
"Baiklah, saya permisi dulu, dan tolong saat dia sadar nanti berikan obat ini dan langsung makan " titah mbk nisa seraya memberikan 1 botol obat
"Terima kasih mbak nis " ujar nayla
"Samaa-sama. Kalo begitu saya pamit dulu, permisi. Assalammu'alaikum "
"Waalaikumsallam "
---------------------------------
Aisyah pov
Gue mulai mengerjapkan mata gue dan mulai menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina mata gue.
Kayanya gue kenal tempat ini, ahh ini kan kamar nayla " batin gue
Kriieet
Suara pintu dibuka itu langsung mengalihkan pandangan gue
"Assalammu'alaikum Ka', alhamdulillah kaka udah sadar " ujar nayla yang membawa sepiring makanan dan minum di atas nampan
"Waalaikumsallam " jawab gue dengan nada serak
Gue pun mencoba untuk duduk tapi rasanya lemes banget, tapi untunglah ada si nayla yang dengan sigap membantu gue.
"Nih Ka', minum obatnya dulu. Abis itu makan ya " ujar nayla seraya menyodorkan obat dan air putih ke gue.
Setelah menghabiskan makan, gue disuruh untuk istirahat lagi sama dia, tapi hey apa dia mau bikin gue gendut. Abis makan disuruh tidur what the hill ? Batin gue
"Yaudah Ka', sekarang kaka istirahat lagi aja, aku mau keluar dulu " ujar nayla
"Ehh nay tunggu." Kata gue
"Ada apa ka? " tanya nayla
"Gue minjem mukena dong " jawab gue
"Mukena ? Buat apaan ? " Oh My God pertanyaan macam apa itu
"Buat gue makan. Ya buat solat lah, pake ditanya lagi " ujar gue penuh penekanan
"Ohh.. hehe maaf ka, aku kira buat apa. Sebentar ya " ujarnya seraya menggaruk kepalanya yang tertutup hijab
"Jangan lo pikir karna penampilan gue yang kaya preman ini trus gue gak bisa solat gitu ? Inget ya nay. Meskipun penampilan dan sikap gue kaya preman. Tapi gue juga masih punya iman," jelas gue
"Alhamdulillah. Ini Ka' mukenanya, yaudah aku keluar dulu ya " ujarnya seraya menyodorkan mukenanya ke gue
Dan setelah mengucap salam dia pun langsung pergi membawa nampan dan piring kotor tadi.
---------------------------
Author pov
Tanpa aisyah dan nayla sadari sedari tadi ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi keduanya dengan menyunggingkan senyum.
Dan sepasang mata itupun tak menyadari bahwa kelakuannya itupun di perhatikan oleh dua pasang mata yang tersenyum penuh arti.
Yaa siapa lagi kalau bukan azzam yang mengintip di balik pintu.
Dan tanpa dia sadari bahwa sedari tadi umi dan abinya itu memperhatikannya seraya terkikik geli
-----------------------------------------
Hay readers gimana kabarnya ?
Next part..
KAMU SEDANG MEMBACA
Dendam Dan Cinta
Não Ficção"Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan, selalu percaya dan yakinlah kepada Allah." ~Aisyah putri salsabila. "Terima kasih untuk kesemp...
