"Jangan jadi seperti mama, Ki." Revan mengelus pelan kepala adiknya.
Bukannya Revan tidak tau kelakuan mama tirinya di luaran sana. Wanita itu menghamburkan uang papanya untuk brondong-brondong tidak jelas. Dan kabarnya, Kiera sebenarnya bukan anak papanya. Kemungkinan Kiera adalah anak hasil perselingkuhan mama tirinya dengan pria lain. Tapi Revan tetap menyayangi Kiera seperti adik kandungnya sendiri.
"Kalau kamu tidak mau berubah, terpaksa Kakak cabut semua fasilitas kamu."
"Kakak nggak bisa melakukan itu! Aku juga berhak atas harta warisan papa." Kiera berteriak dengan berani.
Revan hanya tersenyum miris. "Asal kamu tau, Ki. Tidak ada nama kamu dalam daftar ahli waris papa. Selama ini aku membiayai kamu atas dasar belas kasihan aku. Memang, papa menitipkan kamu, tapi sayangnya semua harta papa adalah atas nama aku."
"Bohong! Papa nggak mungkin seperti itu!" Kiera menolak mempercayai ucapan Revan.
"Tanyakan saja kepada Om Paul."
Paul adalah notaris kepercayaan papa Revan. Yang bertugas menyampaikan wasiat papa Revan.
"Kamu nggak ada pilihan. Selain nurut sama aku. Atau ... kamu akan aku kirim ke pesantren." ancam Revan.
"Kakak udah gila?" maki Kiera dengan geram.
"Silakan pilih, kamu ikut aturan aku, atau kamu masuk pesantren."
Kiera merasa geram karena kedua pilihan yang ditawarkan Revan tidak ada yang menyenangkan. Kiera tidak suka dilarang.
"Mulai sekarang, kamu tidak boleh pergi ke club lagi."
"Nggak! Aku bisa setres di rumah, Kak. Apalagi di rumah ada nenek yang cerewetnya minta ampun." Kiera masih berani membantah, membuat Revan geram.
Akhirnya Revan mengantarkan Kiera pulang ke rumah neneknya. Mutia kaget melihat Revan tiba-tiba datang tanpa membawa istrinya.
"Mana istri kamu, Van?" tanya Mutia curiga. "Jangan-jangan kalian bertengkar?"
"Dia ada di rumah, Nek." Revan menjawab singkat, sambil melirik Kiera yang bergegas masuk ke kamarnya.
"Kiera! Semalam kamu tidak pulang. Dari mana saja kamu?" Mutia menahan lengan Kiera, bersiap memarahinya.
"Dia semalam tidur di rumah Revan, Nek." Revan menjelaskan.
Kali ini Mutia melepaskan Kiera. Gadis itu berjalan masuk ke kamarnya dengan muka ditekuk, setelah itu membanting pintu.
"Ibu dan anak sama saja." Keluh Mutia. "Masa dia bilang mau dibelikan apartemen sendiri, apa jadinya kalau dia tinggal sendiri? Makin bebas aja hidupnya."
Revan menghela nafas berat. Kasihan juga neneknya. Sudah tua masih memikirkan masalah seperti ini.
"Dulu kamu juga bandel. Tapi kamu masih ngerti tanggung jawab. Lulus kuliah tepat waktu. Pegang perusahaan papamu. Tapi si Kiera itu ... sudahlah, Nenek pusing mikirin dia." Mutia memijat pelipisnya. Revan menuntun wanita tua itu untuk duduk di sofa.
"Van, kamu nggak punya teman yang masih bujang?" tanya Mutia lagi.
Revan mengerutkan dahi. "Buat apa, Nek?"
"Sebaiknya kita nikahkan saja si Kiera, biar aman."
Tiba-tiba Kiera keluar kamar, dengan marah gadis itu menghampiri neneknya. "Nenek nggak bisa seenaknya ngatur hidupku!"
"Lihat, betapa kurang ajarnya dia." Mutia mengadu pada Revan.
"Kiera! Jaga bicara kamu. Duduk!" Revan menatap tajam ke arah Kiera. Bukannya mematuhi perintah Revan, gadis itu malah semakin menjadi.
"Aku sudah bosan diatur sana-sini. Aku mau pergi dari sini." Kiera mengancam.
"Pergi saja. Nggak ada yang larang." Tantang Mutia.
"Nenek ngusir aku?"
"Kamu sendiri 'kan yang mau?" Mutia menjawab santai.
Semakin ditantang, Kiera semakin menjadi. "Baik, malam ini juga aku akan angkat kaki dari rumah ini. Tapi, sebelum itu berikan dulu hakku."
"Hak apa maksudmu?" tanya Mutia.
"Warisan dari papa." Kiera menjawab dengan lancang. Hampir saja Revan menampar mulutnya.
"Jaga bicaramu, Ki!" Revan sangat marah melihat sikap kurabg ajar Kiera kepada neneknya, pria itu sampai bangkit dari duduknya.
"Kamu bukan anak kandung papamu." Mutia berkata dengan tiba-tiba, membuat wajah Revan pucat, begitu juga Kiera.
"Nek, jangan diteruskan ...." cegah Revan.
***
