Kiera mengajak Steven pergi ke toko perhiasan paling mewah di kotanya. Hanya artis, istri pejabat dan pengusaha saja yang belanja di sana.
"Yakin mau beli di sini, Ki?" Steven bertanya ragu. Dilihat dari tampilan gedungnya saja sudah mengintimidasi jiwa kemiskinan.
"Iya. Kenapa?"
"Kita cari di toko emas lain ajalah. Yang di depan pasar Kemis."
"Ih, nggak mau belanja di situ. Nggak mau samaan kayak ibuk-ibuk menengah ke bawah." Kiera berkata dengan sombongnya.
"Yang penting 'kan emas."
"Modelnya lain, norak-norak! Pokoknya mau belanja di sini aja!" Kiera memaksa sambil menarik-narik tangan Steven. Mau tidak mau Steven menurut.
"Perasaan gue nggak enak, nih. Tiba-tiba ginjal gue bergetar."
Benar saja. Di dalam toko....
"Mbak, saya mau cincin yang paling besar, yang matanya banyak, pokoknya yang paling mahal."
Dengan senang hati pramuniaga toko mencarikan pesanan Kiera.
"Gila lo, Ki. Mau saingan sama Thanos apa gimana? Cincin besar-besar buat apa? Entar berat tangan lo bawanya. Gue kasihan sama lo." Steven kaget mendengar permintaan Kiera.
"Gue suka yang gede!" Kiera bersikeras.
"Bahaya kalau lo bawa jalan, bisa-bisa tangan lo dibacok begal." Steven mencoba membujuk Kiera.
Pramuniaga menunjukkan sebuah cincin yang sesuai kemauan Kiera. Cincin bermata besar berwarna hijau, mirip pete.
Kiera segera mencobanya dengan antusias. Cincin itu terlihat pantas-pantas saja dipakai Kiera. Bukan yang norak.
"Itu harganya berapa, Mbak?" tanya Steven.
"Kebetulan ini lagi diskon, Pak." Pramuniaga tersenyum ramah.
"Syukurlah." Steven mengelus dada, lega. Kiera hanya mencibir dari samping.
Tapi sayangnya kelegaan itu tidak bertahan lama....
"Tiga ratus juta saja, Pak," kata pramuniaga sambil tersenyum.
"Hah? Saja?" Steven memekik kaget. Buru-buru ia meraih tangan Kiera yang sedang asyik mencoba cincin.
"Lepas! Buruan!"
"Ih, kenapa sih? Orang bagus juga!" Kiera menolak melepaskan.
"Nurut, Ki. Gue nggak mau bayar. Kalau lo ngotot mau yang itu, bayar sendiri."
Kiera cemberut, kemudian melepaskan cincin bermata besar itu. "Gitu aja nggak boleh."
"Sadar, Ki. Calon suami lo itu cuma budak korporat biasa. Jangan samain kayak Revan kakak lo itu. Duit tiga ratus juta itu nggak sedikit. Bisa buat pondasi rumah."
Kiera merengut sambil keluar toko, malu karena diperhatikan oleh mbak-mbak pramuniaga.
"Mau kemana?" Steven berusaha mengejar Kiera.
"Pulang!" Kiera ngambek dan langsung masuk mobil.
"Nggak jadi beli cincin?"
"Nggak usah! Tiga ratus juta 'kan nggak sedikit?" Kiera menyindir Steven. "Kasih aja cincin hadiah chiki Chuba!"
Kiera memalingkan muka, membuat Steven bingung. Pria itu membungkuk di dekat jendela untuk membujuk Kiera.
"Belum apa-apa udah ngambek aja. Ini kita jadi kawin nggak, sih?"
"Terserah."
"Kok terserah? Yang ngajak kawin duluan siapa? Dari awal perasaan gue udah nggak enak. Gini, nih, jadinya. Perkara cincin aja udah berantem. Belum perkara baju, ketering, gedung. Ntar kalau udah kawin perkara apa lagi? Token, gas, galon, iuran sampah? Capek nggak, sih, kayak gitu terus?"
"Capek ya mending gak usah diterusin!"
"Sekata-kata lo, ya. Gue udah nyuruh mama pesen roti buaya, buat dibawa ke rumah lo. Belum lagi bolu sama kue wajik."
"Ya udah, sih. Kasih aja tetangga." Kiera berkata santai.
"Gue nggak suka gaya lo, ya, Ki. Bukan masalah kue. Itu lo nggak mikir, gimana perasaan orang tua gue? Keluarga besar gue di Sumatera sana udah dikabarin, udah pesen seragam kembaran juga, warna sage!"
"Bodoh amat! Gue nggak mau nikah sama orang pelit!"
"Keluar! Kita harus bicara!"
Steven menarik Kiera keluar, kemudian mengajak Kiera duduk di kafe. Kiera menurut, tapi wajahnya sangat masam.
"Sekali lagi gue tanya. Bener, lo mau batalin semua?"
Kiera diam, hanya menatap ragu ke arah Steven. "Makanya, jadi calon suami jangan pelit."
"Pelit apa maksud lo? Definisi pelit itu yang kayak gimana? Kalau gue punya duit banyak, tapi gue sayang ngasih ke lo, itu baru namanya pelit. Tapi masalahnya gue nggak ada uang sebanyak itu, Ki. Lo mau gue jadi begal?"
Kiera terdiam mendengar pertanyaan Steven. Gadis itu hanya menghela nafas sambil memalingkan muka.
"Kan lo tau, gue ini orang biasa aja. Kalau lo maunya nyari suami yang kaya, yang royal, bukan gue orangnya. Terus ngapain lo ngajak gue nikah?"
Keira masih diam, membuat Steven kesal.
"Jawab, Ki. Jangan diem terus kayak Limbad. Gue butuh kepastian. Biar nanti gue suruh mama batalin pesanan kue wajik sama roti buayanya."
Kiera tampak bimbang, cukup lama dia berpikir.
"Ya udah, sih. Terusin aja. Udah terlanjur pesen kue wajik."
Steven menghela nafas sambil menggenggeleng pelan, takjub dengan sikap calon istrinya yang masih balita ini.
"Hm, plin-plan."
***
Paling bener, sebelum nikah ngebegal dulu nggak, sih? Namanya juga ikhtiar 😁
